Warren Buffett Soroti Belanja AI dan Bagikan Strategi Investasi

Smallest Font
Largest Font

Investor legendaris sekaligus pimpinan Berkshire Hathaway, Warren Buffett, mengkritik pengeluaran fantastis raksasa teknologi untuk infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang disamakannya dengan gelembung spekulasi rel kereta api abad ke-19. Di sisi lain, sosok yang genap berusia 95 tahun tersebut membagikan filosofi investasi bernilai serta menegaskan komitmen filantropinya.

Buffett mencermati lonjakan alokasi dana dari empat raksasa teknologi, yaitu Meta, Microsoft, Amazon, dan Alphabet, yang diproyeksikan menyentuh 750 miliar dolar AS sepanjang 2026 dan berpotensi menembus 4,5 triliun dolar AS pada 2030. Nilai investasi komputasi tersebut melampaui gabungan anggaran Proyek Apollo, Stasiun Luar Angkasa Internasional, dan Proyek Manhattan.

Buffett menilai skala pengeluaran besar seperti di sektor AI saat ini belum pernah terjadi sepanjang era perangkat lunak komputer.

"Bersama Google dan semua pesaingnya sekarang, mereka mengeluarkannya ratusan miliar dolar. Itu uang nyata... Uang sebanyak itu bahkan tidak dimasukkan ke dalam bisnis rel kereta api.

Dan itulah permainan yang mereka mainkan sekarang. Mereka tidak memainkan permainan itu dengan perangkat lunak komputer," kata Warren Buffett, Investor Legendaris.

Guna menopang pergeseran infrastruktur AI tersebut, Berkshire Hathaway tercatat membeli 17,85 juta saham Alphabet pada November 2025 dan menambah investasi sebesar 10 miliar dolar AS pada Juni 2026 karena menilai arus kas perusahaan itu sangat kuat. Cadangan kas Berkshire Hathaway sendiri mendekati 400 miliar dolar AS ketika Indikator Buffett menembus 230 persen, melewati puncak gelembung dot-com tahun 2000 yang sebesar 140 persen.

Buffett senantiasa menekankan batas kapasitas analisis dan penghitungan nilai intrinsik demi menekan risiko kerugian permanen.

"Aturan pertama adalah jangan pernah kehilangan uang. Aturan kedua, jangan pernah melupakan aturan pertama," ujar Warren Buffett, Investor Legendaris.

Kesadaran akan batasan diri menjadi kunci utama Buffett dalam mengelola portofolio investasinya.

"Risiko muncul ketika Anda tidak mengetahui apa yang sedang Anda lakukan," kata Warren Buffett, Investor Legendaris.

Margin pengaman menjadi pembeda penting antara estimasi nilai intrinsik dan fluktuasi harga bursa.

"Harga adalah apa yang Anda bayar, sedangkan nilai adalah apa yang Anda peroleh," ujar Warren Buffett, Investor Legendaris.

Prinsip value investing ini menuntun Berkshire Hathaway untuk memegang aset dalam jangka panjang.

"Periode kepemilikan favorit kami adalah selamanya," kata Warren Buffett, Investor Legendaris.

Kekuatan bisnis yang dilindungi keunggulan kompetitif menjadi kriteria utama sebelum keputusan investasi diambil.

"Dalam bisnis, saya mencari kastel ekonomi yang dilindungi parit pertahanan yang tidak dapat ditembus," ujar Warren Buffett, Investor Legendaris.

Ketersediaan dana tunai memberi fleksibilitas tinggi saat bursa saham mengalami koreksi tajam.

"Kas yang dipadukan dengan keberanian saat krisis adalah sesuatu yang tak ternilai," kata Warren Buffett, Investor Legendaris.

Pengendalian emosi serta kesabaran dinilai menjadi faktor pembeda dalam keberhasilan finansial.

"Pasar saham adalah alat untuk memindahkan uang dari orang yang tidak sabar kepada mereka yang sabar," ujar Warren Buffett, Investor Legendaris.

Buffett juga mengingatkan bahaya pemanfaatan utang secara berlebihan dalam memburu keuntungan.

