Panel Surya Hemat Biaya Listrik Tambak Udang hingga 50 Persen di Indonesia

Smallest Font
Largest Font

Penggunaan panel surya dalam budidaya tambak udang menunjukkan potensi besar menekan biaya operasional dengan menghemat konsumsi listrik PLN hingga 42%-50%, dilansir dari Investor Daily.

Hasil uji coba oleh PT Sustainability & Resilience bersama startup teknologi akuakultur Crustea dilakukan di Gianyar, Bali, dengan sistem panel surya hybrid yang tetap terhubung ke jaringan PLN. Sistem ini mengoperasikan aerator tambak selama sekitar 10 jam per hari.

Meski dampak pada produksi belum signifikan karena baru diterapkan pada satu aerator, implementasi teknologi ini akan diperluas ke Nusa Tenggara Barat dengan target 10 lokasi budidaya.

Researcher PT Sustainability & Resilience, Naafi Lathifah, mengatakan kolaborasi dengan Crustea juga mencakup pelatihan petambak, kajian, dan penyusunan rekomendasi kebijakan untuk mendukung ekosistem budidaya perikanan berkelanjutan.

"Hasil sementara menunjukkan penggunaan panel surya mampu menghemat konsumsi listrik PLN sekitar 42% hingga 50%," ujar Naafi.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia, Saut P Hutagalung, menilai budidaya berkelanjutan akan meningkatkan daya saing produk perikanan Indonesia di pasar ekspor.

Saut P Hutagalung menambahkan bahwa inovasi energi terbarukan ini menjadi langkah penting dalam menjaga kompetisi produk perikanan nasional.

Sekjen Masyarakat Akuakultur Indonesia, Romi Novriadi, menyatakan bahwa akses energi dan inovasi teknologi merupakan kebutuhan utama petambak, selain tantangan tingginya biaya pakan.

"Akses energi dan inovasi teknologi menjadi kebutuhan utama petambak, di samping tantangan tingginya biaya pakan," kata Romi Novriadi.

Direktorat Jenderal Perikanan Budi Daya Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat dari sekitar 300 ribu hektare tambak di Indonesia, hanya 3% yang dikelola secara intensif, dan 15% semiintensif, sisanya masih tradisional. Pendampingan serta peningkatan kapasitas petambak menjadi kunci modernisasi sektor ini.

Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal Kemendes PDTT, Samsul Widodo, menyatakan program energi terbarukan di akuakultur dapat didukung melalui dana desa dan kolaborasi dengan sektor swasta, termasuk pemanfaatan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

Program Aquaculture for Climate Resilience akan melibatkan sekitar 250 petambak udang dan penyuluh perikanan di Lombok dan Sumbawa. Selain memperkenalkan Eco-Aerator bertenaga surya dan sistem pemantauan berbasis Internet of Things (IoT), program ini diharapkan meningkatkan efisiensi energi, menekan emisi, dan memperkuat daya saing budidaya udang nasional.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed