— Selama puluhan tahun pembangunan ekonomi dipandang sebagai upaya mengikuti jejak negara maju: membangun industri padat karya, memperkuat manufaktur, dan meningkatkan ekspor. Namun pendekatan meniru jalur tersebut tidak selalu menghasilkan keberhasilan serupa.

Ekonom Korea Selatan Keun Lee menyebut fenomena itu sebagai catch-up paradox — paradoks pengejaran ketertinggalan — di mana negara yang menyalin model pembangunan tidak otomatis mampu menyamai atau melampaui pelopor. Karena itu muncul alternatif strategi: melompat, bukan mengejar secara bertahap.

Peluang Melompat di Tengah Transformasi Global

Konsep leapfrogging menjelaskan kemampuan satu negara melewati tahapan pembangunan tertentu dan langsung masuk ke teknologi atau model bisnis yang lebih maju. Revolusi kecerdasan buatan (AI), digitalisasi, energi hijau, dan bioteknologi membuka ruang bagi langkah seperti itu.

Beberapa negara sudah menunjukkan contoh nyata. Kenya, yang tidak pernah memiliki jaringan perbankan konvensional sekompleks negara maju, memanfaatkan telepon seluler untuk menciptakan layanan pembayaran digital M-Pesa. Alih-alih membangun kantor cabang bank secara luas, Kenya melompat ke solusi berbasis ponsel yang menjangkau masyarakat luas.

Korea Selatan juga menjadi rujukan. Setelah era elektronik yang dipimpin Jepang pada 1970–1980-an, perusahaan Korea memilih berinvestasi besar pada teknologi digital sehingga mampu mengambil posisi unggul di segmen tertentu. Di Tiongkok, pemanfaatan teknologi digital menciptakan ekosistem baru: dari pembayaran nontunai lewat Alipay dan WeChat Pay hingga perusahaan seperti BYD yang maju di kendaraan listrik.

India menempuh jalur berbeda: tidak mengandalkan manufaktur berat seperti Tiongkok, tetapi mengembangkan industri perangkat lunak dan layanan digital yang menjadikan kota-kota tertentu pusat teknologi global.

Empat Peluang Untuk Indonesia

Peluang pertama bagi Indonesia adalah ekonomi digital dan AI. Dengan lebih dari 280 juta penduduk dan salah satu pasar internet terbesar, negara ini berpotensi menjadi pencipta teknologi, bukan sekadar pasar. Pengembangan model AI yang sesuai bahasa, budaya, dan kebutuhan lokal menjadi kunci.

Peluang kedua adalah transisi energi hijau. Indonesia memiliki cadangan nikel besar, sumber panas bumi, serta potensi surya dan hidro. Selain mengekspor bahan baku, negara bisa menambah nilai lewat manufaktur sel baterai, kendaraan listrik, sistem penyimpanan energi, dan teknologi daur ulang baterai.

Peluang ketiga datang dari sektor keuangan digital. Seperti pengalaman Kenya, keterbatasan infrastruktur lama bisa diatasi lewat solusi digital yang menjangkau pelaku usaha mikro dan masyarakat yang selama ini sulit mengakses layanan perbankan formal.

Peluang keempat adalah modernisasi pertanian. Teknologi sensor, satelit, AI, dan Internet of Things memungkinkan pertanian presisi—pengelolaan pola tanam, irigasi, dan pupuk berbasis data—yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pangan populasi besar.

Syarat Agar Lompatan Terjadi

Namun leapfrogging tidak muncul otomatis; ada syarat yang harus dipenuhi. Pertama, investasi besar pada sumber daya manusia. Pendidikan perlu lebih fokus pada sains, teknologi, rekayasa, matematika, dan keterampilan digital, serta menghubungkan perguruan tinggi dengan kebutuhan industri.

Kedua, peningkatan belanja riset dan pengembangan. Tanpa investasi riset, Indonesia berisiko menjadi pengguna teknologi dari negara lain, bukan pencipta solusi baru.

Ketiga, keberanian mengambil risiko. Banyak kisah sukses teknologi lahir dari eksperimen yang penuh ketidakpastian; kebijakan yang mendorong inovasi sambil mengelola risiko diperlukan.

Keempat, peran pemerintah sebagai katalisator. Negara tidak harus mengendalikan seluruh proses, tetapi wajib menciptakan ekosistem pendukung: regulasi adaptif, insentif fiskal, pembiayaan inovasi, perlindungan hak kekayaan intelektual, dan infrastruktur digital.

Sejarah pembangunan menunjukkan bahwa keberhasilan bukan semata soal meniru, melainkan memanfaatkan perubahan. Indonesia tidak perlu mengulang seluruh perjalanan negara lain; yang diperlukan adalah menemukan jalur yang sesuai sumber daya dan kebutuhan nasional.

Di tengah revolusi AI, transisi energi hijau, dan transformasi digital global, peluang untuk melakukan lompatan terbuka lebar. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Indonesia mampu melompat, melainkan apakah siap mengambil langkah itu sebelum kesempatan tertutup.