PLTU Suralaya Dituduh Pemicu Polusi Jakarta, Pengamat: Butuh Bukti Ilmiah
Penulis : Happy Amanda Amalia 23 Aug 2026 | 23:21 WIB
Gedung-gedung bertingkat yang tertutup kabut polusi udara di kawasan Jakarta Selatan, Rabu (17/7/2024). B-Universe Photo/Joanito De Saojoao)
JAKARTA, Investor.id — Pengamat Kebijakan Energi Sofyano Zakaria meminta klaim yang menyebut Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya di Banten sebagai penyebab utama polusi udara Jakarta didukung bukti ilmiah yang memadai.
Menurut Sofyano, kontribusi PLTU Suralaya terhadap kualitas udara Jakarta perlu dibuktikan melalui kajian yang menghubungkan sumber emisi, kondisi meteorologi, pergerakan polutan, hingga konsentrasi pencemar yang terukur di Ibu Kota.
“Kalau benar emisi PLTU Suralaya terbawa hingga Jakarta dan menjadi penyebab signifikan polusi, harus bisa dibuktikan secara ilmiah melalui data emisi, arah dan kecepatan angin, pemodelan dispersi, serta pengukuran konsentrasi polutan di Jakarta,” ujarnya.
Sofyano menilai analisis mengenai dampak emisi PLTU juga perlu memperhitungkan wilayah yang berada lebih dekat dengan sumber pencemaran, termasuk kawasan di Banten. Dengan demikian, pola penyebaran polutan dari sumber emisi hingga daerah terdampak dapat diketahui secara lebih jelas.
“Jangan sampai Jakarta dituding terdampak, tetapi mekanisme dan jejak pencemarannya di wilayah yang lebih dekat dengan sumber emisi tidak dijelaskan secara transparan,” imbuhnya..
Sofyano juga meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membuka data pendukung apabila menyatakan PLTU Suralaya memiliki kontribusi besar terhadap pencemaran udara Jakarta.
Menurut dia, persoalan kualitas udara Jakarta tidak dapat dilihat dari satu sumber emisi saja. Pencemaran udara dapat berasal dari kendaraan bermotor, kegiatan industri, konstruksi dan debu jalan, pembakaran terbuka, serta emisi yang berasal dari wilayah sekitar Jakarta.
Selain sumber emisi, kondisi meteorologi seperti arah dan kecepatan angin, suhu, kelembapan, serta stabilitas atmosfer juga dapat memengaruhi konsentrasi dan penyebaran polutan.
Karena itu, Sofyano menilai penentuan sumber dominan pencemaran udara membutuhkan kajian menyeluruh yang menggabungkan inventarisasi emisi dengan pemodelan atmosfer dan hasil pemantauan kualitas udara.
Sejumlah kajian sebelumnya menempatkan sektor transportasi sebagai salah satu penyumbang pencemaran udara di Jakarta. Sementara itu, kajian yang pernah dilakukan Institut Teknologi Bandung (ITB) juga menunjukkan bahwa pergerakan emisi dari PLTU Suralaya menuju Jakarta dapat dipengaruhi kondisi meteorologi tertentu.
Sofyano menilai temuan mengenai kemungkinan kontribusi PLTU perlu dibedakan dengan kesimpulan bahwa pembangkit tersebut merupakan sumber utama polusi Jakarta.
“Menjadikan PLTU Suralaya sebagai penyebab utama tanpa pembuktian komprehensif adalah kesimpulan yang terlalu sederhana. Pemerintah harus membedakan antara ‘salah satu sumber’ dan ‘penyebab utama’,” katanya.
Editor: Happy Amanda Amalia
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Business 47 menit yang lalu Peneliti Soroti Kesiapan Sistem Listrik Flores Hadapi Dampak Gempa Pemulihan listrik di Flores dinilai berlangsung cepat setelah gempa M 7,7, dengan 11 gardu induk terdampak kembali beroperasi kurang 12 jam.
National 52 menit yang lalu Prabowo Perintahkan Pelaku Karhutla Ditindak Tanpa Pandang Bulu Menhut Raja Antoni menyebut Presiden Prabowo telah memerintahkan pelaku karhutla, baik individu maupun korporasi, ditindak tegas.
Business 59 menit yang lalu Dorong Ekonomi Sirkular, Aqua Gandeng Citilink Kolaborasi lintas industri dapat menghadirkan solusi yang lebih konkret
Finance 1 jam yang lalu Spreed Bunga Menipis, NIM Bank Terindikasi Makin Terkikis Spread bunga bank menyusut pada Juni dan Juli 2026, seiring kenaikan bunga simpanan yang lebih cepat dari bunga kredit.
Macroeconomy 2 jam yang lalu Independensi BI Dinilai Penting Jaga Inflasi dan Stabilitas Rupiah Ekonom menilai kemandirian BI perlu dijaga agar kebijakan moneter tetap efektif meredam inflasi dan tekanan nilai tukar.
Business 2 jam yang lalu Daging Sapi Mahal, Pemerintah Siapkan Subsidi Harga daging sapi disebut melonjak karena pengaruh melemahnya nilai tukar rupiah. Menko pangan sebut pemerintah akan siapkan subsidi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow