Sosiolog Jason Arday Meninggal Dunia Usai Terjerat Tuduhan Plagiarisme
Tekanan publik akibat tuduhan pelanggaran akademik mewarnai hari-hari terakhir mantan profesor sosiologi Universitas Cambridge, Jason Arday, sebelum ditemukan meninggal dunia di Battersea, London Selatan, pada Jumat sore, 14 Agustus 2026.
Panggilan darurat dari layanan ambulans diterima Kepolisian Metropolitan London pada pukul 15.12 waktu setempat. Pihak kepolisian mengonfirmasi bahwa kematian akademisi berusia 41 tahun tersebut diperlakukan sebagai kejadian tidak terduga, tanpa adanya indikasi unsur mencurigakan.
Tuduhan terhadap Arday pertama kali diungkap secara terbuka oleh mantan akademisi Cambridge, Nathan Cofnas, pada Juli 2026. Laporan media massa seperti The Telegraph dan The Times menyoroti dugaan kemiripan disertasi doktoral serta manipulasi data penelitian.
Pihak keluarga Arday menyampaikan rasa syok mendalam dan menilai kampanye penolakan di ruang publik memberikan beban yang sangat berat bagi almarhum.
"Kampanye informasi yang salah ini terlalu berat bagi Jason, sosok pria lembut yang selalu ingin melihat sisi terbaik dari setiap orang," kata pihak keluarga.
Sebelum mengundurkan diri dari jabatannya pekan lalu, Arday sempat mengungkapkan beratnya kecaman publik yang ia terima dalam wawancara bersama media.
"Kita sedang berbicara tentang dunia akademis di sini. Saya tidak membunuh siapa pun. Menurut saya, kekejaman yang saya alami dan pembentukan citra saya seolah-olah sebagai pembohong dan pemimpi seperti ini benar-benar tidak dapat diterima," ujar Arday.
Meski mengakui adanya beberapa kekhilafan teknis akibat kondisi autisme yang diidapnya sejak kecil, Arday membantah keras tuduhan plagiarisme secara sengaja. Keputusannya untuk mundur diambil demi melindungi kehidupan pribadinya.
"Meskipun kritik adalah bagian tak terhindarkan dari kehidupan akademis, apa yang saya alami telah jauh melampaui perselisihan ilmiah. Tuduhan, spekulasi, dan komentar publik yang tiada henti telah memberi dampak mendalam bagi saya dan orang-orang yang saya cintai," tutur Arday.
Gelombang belasungkawa mengalir dari Rektor Universitas Cambridge Profesor Deborah Prentice dan Menteri Pendidikan Inggris Lucy Powell. Sementara itu, lembaga riset Good Law Project turut mempertanyakan etika perburuan media terhadap akademisi yang sedang mengalami krisis psikologis.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow