Serangan Siber Meningkat Tajam pada Pengguna Ponsel di Asia-Pasifik
Penjahat siber semakin agresif menargetkan pengguna ponsel di Asia-Pasifik, dengan lonjakan intensitas serangan per individu meski total korban menurun, dilansir dari Detik iNET. Data Kaspersky pada kuartal pertama 2026 menunjukkan rata-rata deteksi ancaman seluler per pengguna naik 49% dari 4,9 menjadi 7,3 serangan. Indonesia dan India mencatat volume serangan tertinggi di kawasan dengan masing-masing 15.163 dan 18.187 deteksi, sementara Thailand mengalami lonjakan rasio deteksi dari 3,0 menjadi 11,9 per pengguna.
Para peretas kini menggunakan AI dan teknologi deepfake untuk menyebar serangan yang disesuaikan dengan perilaku lokal melalui SMS, media sosial, dan aplikasi pesan instan dengan akun yang telah diretas.
Riset Kaspersky bertajuk The Great Messaging Heist mengungkap 66% korban penipuan percaya pelaku memakai AI, termasuk teks buatan AI (42%), kloning suara (31%), dan video deepfake (25%) untuk menipu korban. Lebih dari separuh penipuan (52%) berhasil mencuri uang atau data korban dalam waktu kurang dari 30 menit sejak kontak pertama.
Beberapa perangkat langsung terinfeksi malware hanya dengan mengunjungi halaman web yang disusupi tanpa perlu klik korban. "Seiring penipuan yang kian meyakinkan dan sulit dikenali, perlindungan diri memerlukan sistem keamanan yang mampu mendeteksi ancaman secara proaktif, bahkan sebelum pengguna menyadari bahwa mereka sedang diserang," ujar Choon Hong Chee, Head of Consumer Channel Asia Pasifik Kaspersky.
Pengguna disarankan untuk memverifikasi aplikasi sebelum mengunduh, tidak mudah tergiur tautan promosi palsu, mengaktifkan autentikasi multi-faktor, mengecek validitas URL, serta rutin memperbarui sistem operasi dan memasang solusi keamanan siber terpercaya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow