Laba Bersih Vale Indonesia Melonjak 313 Persen Pada Semester I-2026

Smallest Font
Largest Font

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencetak kinerja keuangan mengesankan sepanjang enam bulan pertama tahun ini. Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, perseroan membukukan peningkatan laba bersih hingga 313 persen menjadi US$ 104,37 juta dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar US$ 25,24 juta.

Pertumbuhan laba yang signifikan ini didorong oleh realisasi pendapatan yang meningkat tajam serta penurunan beban pokok pendapatan, seperti dilansir dari Investor Daily.

Sepanjang Januari hingga Juni 2026, pendapatan Vale Indonesia tercatat naik menjadi US$ 543,06 juta dari sebelumnya US$ 426,73 juta pada semester I-2025. Pada saat yang sama, perseroan berhasil menekan beban pokok pendapatan dari US$ 396,58 juta menjadi US$ 390,78 juta.

Alhasil, emiten tambang nikel ini mengantongi laba bruto sebesar US$ 152,28 juta pada semester I-2026. Capaian tersebut melesat 404 persen jika disandingkan dengan laba bruto periode sama tahun lalu sebesar US$ 30,15 juta.

Manajemen INCO mengungkapkan bahwa kinerja solid pada kuartal II-2026 ditopang oleh tiga faktor utama, yaitu optimalisasi volume produksi, penguatan harga nikel di pasar global, serta kedisiplinan operasional.

Di tingkat operasional, produksi nikel matte perseroan tumbuh 19 persen secara triwulanan (qoq) mencapai 16.153 ton, sementara volume penjualan terjaga stabil di angka 13.932 ton.

Kenaikan harga realisasi rata-rata nikel matte yang mencapai US$ 14.765 per ton atau naik 4 persen qoq turut memberi dampak positif. Faktor ini mengerek total pendapatan kuartal II-2026 menjadi US$ 290 juta, atau tumbuh 15 persen dibandingkan kuartal I-2026.

Dari sisi pengelolaan pengeluaran, biaya tunai pokok penjualan nikel matte membaik ke level US$ 10.005 per ton pada kuartal II-2026 dari sebelumnya US$ 10.382 per ton pada kuartal I-2026, memperlihatkan ketangguhan manajemen dalam mengendalikan beban biaya.

Sementara itu pada segmen bisnis bijih nikel, biaya tunai per unit tercatat stabil di angka US$ 21 per ton untuk wilayah Bahodopi dan US$ 7 per ton di Pomalaa, mencakup komponen biaya royalti serta logistik. Operasional di Pomalaa juga memperoleh efisiensi biaya tunai lanjutan seiring dengan peningkatan kapasitas operasi dan volume penjualan.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed