Gempuran Rudal Rusia di Zaporizhzhia dan Kyiv Tewaskan 10 Orang
Eskalasi serangan militer Rusia yang menggempur sejumlah daerah di Ukraina mengakibatkan sedikitnya 10 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka. Seperti diberitakan oleh Investor Daily, pemerintah Ukraina menuding pihak militer Rusia menggunakan bantuan rudal balistik buatan Korut dalam gelombang penyerangan tersebut. Hantaman keras paling parah dilaporkan terjadi di Kota Zaporizhzhia yang berada di kawasan tenggara Ukraina.
Otoritas setempat memverifikasi tujuh korban jiwa dan 24 warga luka-luka akibat kombinasi hantaman rudal balistik Korut, bom udara terpandu, serta rudal hipersonik Zircon. Seluruh korban tewas di kota tersebut merupakan pekerja pabrik baja Zaporizhstal. Mereka diserang ketika sedang bergerak menuju lokasi perlindungan.
Rentetan serangan militer ini juga menyasar kawasan ibu kota Kyiv serta wilayah Dnipropetrovsk. Sejumlah fasilitas kesehatan di Kyiv mengalami kerusakan serius, termasuk rumah sakit anak dan rumah sakit penyakit menular.
Para pasien anak beserta jajaran tenaga medis berhasil selamat. Mereka telah ditempatkan di bunker perlindungan sebelum hantaman terjadi. Di sisi lain, pemadaman listrik secara meluas dipicu oleh serangan di kota-kota garis depan seperti Kherson dan Kharkiv. Keterbatasan sistem pertahanan udara Patriot buatan AS semakin memperberat posisi Ukraina untuk membendung ancaman rudal balistik.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky kembali memberikan peringatan mengenai makin eratnya aliansi militer antara Rusia dan Korut. Zelensky mengklaim Rusia telah menerima pasokan rudal balistik tambahan serta berpotensi menempatkan puluhan ribu tentara Korut baru di wilayahnya. Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan serangan presisi tinggi tersebut menargetkan kompleks industri militer serta pusat logistik transportasi di Kyiv dan Zaporizhzhia.
Sebagai tindakan balasan, pihak Ukraina memperintensif serangan semburatan penjelajah menggunakan drone jarak jauh. Target serangan balasan ini mengincar pusat logistik dan infrastruktur minyak di dalam wilayah Rusia. Laporan dari PBB mencatat bahwa eskalasi terbaru ini mendorong angka kematian warga sipil di Ukraina mencapai tingkat tertinggi sejak periode awal invasi.
Perang skala penuh yang bermula sejak Februari 2022 kini berkembang menjadi konflik ketahanan yang berkepanjangan. Seiring menipisnya pasokan amunisi, Rusia terus mempererat hubungan strategis dengan Korut yang ditandai penandatanganan pakta pertahanan bersama pada 2024. Kerjasama militer kedua negara meliputi pengerahan ribuan personel hingga pasokan amunisi dan rudal balistik.
Keterlibatan aktif Korut dalam pertempuran di Eropa Timur ini tidak hanya memperkeruh situasi di Ukraina, tetapi juga memicu kekhawatiran geopolitik baru di kawasan Asia Pasifik serta mengancam stabilitas keamanan global.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow