Stok Rudal Patriot AS di Eropa Menipis Akibat Konflik Iran
Stok rudal pencegat Patriot milik Amerika Serikat (AS) di Eropa berada dalam kondisi menipis akibat pengalihan persediaan ke Timur Tengah selama konflik dengan Iran yang telah berlangsung hampir enam bulan.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran atas kemampuan NATO untuk menghadapi serangan rudal balistik dari Rusia terhadap negara-negara anggota aliansi tersebut, terutama karena persediaan rudal pencegat utama kini di level rendah, kata pejabat pertahanan AS dan NATO, dilansir Kompas.tv dan Kompas.id pada 28 Agustus 2026.
Rudal Patriot merupakan sistem pertahanan utama dalam mencegat serangan rudal balistik berkecepatan tinggi. Namun, militer AS di Eropa saat ini tidak memiliki cukup rudal untuk menghadapi serangan berkelanjutan, dan kemampuan menghadapi satu serangan saja sangat terbatas.
Pejabat pertahanan AS mengatakan pengalihan rudal ke Timur Tengah bertujuan memperkuat pertahanan AS dan sekutu di kawasan Teluk akibat operasi melawan Iran, yang telah menewaskan dan melukai personel militer AS melalui serangan rudal dan drone.
Ed Arnold, peneliti senior di Royal United Services Institute (RUSI) London, menyatakan perang di Iran menjadi titik balik yang menyebabkan persediaan rudal AS menyusut drastis. Penggunaan rudal di Timur Tengah berlangsung jauh lebih cepat dari perkiraan dan memperlihatkan keterbatasan rantai pasokan senjata AS.
NATO membantah stok rudal Patriot di Eropa sangat kritis. Kolonel Martin O'Donnell, juru bicara senior militer NATO, mengatakan, "Kami mampu menahan serangan dan memiliki amunisi pertahanan udara yang cukup." Pernyataan ini menegaskan NATO masih mampu melindungi wilayahnya dan membantu Ukraina.
Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, juga membantah klaim kekurangan amunisi militer AS. Ia menyatakan, "Kami memiliki semua yang diperlukan untuk menyerang pada waktu dan tempat yang dipilih Presiden." Militer AS menjalankan operasi sukses sekaligus menjaga persediaan senjata untuk melindungi personel dan kepentingan nasional.
Sementara itu, dokumen Pentagon mengungkap persediaan rudal pencegat jenis Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) telah habis digunakan dalam konflik melawan Iran dan rudal baru baru bisa tersedia pada April 2027, sebagaimana dilaporkan Republika pada 24 Agustus 2026.
Produksi rudal THAAD memakan waktu lama, dengan siklus pengadaan sekitar 6,5 tahun, dan kapasitas produksi saat ini maksimal delapan rudal per bulan. Pentagon berencana membeli 830 rudal pencegat tambahan senilai 10,5 miliar dolar AS dan meningkatkan kapasitas produksi mulai tahun fiskal 2027.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow