Menteri HAM Kecam Aksi Main Hakim Sendiri di Bali
Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai mengutuk keras praktik main hakim sendiri yang terjadi di Bali, khususnya kasus seorang pria yang meninggal dunia setelah dikeroyok warga pada Jumat (24/7/2026) dini hari di Desa Sidetapa, Kabupaten Buleleng. Korban yang diduga mencuri ayam itu meninggalkan seorang istri dan tiga anak dalam kondisi ekonomi kurang mampu, sehingga Pemkab Buleleng menyiapkan bantuan sosial dan pendampingan psikologis bagi keluarga. Pigai memberikan peringatan bahwa fenomena vigilantisme bisa meningkat karena adanya dorongan dari pejabat yang bahkan membuat sayembara untuk menangkap pelaku kejahatan.
"Saya sudah ingatkan soal vigilantisme, kita juga akan menyaksikan banyak peristiwa seperti ini karena diperbolehkan oleh para pejabat bahkan bikin sayembara," ujar Natalius Pigai kepada Kompas.com, Minggu (26/7/2026).
Sayembara yang dimaksud sebelumnya dilontarkan oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang menjanjikan hadiah hingga Rp 50 juta bagi warga yang menangkap pelaku kejahatan seperti begal dan copet. "Saya memberikan sayembara pada seluruh warga Jabar. Yang bisa melumpuhkan maling, copet, jambret, begal, rampok kami siapkan hadiah dari Rp 5 sampai Rp 50 juta yang mampu melumpuhkan berbagai aksi kejahatan dan menyerahkannya kepada kepolisian dalam keadaan hidup," kata Dedi Mulyadi, dikutip dari Instagram pribadinya, Kamis (23/7/2026).
Natalius Pigai juga menekankan pentingnya peran lembaga penegak dan pengawas HAM untuk bersikap tegas terhadap penguasa yang mengabaikan proses hukum. "Kalau Komnas HAM seperti zaman saya, saya panggil para penguasa yang menentang kemanusiaan dengan mengabaikan proses hukum yang ada," tegas Pigai.
Kepala Desa Sidetapa, I Made Sutama, menyayangkan aksi pengeroyokan yang menyebabkan kematian warga tersebut dan mengungkapkan rasa sedihnya saat menjemput jenazah korban. "Yang membuat saya sedih ketika menjemput jenazah, melihat anak-anaknya menangis kehilangan bapaknya," ujar Sutama. Korban meninggalkan tiga anak, dengan anak kedua masih duduk di kelas 1 SMA dan anak bungsunya kelas 1 SD.
Sutama mengimbau agar masyarakat tidak melakukan tindakan main hakim sendiri meskipun menemukan seseorang yang diduga melakukan tindak pidana.
"Kesalahan orang pasti ada, tetapi janganlah gara-gara hanya mencuri ayam sampai menghilangkan nyawa orang," ujarnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow