Rupiah Melemah ke Rp 17.969 per Dolar AS pada 25 Juli 2026

Smallest Font
Largest Font
Table of Contents
[ Show ]

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) kembali menunjukkan tren pelemahan pada pembukaan perdagangan Jumat, 25 Juli 2026. Mata uang Garuda tercatat mengalami tekanan di tengah dinamika pasar global yang fluktuatif.

Berdasarkan data Bloomberg yang dikutip dari Investor Daily, rupiah dibuka merosot sebesar 33 poin atau sekitar 0,18 persen. Hal ini menempatkan posisi rupiah pada level Rp 17.969 per dolar AS di pasar spot exchange pukul 09.05 WIB.

Kondisi ini melanjutkan tren negatif dari hari sebelumnya. Pada penutupan perdagangan Kamis, 23 Juli 2026, nilai tukar rupiah sudah lebih dulu melemah 19 poin dan berakhir di posisi Rp 17.936 per dolar AS.

Penguatan dolar AS dipicu oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Faktor utama yang mendorong kenaikan ini adalah lonjakan harga minyak dunia serta memanasnya kembali perang dagang global yang memicu tekanan inflasi.

Indeks dolar AS saat ini bertahan di level 101,45, yang merupakan posisi tertinggi dalam tiga minggu terakhir terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Kondisi ini membuat mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia, kian terdesak.

Mata uang global lainnya juga tidak luput dari tekanan. Poundsterling Inggris berada di level terendah dalam tiga minggu pada angka $ 1,3313, sementara Euro tertahan di level $ 1,1376 per dolar AS meski ada prospek kenaikan suku bunga Bank Sentral Eropa.

Yen Jepang bahkan masih tertahan di dekat level terendah dalam 40 tahun terakhir, yakni pada posisi 163,86 per dolar AS. Situasi ini mencerminkan dominasi dolar AS yang sangat kuat di pasar valuta asing global.

Analisis Strategi Makro

Kepala strategi makro Mizuho untuk Asia-Pasifik, Vishnu Varathan, memberikan pandangannya mengenai situasi ekonomi saat ini. Menurutnya, dunia sedang menghadapi tantangan besar dari berbagai sisi secara bersamaan.

"Dunia harus bersiap menghadapi pukulan ganda berupa tarif, karena pada dasarnya minyak adalah tarif, dan gangguan pasokan independen. Ada gangguan yang ditentukan oleh kuantitas aktual tertentu, kemudian ada guncangan harga dari tarif (perdagangan) juga," kata Vishnu Varathan.

Tekanan pada rupiah diperkirakan masih akan berlanjut seiring dengan ketidakpastian data inflasi yang selalu dinantikan oleh para pelaku pasar. Selain itu, kenaikan yield obligasi AS dan ekspektasi suku bunga The Fed turut menekan pasar aset berisiko lainnya.

Di sisi lain, harga komoditas seperti CPO di Bursa Malaysia Derivatives justru menunjukkan penguatan ke level tertinggi dalam tiga bulan. Namun, sentimen positif dari komoditas tersebut belum mampu membendung laju pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed