Prajurit Ukraina Ungkap Siksaan di Cautiverio Rusia
Seorang prajurit Angkatan Bersenjata Ukraina, Khuan Alberto Leyva Garsiya, membeberkan tindakan penyiksaan yang dialaminya selama 1.183 hari di tahanan Rusia saat berbicara dalam pertemuan Formula Arria Dewan Keamanan PBB.
Prajurit berpangkat sersan junior tersebut ditangkap setelah mempertahankan pabrik baja Azovstal di Mariupol pada 2022. Leyva Garsiya mengungkapkan bahwa latar belakang etnis campuran dan nama Hispanik miliknya membuat pihak Rusia curiga serta menuduhnya sebagai tentara bayaran asing.
Proses penyerahan diri di Mariupol sebelumnya disepakati melalui negosiasi internasional dengan jaminan perlakuan sesuai hukum humaniter internasional. Namun, kondisi nyata di tempat penahanan sangat tidak layak dan diwarnai berbagai bentuk kekerasan fisik maupun psikologis.
"Apa yang terjadi selanjutnya sangat berbeda dari yang dijanjikan. Lebih dari 2.400 orang ditempatkan di barak-barak yang sangat padat dan dalam kondisi yang tidak memadai. Hampir tidak ada air maupun makanan," kata Khuan Alberto Leyva Garsiya, Prajurit Angkatan Bersenjata Ukraina.
Akibat kondisi penahanan yang buruk tersebut, mayoritas tawanan perang mengalami penurunan berat badan secara drastis hingga menderita penyakit menular.
"Nama Hispanik saya membuat banyak pejabat Rusia curiga bahwa saya adalah seorang tentara bayaran. Mereka tidak dapat memahami bahwa orang Ukraina bisa memiliki asal-usul etnis campuran tanpa kehilangan identitas Ukraina mereka," kata Khuan Alberto Leyva Garsiya, Prajurit Angkatan Bersenjata Ukraina.
Selama menjalani interogasi, tim penyidik dan petugas penjara Rusia melakukan intimidasi fisik guna memaksa pengakuan palsu terkait tuduhan kejahatan perang.
"Orang-orang Rusia mengikat para tawanan perang, membelenggu mereka, dan melakukan pelecehan seksual terhadap mereka dengan benda-benda asing. Tujuannya adalah untuk mematahkan mental mereka dan memaksa mereka mengakui kejahatan yang direkayasa," kata Khuan Alberto Leyva Garsiya, Prajurit Angkatan Bersenjata Ukraina.
Dalam forum internasional tersebut, Leyva Garsiya meminta komunitas global untuk menegakkan hukum internasional dan menindak pelanggaran hak asasi manusia.
"Tahanan Rusia membunuh siapa saja, di setiap langkah, di tingkat apa pun. Tidak ada kekebalan atau kewarganegaraan yang dapat melindungi dari penyiksaan dan pembunuhan," kata Khuan Alberto Leyva Garsiya, Prajurit Angkatan Bersenjata Ukraina.
Pertemuan informal Dewan Keamanan PBB tersebut difokuskan untuk membahas berbagai dugaan pelanggaran hukum humaniter internasional oleh pihak Rusia terhadap tawanan perang dan warga sipil yang ditahan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow