— Risiko fraud menjadi tantangan mendesak bagi industri keuangan Indonesia, terutama bank dan perusahaan fintech. Transaksi digital yang kian cepat, lintas kanal, dan berlangsung secara real time membuka celah baru yang dimanfaatkan pelaku fraud.

Modus penipuan kini berkembang jauh melampaui transaksi tidak sah. Bentuknya mencakup social engineering, account takeover, scam, identity fraud, application fraud, payment fraud, penyalahgunaan akses internal, hingga cyber-enabled fraud.

Perlunya Pendekatan Proaktif

Dalam kondisi tersebut, pengelolaan fraud yang mengandalkan kontrol manual atau pemeriksaan pasca-insiden dinilai tidak memadai. Lembaga keuangan membutuhkan sistem yang mampu mendeteksi sinyal risiko sejak dini, menghubungkan data dari berbagai sumber, serta memprioritaskan peringatan untuk mendukung pengambilan keputusan yang cepat dan terukur.

Pada forum bertajuk “From Compliance to Intelligence in the Era of Digital Banking Risk”, penyelenggara mempertemukan pemimpin dan praktisi dari bidang risk, fraud, compliance, IT security, digital banking, operasi, dan teknologi untuk membahas kebutuhan tersebut.

Fraud Sebagai Risiko Menyeluruh

Aribowo, Indonesian FSI & Regulatory Practitioner, menekankan bahwa fraud harus dipandang sebagai risiko yang lebih luas karena dapat memengaruhi tata kelola dan kepercayaan publik terhadap industri keuangan.

“Fraud sangat berkaitan dengan kepercayaan publik, perlindungan konsumen, tata kelola, dan ketahanan lembaga keuangan. Karena itu, bank dan perusahaan fintech perlu memastikan strategi anti-fraud mereka tidak hanya memenuhi aspek kepatuhan, tetapi juga mencakup proses yang jelas untuk deteksi, eskalasi, investigasi, dan tindak lanjut,”

Pernyataan tersebut disampaikan pada Jumat (3/7/2026).

Tantangan Bagi Perbankan

Dari perspektif perbankan, Bayu Hasdianto, banking fraud risk technology practitioner, mengatakan bahwa kompleksitas fraud meningkat seiring transaksi yang cepat dan penggunaan berbagai kanal.

“Karena itu, fraud management system perlu mampu membaca risiko dari berbagai sumber, termasuk transaksi, perilaku nasabah, perangkat, dan kanal yang digunakan. Semakin cepat sinyal risiko dapat dideteksi, semakin besar peluang bagi bank untuk mencegah kerugian dan menjaga pengalaman nasabah tetap aman,”

Peran Teknologi dan AI

Madhusudhan Ramakrishnan, deputy vice president, business development, product, and partnerships M2P Fintech, menjelaskan bahwa teknologi pencegahan fraud harus membantu lembaga keuangan mengambil keputusan yang lebih cepat dan terukur.

“AI dapat memperkuat proses ini, mulai dari deteksi anomali dan penilaian risiko hingga prioritisasi respons dan pembelajaran dari kasus sebelumnya. Dengan sistem yang terintegrasi, fraud management dapat menjadi lebih proaktif, akurat, dan relevan dengan kebutuhan bisnis,”

Menurutnya, sistem ideal tidak sekadar menghasilkan peringatan, tetapi juga memberikan konteks di balik setiap risiko sehingga tim dapat menindaklanjuti secara efektif.

Menjaga Keseimbangan Keamanan dan Pengalaman Nasabah

Penguatan sistem anti-fraud disebutkan penting untuk menjaga keseimbangan antara keamanan dan kenyamanan nasabah. Deteksi yang lebih presisi memungkinkan transaksi sah tetap berjalan lancar, sementara pemeriksaan tambahan hanya diterapkan ketika diperlukan.

Dengan pendekatan yang menggabungkan fraud management system, AI, dan peningkatan keamanan siber, industri diharapkan mampu merespons ancaman fraud secara lebih proaktif tanpa mengorbankan pengalaman pengguna.