Rupiah Menguat ke Rp17974 per Dolar AS pada 5 Agustus 2026

Smallest Font
Largest Font

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat 53 poin atau 0,29 persen ke posisi Rp17.974 per dolar AS pada perdagangan Rabu pagi, 5 Agustus 2026. Apresiasi mata uang Garuda ini dipicu oleh lemahnya data ketenagakerjaan Amerika Serikat serta meredanya ketegangan geopolitik di Selat Hormuz.

Penguatan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang di Asia, seperti peso Filipina yang naik 0,36 persen dan won Korea Selatan yang menguat 0,32 persen. Sementara itu, indeks saham domestik (IHSG) juga mencatatkan kenaikan 0,26 persen ke level 6.335,89. Di perbankan nasional, Bank Mandiri mematok kurs e-Rate jual pada Rp18.000 per dolar AS, sedangkan BCA dan BNI masing-masing di level Rp17.952 dan Rp17.959 per dolar AS.

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menjelaskan bahwa sentimen positif luar negeri memicu apresiasi rupiah, meski lajunya diperkirakan terbatas menjelang rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia kuartal II-2026.

"Rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar AS yang tertekan oleh data JOLTS AS yang lebih lemah dari perkiraan, serta optimisme pembukaan kembali Selat Hormuz setelah muncul laporan bahwa AS dan Iran hampir mencapai kesepakatan. Meski, penguatan diperkirakan terbatas menjelang rilis data PDB Indonesia kuartal II siang ini," ujar Lukman Leong, Analis Doo Financial Futures.

Lukman menargetkan pergerakan rupiah berada pada kisaran Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.

Di sisi lain, pergerakan kurs sebelumnya sempat melemah ke posisi Rp18.027 per dolar AS pada Selasa, 4 Agustus 2026. Hambatan bagi rupiah dinilai akibat tingginya permintaan valas korporasi untuk pembayaran utang luar negeri, dividen, dan impor energi.

Research and Development ICDX Muhammad Amru Syifa menuturkan bahwa tekanan pasar eksternal masih membayangi pergerakan mata uang negara berkembang.

“Pelemahan rupiah saat ini masih lebih dipengaruhi oleh sentimen eksternal. Pelaku pasar menunggu rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve,” ujar Muhammad Amru Syifa, Research and Development ICDX.

Pasar juga mencermati rilis Neraca Perdagangan Indonesia Juni 2026 yang mencatat defisit lebih kecil dari perkiraan, serta inflasi Juli 2026 yang terjaga dalam sasaran Bank Indonesia.

“Apabila pertumbuhan ekonomi berada di atas ekspektasi pasar, rupiah berpotensi memperoleh sentimen positif karena mencerminkan fundamental ekonomi domestik yang tetap solid,” ujar Amru.

Ia memproyeksikan rupiah bergerak dalam kisaran Rp17.950 hingga Rp18.100 per dolar AS dalam jangka pendek.

“Jika PDB Indonesia lebih baik dari perkiraan dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed kembali mereda, rupiah berpeluang menguat. Sebaliknya, apabila data ekonomi AS kembali menunjukkan penguatan sehingga mendorong dolar AS terapresiasi, rupiah masih berpotensi bergerak mendekati batas atas kisaran proyeksi tersebut,” kata Amru.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed