Kemendikdasmen Genjot Pelatihan Koding dan Kecerdasan Artifisial Guru
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) gencar melaksanakan pelatihan mandiri koding dan kecerdasan artifisial untuk para pendidik. Program ini mencatat tingkat partisipasi satuan pendidikan yang menembus angka 97 persen hingga tahun 2026.
Inisiatif ini diluncurkan untuk memfasilitasi guru serta tenaga kependidikan dalam mengintegrasikan teknologi koding dan kecerdasan artifisial di dalam kelas. Dilansir dari Detikcom, program yang dimulai sejak 2025 tersebut awalnya menyasar 60.000 satuan pendidikan dengan capaian awal 88 persen.
"Seknow untuk pelatihan coding dan kecerdasan artifisial capaian bahkan lebih tnggi yaitu 97 persen dari target 55.000 satuan pendidikan dengan 53.023 yang sudah terlatih dan 38 persen sekolah yang telah menerapkan koding dan kecerdasan artifisial sebagai mata pelajaran," ujar Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kemendikdasmen Nunuk Suryani dalam Peluncuran Pelatihan Mandiri Pembelajaran Mendalam dan Koding Kecerdasan Artifisial di RGTK di Balai Guru dan Tenaga Kependidikan DKI Jakarta, Jakarta Selatan, Kamis (9/7/2026).
Langkah perluasan program ke depan akan didukung dengan mengoptimalkan peran para fasilitator. Kemendikdasmen menjadwalkan penurunan 692 fasilitator nasional pada tahun 2026, yang akan bersinergi dengan 14.957 fasilitator dari angkatan tahun 2025.
Metode Teacher Experimental Training (TET) juga diterapkan untuk memperkuat implementasi di lapangan. Melalui skema ini, sekolah diposisikan sebagai wadah eksperimen langsung untuk memasukkan materi teknologi ke dalam mata pelajaran yang diampu guru.
"Sekarang langsung implementasi di mata pelajaran masing-masing, sehingga guru matematika bertemu dengan guru matematika, guru Bahasa Indonesia bertemu dengan guru Bahasa Indonesia. Jadi langsung pelatihan, terus implementasi, pertemuan berikutnya lagi refleksi," kata Nunuk.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, memberikan penilaian strategis terhadap program ini. Ia memandang pelatihan tersebut sebagai langkah mendasar untuk membenahi sistem pendidikan dari sektor hulu.
"Program pelatihan ini memang menjadi pilihan yang kita sebut sebagai exit strategy karena idealnya hal yang memang harus didiskusikan secara mendalam," tutur Mu'ti.
Faktor keterbatasan anggaran finansial sempat disinggung dalam pelaksanaan program mandiri ini. Kendati demikian, Abdul Mu'ti menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak menghentikan akselerasi peningkatan kompetensi guru.
"Memang ada berbagai keterbatasan finansial, tetapi kita juga berusaha bagaimana agar keterbatasan ini tidak menjadi sebab untuk kita tidak melangkah," tegasnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow