— Investor asing menjadi pembeli terbesar saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) pada perdagangan Jumat (3/7/2026), mencetak pembelian bersih (net buy) senilai Rp 193,7 miliar di pasar reguler Bursa Efek Indonesia.

Data memperlihatkan aksi beli asing terhadap BBCA menempati puncak dibandingkan emiten lain pada hari itu, diikuti pembelian bersih pada PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp 63,6 miliar.

Pergerakan Asing Di Saham Perbankan

Sementara itu, tekanan jual asing paling besar terjadi pada PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan net sell mencapai Rp 251,9 miliar. Emiten ritel PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) juga mengalami net sell asing sebesar Rp 91,49 miliar.

Secara agregat, investor asing hanya membukukan net buy tipis sebesar Rp 6,08 miliar di seluruh pasar pada hari tersebut. Hingga saat ini, total net sell asing sepanjang tahun berjalan tercatat Rp 74,4 triliun, berdasarkan data Bursa.

Kinerja Empat Bank Besar

Empat bank besar (big-4) — BBRI, BMRI, BBNI, dan BBCA — mencatatkan pertumbuhan laba bersih agregat 9% secara tahunan (year on year/yoy) untuk periode Januari–Mei 2026. Analis Victoria Venny menyebutkan angka tersebut sejalan dengan estimasi mereka.

Secara rinci, BMRI memimpin dengan kenaikan laba bersih 19% yoy, diikuti BBRI 10% dan BBNI 7%. BBCA mencatat pertumbuhan lebih moderat, yakni 2% yoy, yang menurut Victoria disebabkan oleh basis laba tahun sebelumnya yang sudah tinggi.

Target Harga BBCA & BMRI

MNC Sekuritas mempertahankan pandangan overweight untuk sektor perbankan, dengan alasan valuasi yang dinilai telah mencerminkan potensi risiko penurunan, ditopang imbal hasil dividen menarik dan kualitas aset yang relatif stabil.

Rumusan rekomendasi menempatkan BBCA sebagai pilihan utama dengan rekomendasi buy dan target harga Rp 8.700. BBCA dinilai memiliki profil laba defensif dan kualitas aset terbaik di kelasnya.

BMRI juga dipertahankan sebagai pilihan utama dengan rekomendasi buy dan target harga Rp 6.050, didukung momentum laba dan PPOP yang memimpin di sektor perbankan.

Adapun risiko penurunan yang perlu diwaspadai, menurut riset tersebut, meliputi ketatnya likuiditas serta potensi tren penurunan kualitas aset yang lebih lemah dari perkiraan.