Kisah Kembar asal Ponorogo Lolos UGM Gratis usai 7 Kali Gagal Seleksi
Kegagalan bertubi-tubi dalam seleksi masuk perguruan tinggi negeri tak menyurutkan langkah dua putri kembar asal Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Dilansir dari Detikcom, Mahmudah Lathif dan Muzdrickah Lathif (Rikah) akhirnya berhasil diterima di Universitas Gadjah Mada (UGM) setelah tujuh kali gagal seleksi.
Dua bersaudara dari keluarga sederhana ini tidak hanya berhasil menembus kampus impian, tetapi juga memperoleh subsidi uang kuliah tunggal (UKT) 100 persen. Fasilitas beasiswa ini memastikan keduanya dapat mengenyam pendidikan tinggi secara gratis hingga lulus.
Mahmudah dan Rikah dibesarkan oleh pasangan Meseri (48) dan Siti Rokhayati (43). Ayah mereka bekerja sebagai buruh tani lepas dan sesekali menjadi mandor proyek bangunan, sementara ibunya kadang membantu bekerja di sawah demi mencukupi kebutuhan harian.
Sejak kecil, orang tua mereka menekankan pentingnya pendidikan sebagai sarana untuk mengubah taraf hidup keluarga. Keduanya sudah diperkenalkan pada buku dan latihan menulis sejak sebelum memasuki jenjang taman kanak-kanak.
Setidaknya jangan sampai seperti orang tua, tidak punya penghasilan tetap untuk menjamin kesejahteraan keluarga, kata Siti.
Pesan tersebut mendorong Mahmudah dan Rikah untuk berprestasi sejak duduk di SDN 3 Krebet, Ponorogo. Keduanya konsisten menduduki peringkat tiga besar di kelas dan sering mengukir prestasi dalam berbagai ajang perlombaan.
Mahmudah berhasil mengumpulkan 18 penghargaan, sedangkan Rikah mengantongi 14 trofi. Kejuaraan yang mereka ikuti membentang dari olimpiade tingkat karesidenan hingga kompetisi esai dan poster tingkat nasional.
Dalam kompetisi memanglah kemenangan itu selalu ada, begitu juga dengan kekalahan, kata Mahmudah.
Perjuangan Panjang Menembus UGM
Impian kuliah di UGM berawal dari kisah inspiratif yang didengar Rikah dari gurunya saat masih kelas 4 SD. Ketika beranjak dewasa, Mahmudah juga menyimpan cita-cita yang sama untuk menuntut ilmu di universitas tersebut.
Kendati demikian, perjalanan menuju kampus impian tidak berjalan mulus karena berkali-kali gagal dalam seleksi PTN. Situasi tersebut sempat membuat mental keduanya jatuh sebelum kembali bangkit untuk berjuang.
Kami merasa down pastinya, tapi akhirnya kami bangkit. Kami yakin bahwa masih ada banyak jalan lain yang terbuka, ungkapnya.
Meski sempat diterima di salah satu perguruan tinggi di Malang, niat untuk berkuliah di UGM tetap bulat. Mereka memutuskan mendaftar melalui jalur Penelusuran Bibit Unggul Tidak Mampu (PBUTM) UGM.
Usaha pantang menyerah tersebut membuahkan hasil manis. Mahmudah diterima pada program D4 Manajemen dan Penilaian Properti Sekolah Vokasi UGM, sementara Rikah lolos di program D4 Teknologi Veteriner Sekolah Vokasi UGM.
Setelah penantian yang panjang, perjuangan saya untuk banyak belajar dan prestasi yang saya kumpulkan, akhirnya itu membuahkan hasil, tutur Mahmudah bersyukur.
Mematahkan Stigma Daerah Asal
Keberhasilan ini membawa harapan baru bagi desa tempat tinggal mereka. Kawasan tersebut sebelumnya sempat dilabeli stigma negatif akibat keterbatasan akses pendidikan, isolasi geografis, serta maraknya warga yang memilih bekerja sebagai buruh migran tanpa melanjutkan sekolah.
Rikah berharap ilmu Teknologi Veteriner yang didapatkannya nanti dapat diterapkan untuk membantu perekonomian warga desa melalui pembentukan komunitas penyuluhan peternakan. Atas capaian ini, ia menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada orang tuanya.
Terima kasih untuk tidak menyerah dan selalu mendukung saya, tuturnya.
Perjuangan dua bersaudara ini mendapat apresiasi dari sang ayah yang bersyukur atas kesempatan pendidikan tinggi bagi kedua putrinya, meskipun sempat khawatir karena harus melepas mereka pergi jauh ke Yogyakarta.
Bersyukur, senang anak-anak bisa diterima di UGM, ucapnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow