Susteran ALMA Klarifikasi Video Viral Siswa SD Gendong Teman Disabilitas
Pengasuh Susteran ALMA, Suster Yanti Huki, memberikan klarifikasi terkait video viral yang memperlihatkan Dion, murid kelas IV SDK Marada Mbalar, menggendong temannya yang difabel bernama Sipri saat pulang sekolah di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.
Klarifikasi tersebut disampaikan guna meluruskan narasi yang beredar di media sosial agar masyarakat tidak salah mengartikan kondisi keseharian anak asuhnya tersebut.
Suster Yanti membenarkan bahwa Sipri telah menjadi anak asuh di Susteran ALMA selama kurang lebih tujuh tahun.
"Betul, Sipri diasuh oleh kami para Suster ALMA. Sipri tinggal di susteran dan sudah sekitar tujuh tahun bersama kami," kata Suster Yanti, Suster ALMA.
Ia menjelaskan bahwa lokasi susteran hanya berjarak sekitar 200 hingga 300 meter dari bangunan sekolah.
"Biasanya saya yang menjemput Sipri menggunakan sepeda motor. Tetapi kalau saya sedang tidak berada di tempat karena tugas lain, teman-temannya yang membantu menggendongnya," ujar Suster Yanti, Suster ALMA.
Suster Yanti menegaskan bahwa aksi membantu Sipri tidak hanya dilakukan oleh Dion, melainkan ada sedikitnya tiga teman sekelas lain yang bergantian menolongnya.
"Tidak setiap hari Sipri digendong. Jadi, caption dalam video yang viral itu kurang tepat," kata Suster Yanti, Suster ALMA.
Suster Yanti mengapresiasi nilai kasih dan kebersamaan yang terlihat dalam rekaman video tersebut.
"Kalau cuplikan video itu dilihat dari sisi positif, sebenarnya mengajarkan tentang kasih, toleransi, dan tidak melakukan perundungan (no bullying)," ujar Suster Yanti, Suster ALMA.
Kendati demikian, pihak susteran meminta agar publik tidak memanfaatkan rekaman video berdurasi 29 detik itu untuk kepentingan penggalangan dana secara sepihak.
"Kami berharap video itu tidak disalahgunakan, terlebih untuk membuka donasi. Jangan sampai muncul kesan Sipri tidak diperhatikan," kata Suster Yanti, Suster ALMA.
Ia membeberkan bahwa Sipri bukan seorang anak yatim dan masih memiliki keluarga di Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya, namun kini berada dalam pendampingan khusus susteran.
Sipri sebenarnya sudah memilki kursi roda, namun fasilitas tersebut tidak dapat dipakai menuju sekolah karena kondisi akses jalan yang masih rusak serta belum teraspal.
Rekaman momen kepedulian antarsiswa itu pertama kali diabadikan oleh guru SDK Marada Mbalar, Magdalena P Haingu, saat para murid beranjak pulang sekolah pada Selasa (21/7/2026) di Desa Kakaha, Kecamatan Ngadu Ngala.
"Saya kebetulan sedang memegang telepon seluler dan melihat momen itu. Saya langsung berpikir untuk mengabadikannya ketika anak-anak keluar sekolah. Saya sama sekali tidak menyangka videonya akan viral," kata Magdalena P Haingu, Guru SDK Marada Mbalar.
Magdalena menjelaskan bahwa aksi saling membantu di antara para siswa tumbuh secara spontan tanpa adanya paksaan maupun instruksi dari pihak pengajar sekolah.
"Dua siswa itu sama-sama kelas IV. Yang disabilitas namanya Sipri, sedangkan yang menggendong bernama Dion," ujar Magdalena P Haingu, Guru SDK Marada Mbalar.
Ia menambahkan bahwa Dion bersukarela menggendong Sipri menuju tempat tinggalnya karena arah rumah mereka yang berdekatan.
"Si Sipri tinggal bersama para suster yang mengasuhnya. Dia berasal dari Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya. Sebenarnya Sipri sudah memiliki kursi roda, tetapi karena kondisi jalan menuju sekolah belum diaspal, kursi roda sulit digunakan sehingga ia lebih sering digendong," kata Magdalena P Haingu, Guru SDK Marada Mbalar.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow