Saham PT Bach Multi Global Tbk Turun Tajam 14,78 Persen di Bursa
Saham PT Bach Multi Global Tbk (BACH), emiten Grup Djarum, mengalami penurunan tajam sebesar 14,78% ke harga Rp 865 pada sesi I perdagangan Selasa, 4 Agustus 2026, di Bursa Efek Indonesia (BEI), dilansir dari Investor Daily.
Jumlah saham yang diperdagangkan mencapai 153,54 juta saham dengan frekuensi transaksi sebanyak 18.159 kali dan nilai transaksi sebesar Rp 151,31 miliar. Antrean jual juga meningkat tajam dengan 729.286 lot saham yang menunggu dijual pada harga batas bawah.
Sebelumnya, harga saham BACH sempat naik 129% dari harga IPO Rp 442 sejak pencatatan perdana di BEI pada 8 Juli 2026 hingga akhir Juli 2026. Namun, penurunan ini terjadi setelah beberapa hari saham stabil di zona hijau.
Pengamat CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli, menyatakan bahwa sektor infrastruktur telekomunikasi masih memiliki potensi pertumbuhan besar dalam 3-5 tahun ke depan, didukung oleh kebutuhan menara telekomunikasi dan jaringan fiber optic yang terus meningkat.
"Masih besar 3-5 tahun ke depan, kebutuhan untuk tower dan fiber optic masih tinggi karena kebutuhan customer dan corporate yang terus meningkat," ujar Dipo.
Dipo menambahkan bahwa transisi dari 4G ke 5G membutuhkan peningkatan densitas menara melalui pembangunan microcells, dan kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari banyak pulau menjadi tantangan sekaligus peluang industri.
Menurutnya, infrastruktur dasar seperti listrik, menara telekomunikasi, jaringan serat optik, dan kabel bawah laut menjadi kebutuhan utama, sementara meningkatnya penggunaan internet, AI, dan cloud computing menjadi faktor pendorong.
Dipo menegaskan bahwa sektor pendukung telekomunikasi memiliki peranan strategis sebagai penentu keandalan infrastruktur telekomunikasi dan ekonomi digital.
"Sangat strategis karena mereka adalah penentu keandalan dan keberlanjutan infrastruktur telekomunikasi dan ekonomi digital," kata Dipo.
Dia juga menyoroti bahwa pasokan listrik yang belum stabil dan jaringan fiber optic yang belum terintegrasi di beberapa daerah membuat peran perusahaan pendukung semakin penting.
"Tanpa reliability dari internet dan telekomunikasi, ekonomi digital tidak bisa terbangun," tegasnya.
Ketua Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi ITB, Ian Yosef M. Edward, menyatakan bahwa ketersediaan sistem daya dan keandalannya menjadi prioritas utama dalam pembangunan Base Transceiver Station (BTS).
"Pemilihan pemasangan BTS yang pertama dilihat ketersediaan sistem daya dan keandalannya. Jadi merupakan prioritas utama dalam pembangunan infrastruktur BTS," ujar Ian.
Ian menjelaskan bahwa konsep redundansi bisa berupa kombinasi sumber listrik PLN, genset cadangan, dan baterai untuk menjamin ketersediaan daya listrik yang stabil.
Pengamat Pasar Modal Menteng Kleb Fauzan Luthsa menyebut masuknya Grup Djarum melalui PT Global Teknologi Perkasa sebagai pemegang saham pengendali menjadi katalis meningkatnya perhatian investor terhadap BACH.
"Masuknya Grup Djarum memang menjadi katalis yang meningkatkan perhatian investor terhadap BACH. Namun, saya melihat pasar juga mulai memahami model bisnis perseroan secara lebih utuh," ujar Fauzan.
Dia menambahkan bahwa selama ini banyak investor mengenal BACH sebagai perusahaan genset, tetapi perseroan sebenarnya mengelola sekitar 41.000 site telekomunikasi, sehingga merupakan bagian penting dari ekosistem infrastruktur telekomunikasi.
"Menurut saya, pemahaman inilah yang mulai berkembang di pasar," kata Fauzan.
"Pada akhirnya pasar tetap akan melihat kinerja perusahaan. Namun, perubahan cara pandang terhadap model bisnis BACH menjadi salah satu faktor yang ikut mendorong meningkatnya perhatian investor," pungkasnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow