Kebakaran Hutan di Indonesia Hanguskan Lebih dari 107 Ribu Hektare Lahan
Pemerintah Indonesia meningkatkan kewaspadaan terhadap penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang telah menghanguskan lebih dari 107.000 hektare lahan di berbagai wilayah hingga Senin (10/8/2026). Peningkatan luasan areal terbakarnya lahan ini dipicu oleh fenomena El Nino ekstrem yang diperkirakan berlangsung hingga Oktober 2026.
Titik api berskala besar terpantau di beberapa wilayah prioritas seperti Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, hingga kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur. Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan jajaran menteri dan lembaga terkait untuk berkoordinasi cepat memadamkan api serta menekan dampak kekeringan.
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Djamari Chaniago menegaskan pengawasan ketat diberlakukan di enam provinsi rawan, terutama pada area gambut yang sangat rentan terbakar. Pemerintah fokus mencegah penyebaran api dan menjaga agar paparan asap tidak meluas sampai ke wilayah negara tetangga.
"Yang kita waspadai mulai dari Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalbar, Kalteng, dan Kalsel," kata Djamari Chaniago, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan.
Guna menekan dampak Karhutla, pemerintah juga memantau pergerakan lintasan asap agar tidak melintasi perbatasan negara sekitar. Hingga saat ini tidak ditemukan sebaran asap yang masuk ke wilayah tetangga.
"Saya kira itu yang istilahnya apa, asap kita itu bisa ke mana-mana ya. Jadi kita juga upaya sekeras mungkin upaya itu untuk tidak mengganggu juga pihak lain. Itulah yang kita lakukan ya, baik ke negara tetangga yang mana pun dekat dengan kita itu pasti asap itu. Tapi selama sampai dengan hari ini tidak ada itu ya, dan itu tidak ada, dan kita jaga betul supaya tidak," kata Djamari Chaniago, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan.
Kondisi cuaca memburuk akibat potensi kombinasi El Nino dan IOD positif atau fenomena El Nino "Godzilla" yang menurunkan curah hujan secara drastis. Penanganan di lapangan terus dipercepat sebelum puncak kekeringan berakhir.
"El Nino yang kuat, yang sudah berlaku dan mulai berlaku sekarang sampai dengan awal September atau awal Oktober yang akan datang. Keadaan ini akan sangat mempercepat proses penanganan kebakaran hutan kita yang terjadi saat ini," kata Djamari Chaniago, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan.
Upaya pemadaman menggunakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) terus diupayakan sebagai langkah paling efektif, meski penerapannya amat bergantung pada ketersediaan awan hujan di atmosfer.
"Tetapi ada satu persyaratan yang harus kita hadapi yaitu kita menemukan ada awan hujan, istilahnya awan hujan. Selama awan hujan itu tidak bisa kita temukan, tidak ada, kita tidak akan bisa membuat hujan buatan," kata Djamari Chaniago, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan.
BMKG memprediksi pembentukan awan hujan berpotensi muncul dalam beberapa hari ke depan sebelum pertengahan Agustus untuk mendukung pemadaman udara.
"Minggu-minggu ini sampai dengan tanggal 18 Agustus itu ada tiga atau empat hari kemungkinan awan hujan ada.Kalau itu ada, itu memang mungkin anugrah yang diberikan kepada kita, mungkin menjelang 17 Agustus ini semoga itu akan keluar awan hujan itu," kata Djamari Chaniago, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan.
Hingga pertengahan Agustus, total area yang terdampak kebakaran di seluruh wilayah Indonesia telah menembus angka ratusan ribu hektare.
"Sampai dengan hari ini, wilayah kita di Indonesia ini yang terbakar hutan terhitung 107.000 hektar lebih," kata Djamari Chaniago, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan.
Pemerintah memastikan bahwa area titik api yang sempat meluas di wilayah Jawa Barat dan Nusa Tenggara Barat kini telah berhasil ditanggulangi sepenuhnya.
"Kemudian di Jawa Barat juga sudah selesai, di Gunung Gede Pangrango di situ itu pun sudah selesai (diatasi)," kata Djamari Chaniago, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan.
Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa pengerahan sarana pemadaman seperti helikopter dan pesawat pemadam dilakukan atas instruksi langsung dari Presiden.
"Dalam rangka atau dari masa El Nino ini, masih banyak terjadi karhutla-karhutla di sebagian wilayah Indonesia. Beberapa yang sangat banyak jumlah titik api adalah di Kalimantan Barat dan di Kalimantan Tengah, dan yang cukup besar terjadi di Jawa Timur, di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru," kata Prasetyo Hadi, Menteri Sekretaris Negara.
Pemerintah pusat terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan seluruh unit armada pemadam beroperasi secara optimal di titik-titik krusial.
"Semua dimonitor kemudian peralatan-peralatan termasuk water bombing, helikopter, dan pesawat-pesawat yang dapat membantu untuk mengatasi karhutla sesuai dengan petunjuk dan perintah Bapak Presiden tadi malam, hari ini semua kami koordinasikan," kata Prasetyo Hadi, Menteri Sekretaris Negara.
Masyarakat mengimbau agar seluruh pihak berhati-hati dan menghindari aktivitas memicu percikan api di tengah kondisi lingkungan yang sangat kering.
"Kami mohon dengan sangat kepada seluruh masyarakat untuk kita mawas diri, menghindari melakukan sesuatu yang berpotensi menimbulkan kebakaran-kebakaran yang tidak terkendali," kata Prasetyo Hadi, Menteri Sekretaris Negara.
Penanganan titik api di kawasan Gunung Bromo dilaporkan mengalami kemajuan signifikan setelah pengerahan helikopter pengebom air secara intensif.
"Seperti Bromo, kita kerahkan tiga heli (helikopter) dan langsung bisa mengatasi, dari 34, tinggal 2 titik (api)," kata Suharyanto, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow