Saham Gudang Garam Melesat 14,34 Persen Ditopang Net Buy Asing dan Laba
Pergerakan saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) mencatatkan lonjakan signifikan sepanjang perdagangan pekan lalu, tepatnya pada periode 3-7 Agustus 2026. Aksi borong yang dilakukan oleh investor asing menjadi pendorong utama kenaikan tersebut.
Seperti dilansir dari Investor Daily, investor luar negeri mencatatkan akumulasi pembelian bersih atau net buy pada saham emiten rokok ini hingga mencapai Rp 130,39 miliar dalam kurun waktu satu pekan.
Dampak dari aksi beli masif tersebut membuat harga saham Gudang Garam melesat 14,34%. Pada penutupan perdagangan Jumat (7/8/2026), saham berkode GGRM ini parkir di level Rp 21.725 per lembar.
Saham GGRM bahkan sempat menyentuh level Rp 21.800. Angka tersebut menjadi titik tertinggi harga saham perseroan sepanjang kurun waktu satu tahun terakhir.
Capaian net buy asing pekan lalu menjadi rekor tertinggi jika dibandingkan pekan-pekan sebelumnya. Meskipun sejak pekan kedua Juli 2026 saham GGRM konsisten dibeli asing, nilainya tidak pernah menembus Rp 100 miliar.
Pergerakan positif ini sekaligus melampaui estimasi pasar. Mandiri Sekuritas sebelumnya mematok target harga saham GGRM di posisi Rp 19.100, yang kini telah terlampaui oleh laju harga di pasar sekunder.
Laju positif saham GGRM di lantai bursa sejalan dengan pemulihan kinerja keuangan perseroan. Kenaikan harga saham ini disokong oleh pertumbuhan laba bersih yang signifikan pada paruh pertama tahun ini.
Sepanjang semester I-2026, PT Gudang Garam Tbk berhasil mengantongi laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 2,97 triliun.
Pencapaian laba bersih tersebut mengalami kenaikan drastis hingga 2.440% jika dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang tercatat sebesar Rp 117,16 miliar.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan per 30 Juni 2026, perolehan tersebut membuat laba per saham GGRM melesat menjadi Rp 1.547, dari sebelumnya hanya Rp 61 per akhir Juni 2025.
Efisiensi Beban Pokok Pendapatan
Di sisi lain, pendapatan atau omzet perseroan sebenarnya mengalami penurunan. Gudang Garam membukukan pendapatan Rp 41,17 triliun di semester I-2026, turun dari Rp 44,36 triliun pada semester I-2025.
Meski pendapatan terkoreksi, perseroan berhasil melakukan efisiensi dengan menekan biaya pokok penjualan menjadi Rp 35,19 triliun, dari posisi sebelumnya yang mencapai Rp 40,58 triliun.
Penghematan beban tersebut mendorong laba bruto GGRM tumbuh menjadi Rp 5,98 triliun pada enam bulan pertama tahun ini, melampaui perolehan periode Januari-Juni 2025 sebesar Rp 3,78 triliun.
Hingga 30 Juni 2026, total aset perseroan menguat ke posisi Rp 77,87 triliun yang didukung oleh kas dan setara kas sebesar Rp 8,71 triliun, sementara total liabilitas tercatat sebesar Rp 13,77 triliun.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow