Pemerintah Tawarkan Sukuk Ritel SR025 dengan Kupon hingga 6,9 Persen
Pemerintah menawarkan Sukuk Negara Ritel seri SR025 kepada investor individu Warga Negara Indonesia mulai 21 Agustus hingga 16 September 2026. Instrumen berbasis syariah ini hadir dalam dua opsi tenor dengan imbalan tetap yang dibayarkan setiap bulan.
Pemerintah menetapkan tingkat kupon sebesar 6,80 persen per tahun untuk tenor tiga tahun (SR025T3) dan 6,90 persen per tahun untuk tenor lima tahun (SR025T5). Total kuota nasional yang disiapkan mencapai Rp20 triliun, terdiri atas Rp15 triliun untuk SR025T3 dan Rp5 triliun untuk SR025T5.
Hingga Jumat, 28 Agustus 2026 pukul 12.45 WIB, sisa kuota nasional SR025T3 tercatat sebesar Rp11,81 triliun atau 78,76 persen dari total kuota. Sementara itu, sisa kuota SR025T5 berada pada angka Rp4,15 triliun atau setara 83,12 persen.
Penjualan SR025 pada pekan pertama tercatat cenderung berada di bawah target proporsi waktu penawaran. Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual mengidentifikasi dua risiko utama yang perlu diwaspadai calon investor sebelum membeli SR025, yaitu risiko inflasi akibat kondisi cuaca ekstrem Godzilla El Nino dan krisis minyak akibat perang AS-Iran, serta risiko kenaikan yield jika rupiah kembali tertekan.
"Yield dari SR025 lumayan kompetitif (6,8% untuk 3 tahun & 6,9% untuk 5 tahun) di tengah tren kenaikan yield," ujar David Sumual, Ekonom Bank Central Asia (BCA).
Ia menambahkan bahwa tekanan harga minyak berpotensi memicu kenaikan biaya energi, sementara tekanan pada rupiah bisa memicu kebijakan pro-stabilisasi dari bank sentral yang berdampak pada pasar surat utang. Meski penjualan pekan pertama belum maksimal, ia memperkirakan minat investasi dapat meningkat mendekati akhir bulan seiring pencairan gaji bulanan.
"Meski data pada sepekan terakhir berada di bawah target secara rata-rata, masih terlalu dini untuk menentukan apakah penjualan SR025 akan berada di bawah target," kata David Sumual, Ekonom Bank Central Asia (BCA).
Di sisi lain, Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih menilai prospek permintaan SR025 tetap positif walaupun karakternya diperkirakan lebih selektif. Menurutnya, penetapan kupon SR025 dipengaruhi oleh tren kenaikan BI Rate sebesar 100 basis poin menjadi 5,75 persen sejak Mei 2026, lonjakan yield SRBI 12 bulan hingga 7,37 persen, serta persaingan dengan instrumen ORI030 yang diterbitkan bulan sebelumnya.
"Di tengah tekanan geopolitik yang mengerek harga minyak Brent, tren kenaikan BI Rate sejak Mei 2026 sebesar 100 basis poin menjadi 5,75%, serta melesatnya yield SRBI hingga 7,37% untuk tenor 12 bulan, kami melihat prospek permintaan SR025 tetap positif, namun karakternya akan lebih selektif dibandingkan ORI030," ujar Ratih Mustikoningsih, Financial Expert Ajaib Sekuritas.
Ratih memaparkan bahwa kupon SR025 masih menarik karena memberikan kepastian imbal hasil jangka panjang yang terhindar dari risiko reinvestasi. Selain itu, pajak atas imbal hasil SBN ritel hanya sebesar 10 persen, lebih rendah dibandingkan pajak deposito perbankan sebesar 20 persen. Namun, ia mengingatkan adanya perbedaan kupon 10 bps jika dibandingkan dengan ORI030 serta jeda penerbitan yang hanya berjarak tiga minggu.
"Investor ritel yang sensitif terhadap yield membuat perbedaan kupon sebesar 10 bps (0,10%) untuk membatasi alokasi dana pada SR025," kata Ratih Mustikoningsih, Financial Expert Ajaib Sekuritas.
Ia juga menyoroti terserapnya likuiditas masyarakat sebesar Rp40 triliun pada penerbitan ORI030 lalu yang memengaruhi daya beli investor ritel saat ini.
"SR025 berpotensi tidak memecahkan rekor penjualan ORI030 akibat ketatnya likuiditas pasar saat ini," ungkap Ratih Mustikoningsih, Financial Expert Ajaib Sekuritas.
Secara teknis, SR025 menggunakan akad Ijarah Asset to be Leased dengan aset dasar berupa Barang Milik Negara serta proyek APBN 2026. Pembelian instrumen ini dapat dilakukan mulai dari Rp1 juta hingga batas maksimum Rp5 miliar untuk tenor 3 tahun dan Rp10 miliar untuk tenor 5 tahun. Setelmen penawaran dijadwalkan pada 23 September 2026, sedangkan Minimum Holding Period akan berakhir pada 11 Oktober 2026 sebelum instrumen ini dapat diperdagangkan di pasar sekunder.
| Ketentuan | SR025T3 | SR025T5 |
|---|---|---|
| Kupon tetap per tahun | 6,8% | 6,9% |
| Tenor | 3 tahun | 5 tahun |
| Jatuh tempo | 10 September 2029 | 10 September 2031 |
| Maksimum pembelian | Rp5 miliar | Rp10 miliar |
Pembayaran imbalan pertama akan dilaksanakan pada 10 Oktober 2026 berupa kupon pendek (short coupon) untuk periode 17 hari setelah setelmen. Selanjutnya, pembayaran pokok investasi akan ditanggung penuh oleh negara melalui APBN saat jatuh tempo pada 10 September 2029 untuk SR025T3 dan 10 September 2031 untuk SR025T5.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow