— TikTok mengonfirmasi telah melakukan penyesuaian organisasi riset dan pengembangan (R&D) yang berdampak pada pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan Tokopedia. Perusahaan menyatakan langkah ini bagian dari strategi untuk menyelaraskan fungsi R&D dengan fokus pertumbuhan jangka panjang.

Dalam keterangan resmi, juru bicara TikTok menyampaikan penyesuaian diarahkan pada area yang dianggap dapat mendorong pertumbuhan berkelanjutan bagi bisnis, komunitas kreator, dan penjual di platform.

“Kami tengah menyelaraskan organisasi riset dan pengembangan (R&D) pada ranah yang dapat mendorong pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan bagi bisnis kami, komunitas kreator, dan penjual di platform kami,” kata juru bicara tersebut.

Perusahaan mengakui keputusan ini sulit dan menyatakan fokus pada pemberian dukungan kepada karyawan yang terdampak selama masa transisi.

“Ini bukan keputusan yang mudah, dan kami fokus untuk memberikan dukungan kepada rekan-rekan kami yang terdampak selama masa transisi ini,” tambah juru bicara TikTok.

Kabar PHK Besar-Besaran

Sebelumnya beredar laporan bahwa sekitar 90% karyawan Tokopedia terdampak PHK, dengan divisi teknologi, R&D, Trust and Safety, dan keuangan disebut-sebut paling parah. Laporan tersebut menyebut ByteDance hanya mempertahankan sekitar 10% dari total karyawan untuk menangani proyek yang masih berjalan.

Sumber menyebutkan lebih dari 450 karyawan pada unit teknologi dirumahkan dalam gelombang PHK terakhir. Gelombang ini diklaim menyisakan sekitar 10 persen dari 2.500 karyawan yang ada saat Tokopedia diakuisisi.

Satu narasumber menyatakan gambaran unit teknologi sebelum dan sesudah PHK: “Dulu sebelum diambil ByteDance, [karyawan teknologi] 1.100 [orang]. Dalam batch terakhir, tech 500-an [terkena PHK]. Sekarang tech sisa 35 orang,” ujar narasumber tersebut.

Perubahan Pengelolaan Teknologi dan Masa Depan Tokopedia

Laporan menyebutkan semua teknologi di balik Tokopedia dan TikTok Shop kini dikelola oleh karyawan ByteDance di China. Disebutkan pula rencana penggantian operasional Tokopedia dengan versi ‘Tokopedia Lite’ yang sepenuhnya menggunakan sistem backend internal TikTok Shop, sementara antarmuka Tokopedia tetap dipertahankan.

TikTok menegaskan komitmen untuk terus berinvestasi dalam pengembangan Tokopedia demi meningkatkan layanan bagi pengguna dan penjual serta memberdayakan pelaku usaha lokal.

“Kami akan terus berinvestasi untuk menjadikan Tokopedia sebagai platform yang lebih baik bagi pengguna dan penjual kami, serta terus memberdayakan pelaku usaha lokal dalam membangun ekosistem e-commerce yang berkelanjutan di Indonesia,” kata juru bicara TikTok.

Namun, gelombang PHK ini telah menyebabkan sejumlah pertanyaan terkait struktur operasional dan peran karyawan lokal dalam pengelolaan platform ke depannya. TikTok menyatakan fokus pada dukungan bagi karyawan terdampak dan pada penyesuaian yang dinilai dapat mendorong pertumbuhan jangka panjang.