"Jangan pernah mempertaruhkan apa yang Anda miliki dan butuhkan demi memperoleh sesuatu yang tidak Anda miliki dan sebenarnya tidak Anda perlukan," kata Warren Buffett, Investor Legendaris.

Bagi pemula, Buffett mengajarkan golden rule anti-FOMO untuk menahan emosi euforia maupun kepanikan pasar.

"Takutlah ketika orang lain serakah, dan serakahlah ketika orang lain takut," kata Warren Buffett, Pimpinan Berkshire Hathaway.

Bagi investor ritel biasa, Buffett menyarankan strategi 90/10 dengan mengalokasikan 90 persen dana pada reksa dana indeks S&P 500 berbiaya rendah dan 10 persen pada obligasi pemerintah jangka pendek.

"Investor biasa tidak butuh keahlian rumit itu. Secara keseluruhan, bisnis di AS telah berkinerja sangat baik dari waktu ke waktu dan akan terus begitu," ujar Warren Buffett, Investor Legendaris.

Selain aspek finansial, integritas menjadi kriteria krusial saat menyaring sumber daya manusia dalam organisasi.

"Kami mencari tiga hal saat merekrut orang (yaitu) kecerdasan, inisiatif atau energi, dan integritas. Jika mereka tidak memiliki faktor yang terakhir (integritas), dua faktor pertama justru akan menghancurkan Anda. Sebab, jika Anda mempekerjakan orang tanpa integritas, Anda tentu lebih menginginkan mereka tidak kompeten," kata Warren Buffett, Investor Legendaris.

Pandangan mengenai tingginya kebutuhan sumber daya pemrosesan teknologi AI turut diamini oleh pelaku industri.

"Juga dibutuhkan banyak energi untuk melatih seorang manusia," ujar Sam Altman, Chief Executive Officer OpenAI.

Kesuksesan Buffett tidak lepas dari perjalanan panjang yang dimulainya sejak membeli saham pertama di usia 11 tahun pada 1942. Ia mengenang pembelian saham Cities Service seharga 38 dolar AS per lembar di tengah suasana Perang Dunia II.

Buffett mengkalkulasi potensi pertumbuhan dana jika sejak awal ditempatkan pada indeks pasar.

"Jika saya menginvestasikan 114 dolar AS itu ke S&P 500 pada waktu itu dan menginvestasikan kembali dividennya, bayangkan berapa nilainya hari ini. Jawabannya sekitar 400.000 dolar AS. Itulah Amerika," ungkap Warren Buffett, Pimpinan Berkshire Hathaway.

Buffett yang kini menduduki peringkat ke-10 orang terkaya dunia versi Forbes dengan kekayaan US$ 145,1 miliar menganggap keberhasilannya juga didorong faktor keberuntungan latar belakang keluarga.

"Jika ayah saya seorang tukang ledeng, saya tidak akan memiliki keuntungan yang sama seperti yang saya miliki. Jadi saya sangat beruntung. Dan kemudian, seiring berjalannya hidup, saya telah melihat betapa tidak beruntungnya beberapa orang," ungkap Warren Buffett, Pimpinan Berkshire Hathaway.

Ia bersyukur masih mampu menjaga ketajaman berpikir di usianya yang telah lanjut.

"Saya mulai kehilangan akal sehat saat ini. Saya mengumpulkan akal sehat lebih lama dari yang seharusnya. Dan itu hanya masalah keberuntungan," katanya, Pimpinan Berkshire Hathaway.

Setelah mengumumkan mundur dari posisi CEO Berkshire Hathaway pada akhir 2025, Buffett berencana melepas seluruh sisa kepemilikan sahamnya paling lambat 31 Desember 2034. Saham tersebut akan didonasikan ke Susan Thompson Buffett Foundation dan tiga yayasan lain yang dikelola oleh anak-anaknya.

"Tentu saja, kematian tidak dapat diprediksi, tetapi sisa saham saya akan disumbangkan ke empat yayasan dengan satu atau lain cara paling lambat 31 Desember 2034," kata Warren Buffett, Pimpinan Berkshire Hathaway.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed