Presiden Prabowo Subianto Soroti Rendahnya Investasi Riset Indonesia

Smallest Font
Largest Font

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menerima kedatangan 150 peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional di Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis (6/8/2026). Pertemuan ini digelar untuk meninjau capaian inovasi sekaligus mengevaluasi rendahnya alokasi investasi riset serta kualitas pendidikan nasional.

Penguatan sektor sains dan teknologi dinilai menjadi pijakan utama dalam membangun kemajuan bangsa. Kepala Negara menyampaikan keinginan untuk memantau secara langsung berbagai hasil kerja keras yang telah dikembangkan oleh para periset BRIN.

"Saya sengaja mengundang ke Istana karena saya ingin melihat, mungkin pertama kali tidak terlalu detail dan tidak terlalu komprehensif, tapi untuk mendapat gambaran hasil-hasil yang Saudara-Saudara telah capai di BRIN," kata Prabowo.

Pemerintah menyadari bahwa penguasaan sains dan teknologi merupakan syarat mutlak bagi sebuah negara untuk berkembang. Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga menyampaikan rencana kunjungan kerja ke berbagai fasilitas kampus riset BRIN di masa mendatang.

"Kita mengerti semua bahwa pembangunan suatu bangsa itu ditentukan oleh apakah bangsa itu mampu menguasai sains dan teknologi atau tidak," ujar Prabowo.

Dalam pemaparannya, jajaran BRIN menampilkan ragam hasil riset dari 12 klaster strategis. Kepala BRIN Arif Satria menjelaskan fokus penelitian mencakup ketahanan pangan, energi, teknologi kampung nelayan, program Makan Bergizi Gratis, antariksa, penerbangan, nuklir, logam tanah jarang, perumahan, transportasi, hingga kesehatan.

"Kami paparkan ya overall ya dari 12 klaster itu: isu pangan, isu riset tentang pangan, riset tentang energi, riset tentang berkaitan untuk bisa mensupport produk kita untuk kampung nelayan, produk kita untuk MBG, kemudian juga riset antariksa, riset penerbangan, riset nuklir, kemudian riset logam tanah jarang, ya kemudian riset perumahan, riset transportasi, riset kesehatan," kata Arif.

Di sela peninjauan pameran, Presiden turut menguji sejumlah produk buatan periset BRIN, mulai dari keripik ubi hingga genteng khusus seharga Rp26 ribu per buah yang diuji ketahanannya dengan cara dibanting dan diinjak. Kepala Negara juga meminum air bersih hasil olahan mesin penjernih air banjir.

"Ini zaman waktu muda Bu Mega juga sudah minum juga," kata peneliti BRIN.

Mendengar penjelasan bahwa Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri pernah mencicipi air olahan tersebut, Prabowo langsung merespons sambil mencobanya.

"Kalau Bu Mega minum, masa Prabowo tidak?" ujar Prabowo.

"Kalau Bu Mega minum, masa Prabowo enggak," timpal Prabowo.

Selain mengapresiasi karya inovasi, Presiden menggarisbawahi minimnya alokasi anggaran riset dan pengembangan (R&D) nasional. Pemerintah berkomitmen meningkatkan porsi investasi riset melalui efisiensi anggaran negara dan pemberantasan kebocoran dana.

"Kita koreksi diri kita sebagai bangsa, investasi kita di bidang Research and Development sangat sedikit, jauh dari yang seharusnya, ini koreksi kita, dan juga ke depan kita akan berusaha perbaiki," kata Prabowo.

Penghematan anggaran akan diarahkan untuk membiayai sektor-sektor produktif, termasuk riset dan perbaikan fasilitas sekolah.

"Untuk itu tentunya kita perlu dana, dana itu kita cari. Dana itu dari mana? Dari penghematan hal-hal yang korup, praktik-praktik koruptif, praktik-praktik penipuan, fraud, ya, underinvoicing," jelas Prabowo.

Masalah kualitas pendidikan turut menjadi perhatian serius setelah melihat capaian skor Programme for International Student Assessment Indonesia yang masih tertinggal di kawasan Asia Tenggara.

"Kita di bawah Thailand, Malaysia, Belanda, Vietnam," ujar Prabowo.

Evaluasi capaian PISA menunjukkan posisi Indonesia hanya berada sedikit di atas Filipina dan masih di bawah rata-rata organisasi OECD.

"Jadi skor PISA membaca, skor kita tadi kalau Anda lihat di situ, hanya sedikit di atas Filipina. Kita masih di bawah Thailand, di bawah Malaysia, di bawah Belanda, di bawah Vietnam, di bawah rata-rata OECD, di bawah Jepang, di bawah Singapura," kata Prabowo.

Meskipun demikian, perbedaan skala wilayah membuat hasil Singapura tidak dijadikan perbandingan utama bagi Indonesia.

"Kalau Singapura saya nggak terlalu, nggak usah kita terlalu khawatir kok hanya negara 5 juta kok, satu kota ya kan," jelas Prabowo.

Sebagai langkah konkret, pemerintah merencanakan investasi besar pada perbaikan fisik sekolah serta pembangunan sekolah unggulan berstandar International Baccalaureate (IB).

"Saya ingin investasi cukup besar di bidang pendidikan untuk generasi penerus kita. Saya akan perbaiki semua sekolah dari fisik," ujar Prabowo.

Sekolah unggulan tersebut disiapkan untuk menjaring siswa berprestasi agar mampu menembus perguruan tinggi terkemuka di tingkat global.

"Kita juga membangun sekolah-sekolah unggulan untuk anak-anak terpintar, bisa kita seleksi nanti dia kejar universitas-universitas terbaik di dunia," tutur Prabowo.

Presiden juga menyelipkan kekecewaannya atas kegagalan tim nasional sepak bola Indonesia menembus putaran final Piala Dunia FIFA 2026. Ia menekankan pentingnya introspeksi bersama ketimbang saling menyalahkan.

"Tapi saya sangat sedih terus terang saja, ya kan, masalah sepak bola saja kita tidak mampu masuk Piala Dunia," kata Prabowo.

Seluruh elemen masyarakat diminta menjadikan fakta tersebut sebagai bahan evaluasi untuk perbaikan di masa depan.

"Maksud saya begini, lihat fakta itu. Negara sebesar kita, ya, tidak bisa ikut Piala Dunia. Satu yang saya bilang jangan mengeluh, jangan mencari kambing hitam, jangan, karena itu tidak akan membantu," ujar Prabowo.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed