Menperin Agus Gumiwang Tegaskan Pentingnya Kepemimpinan BUMN Hadapi Perubahan Global

Smallest Font
Largest Font

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa calon pemimpin Badan Usaha Milik Negara (BUMN) harus mampu membaca perubahan dan memastikan bisnis perusahaan tetap relevan dalam jangka panjang di tengah dinamika global yang cepat dan kompleks.

Pernyataan ini disampaikan Agus saat memberikan pembekalan dalam Program Presiden untuk Pemimpin Masa Depan (P3MD) Pegawai BUMN Batch 1 Tahun 2026 di Kodiklat TNI, Serpong, pada Rabu (19/8), sebagaimana dilansir pada 20 Agustus 2026.

Agus menilai BUMN memiliki posisi strategis dalam perekonomian nasional karena menguasai sektor penting seperti infrastruktur, energi, pembiayaan, logistik, mineral, telekomunikasi, konstruksi, hingga pangan. Oleh karena itu, kualitas kepemimpinan BUMN tidak hanya menentukan masa depan perusahaan, tetapi juga arah pembangunan ekonomi nasional.

"Ketika saudara kembali ke perusahaan masing-masing, ada pertanyaan fundamental yang harus dijawab. Apakah bisnis perusahaan kita hari ini masih akan relevan lima atau sepuluh tahun dari sekarang? Pertanyaan ini harus menjadi perhatian utama karena perubahan dunia berlangsung semakin cepat dan ketidakpastiannya semakin tinggi," ujar Agus.

Agus mengingatkan bahwa besarnya aset, jumlah karyawan, kekuatan modal, maupun keberhasilan masa lalu tidak menjamin keberlangsungan bisnis di masa depan. Banyak perusahaan besar kehilangan posisi karena terlambat membaca perubahan dan lambat bertransformasi.

"Dalam dunia yang berubah cepat, size is not security. Besarnya perusahaan bukan jaminan keamanan. Demikian pula, past success is not a guarantee of future relevance. Keberhasilan masa lalu tidak otomatis menjamin relevansi perusahaan di masa depan," tegasnya.

Menurut Agus, lingkungan bisnis saat ini menghadirkan tantangan yang kompleks, seperti perubahan harga energi, konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, perubahan suku bunga dan nilai tukar, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), serta transisi energi menuju ekonomi rendah karbon.

Selain itu, regulasi global terkait emisi, traceability, keberlanjutan, standar ketenagakerjaan, antisuap, keamanan siber, dan perlindungan data menjadi faktor penting dalam akses pasar dan pembiayaan internasional.

"Yang membuat tantangan semakin berat adalah risiko tersebut tidak datang satu per satu. Perusahaan dapat menghadapi pelemahan nilai tukar, kenaikan harga energi dan suku bunga, penurunan permintaan, gangguan supply chain, serangan siber, serta perubahan regulasi secara bersamaan. Inilah yang saya sebut sebagai compound risks," ujar Agus.

Agus menilai pola pikir bisnis konvensional tidak lagi memadai dan pemimpin BUMN harus memiliki kemampuan mengantisipasi risiko serta mengambil keputusan cepat.

Dalam konteks industrialisasi, Agus menegaskan BUMN harus berperan sebagai pembangun kapabilitas nasional, bukan sekadar pemilik aset atau pelaksana proyek. Peran ini diwujudkan melalui penguatan rantai nilai, percepatan hilirisasi, pembukaan pasar, serta pelibatan industri kecil dan menengah dalam rantai pasok.

"Industrialisasi adalah proses membangun kemampuan bangsa, mulai dari kemampuan mengolah sumber daya, menguasai teknologi, mengembangkan sumber daya manusia, memperkuat rantai pasok, menciptakan merek, hingga menembus pasar global," kata Agus.

Agus menekankan hilirisasi sumber daya alam harus menjadi titik awal pembangunan industri bernilai tambah di dalam negeri. Indonesia tidak boleh hanya menjadi pemasok bahan mentah atau pasar produk negara lain.

Dari sisi kinerja, fundamental industri nasional menunjukkan hasil positif. Pada triwulan II 2026, industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional 5,29 persen, dengan kontribusi 16,83 persen terhadap PDB nasional atau sekitar Rp1.102,88 triliun.

Realisasi investasi sektor tersebut mencapai Rp199,48 triliun atau 38,89 persen dari total investasi nasional, sementara penyerapan tenaga kerja mencapai 19,99 juta orang hingga Februari 2026.

Ekspor industri pengolahan nonmigas pada Januari-Juni 2026 tercatat mencapai USD115,50 miliar, berkontribusi 82,03 persen terhadap total ekspor nasional.

Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Juli 2026 berada pada level 53,1 dan PMI Manufaktur Indonesia masuk zona ekspansi di level 50,2.

Nilai Manufacturing Value Added (MVA) Indonesia pada 2025 mencapai sekitar USD275,61 miliar, menempatkan Indonesia di peringkat ke-12 dunia dan terbesar di Asia Tenggara.

Menurut Agus, capaian tersebut menegaskan manufaktur tetap menjadi tulang punggung ekonomi nasional yang harus didukung oleh kepemimpinan adaptif dan inovatif.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed