Jude Bellingham Antar Inggris Tembus Perempat Final Piala Dunia 2026
Gelandang Real Madrid Jude Bellingham tampil memukau dan menjadi motor utama yang membawa Tim Nasional Inggris menembus babak perempat final Piala Dunia 2026 di Amerika Utara pada Sabtu (11/7).
Pemain berusia 23 tahun tersebut menggalang kemitraan apik di lini depan bersama Harry Kane dengan mencetak empat gol dan satu assist untuk membantu skuad asuhan Thomas Tuchel sejauh ini.
Data Flashscore mencatat Bellingham sebagai pemain dengan performa terbaik di skuad Inggris dengan rating rata-rata 7,9 dari 404 menit bermain yang telah dilalui.
Statistik juga menunjukkan performa efektifnya di lini serang melalui catatan 28 sentuhan di dalam kotak penalti lawan, sembilan dribel sukses, serta delapan penciptaan peluang dari permainan terbuka.
Pakar data Flashscore Daniel Musil memuji pergerakan tanpa bola dari sang gelandang yang dinilai sangat merepotkan pertahanan lawan.
“With 37 off-ball offerings in a single match against Mexico, Bellingham's movement is as much a weapon as his finishing,” kata Daniel Musil, Pakar Data Flashscore.
Menurutnya, setiap pergerakan yang dilakukan oleh Bellingham selalu memaksa barisan pertahanan musuh untuk mengambil keputusan sulit sebelum bola datang.
“Every run he makes forces defenders into decisions before the ball even arrives.” kata Daniel Musil, Pakar Data Flashscore.
Mantan gelandang legendaris Roy Keane turut memberikan sanjungan mendalam atas kemampuan sang pemain dalam menempatkan posisi di waktu yang tepat.
“He has got that presence about him. This timing into the box, you see where he runs from, I don't know if you can coach that,” kata Roy Keane, Mantan Gelandang Inggris.
Ia juga membandingkan ketenangan serta penempatan waktu Bellingham yang luar biasa tersebut dengan jajaran gelandang legendaris Inggris terdahulu.
“A lot of players get there too early, but it's just that calmness, the timing, I don't know if you can coach that. (Steven) Gerrard, (Frank) Lampard, (Paul) Scholes, these guys are just prowling.” kata Roy Keane, Mantan Gelandang Inggris.
Di balik ketenaran sang pemain, BBC Sport melansir bahwa peningkatan performa Bellingham sudah diprediksi sejak ia memecahkan rekor sebagai pemain termuda Birmingham City pada 2019.
Karier internasionalnya melesat cepat di bawah mantan manajer Gareth Southgate hingga ia menjadi pilar krusial pada Euro 2024 setelah mengemas 19 gol untuk Real Madrid.
Namun, perjalanan tersebut sempat diwarnai dinamika setelah Thomas Tuchel sempat memicu kehebohan media akibat kesalahpahaman komentar mengenai perilaku di lapangan.
“used the word unintentionally” kata Thomas Tuchel, Kepala Pelatih Inggris.
Tuchel kemudian menyampaikan permohonan maaf dan sempat tidak memanggil Bellingham pada bulan Oktober demi fokus memulihkan kebugaran pascaoperasi bahu.
“He is a special player, and for special players there can always be special rules,” kata Thomas Tuchel, Kepala Pelatih Inggris.
Tuchel menegaskan bahwa sang gelandang selalu layak berada di dalam tim nasional dan mereka telah mendiskusikannya via telepon.
“But we decided to keep with the straightforward decision of inviting the same group.” kata Thomas Tuchel, Kepala Pelatih Inggris.
Pihak terdekat mengonfirmasi bahwa kepemimpinan Tuchel tetap berjalan baik seiring kesiapan sang pemain memberikan kontribusi maksimal bagi Three Lions.
“Jude always deserves to be here. He wanted to be called up. We had a phone call.” kata Thomas Tuchel, Kepala Pelatih Inggris.
Kesuksesan Jude dan adiknya, Jobe Bellingham yang kini membela Sunderland, tidak lepas dari pengorbanan kedua orang tua mereka, Denise dan Mark Bellingham.
Dilansir dari aol.com, Mark merupakan pensiunan sersan polisi West Midlands yang juga agen sepak bola bagi anak-anaknya, serta mantan penyerang liga bawah dengan rekor 700 gol.
Jude secara terbuka menyatakan bahwa didikan kedua orang tuanya yang berlatar belakang kelas pekerja sangat membentuk karakter tangguh di dalam maupun luar lapangan.
“Before being great parents they’re great people,” kata Jude Bellingham, Pemain Timnas Inggris.
Ia mengaku tumbuh besar dengan melihat cara kedua orang tuanya berinteraksi dan memperlakukan orang lain dengan sangat baik.
“I’ve grown up around them and seen the way they interact with other people, seen the way they treat people. When you have people like that, you don’t have to be told how to behave, you pick that up from them.” kata Jude Bellingham, Pemain Timnas Inggris.
Bellingham menambahkan bahwa nilai-nilai kerja keras dan pantang menyerah yang ditanamkan orang tuanya telah diterapkan langsung ke dalam sepak bola.
“Both are working-class and filled me with the things you need to get along. You can take those lessons in your personal life and social life, but also into football: not giving up, working hard and if you want something, putting in the graft to go and get it.” kata Jude Bellingham, Pemain Timnas Inggris.
Mantan pelatih tim muda Inggris Kevin Betsy mengungkapkan bahwa Mark memiliki komunikasi yang sangat disiplin dan terstruktur berkat latar belakang kepolisiannya.
“They wanted regular football in a really good league, to get him first-team exposure in high-pressure situations.” kata Kevin Betsy, Mantan Pelatih Tim Muda Inggris.
Karakter tegas dari sang ayah tersebut pada akhirnya tecermin kuat pada disiplin permainan yang dimiliki oleh Jude maupun Jobe.
“He was very, very clear with how he wanted support and communication. He comes from the police background, so he’s very clear and concise, very disciplined, and that reflects on Jude and Jobe” kata Kevin Betsy, Mantan Pelatih Tim Muda Inggris.
Ketika aktif bermain, Mark bahkan sering kali harus langsung bergegas memulai sif kepolisiannya tepat setelah peluit panjang pertandingan berakhir.
Pelatih Leamington kala itu, Jason Cadden, memberikan apresiasi tinggi terhadap kemampuan Mark membagi waktu antara pekerjaan, keluarga, dan sepak bola.
“Evening games, the full-time whistle would blow and you’d see Mark sprint off the pitch. He’d jump in the shower, get in his car and start his police shift at 10pm. To juggle his job, his family life and yet still do what he did on the pitch — it’s full credit to him as a person, really. And he played into his forties!” kata Jason Cadden, Mantan Pelatih Leamington.
Jude mengakui sering menonton ayahnya bertanding, yang menjadi awal mula munculnya kecintaan mendalam terhadap dunia si kulit bundar.
“I used to watch him play all the time; it’s where I started to get that love for football. I think you can see in the way I play that I’ve watched the game from a young age. That non-league style of toughness and being gritty when you need to be is reflected in my game, and I do think that comes from watching my dad play — even though he never tackled!” kata Jude Bellingham, Pemain Timnas Inggris.
Saat Jude memutuskan hengkang ke Borussia Dortmund di Jerman, sang ibu ikut pindah menemaninya sementara sang ayah tetap di Inggris bersama Jobe.
Kehadiran Denise diakui Jude sangat krusial dalam menjaga stabilitas emosionalnya agar tetap membumi di tengah dinamika performa lapangan.
“Without my mum, sometimes I’d get too low with the lows or too high with the highs and I stay pretty humble because I’ve got her around. It’s also great to have her there because she’s a great laugh as well. We get on so well and we’re always doing stuff together.” kata Jude Bellingham, Pemain Timnas Inggris.
Kevin Betsy menambahkan bahwa Denise adalah sosok ibu yang sangat peduli dan memahami naik-turunnya emosi seorang anak di akademi sepak bola.
“Like most mothers, Denise is very caring. She understood the rollercoaster of emotions that come with being a child in an academy where the journeys are very up and down.” kata Kevin Betsy, Mantan Pelatih Tim Muda Inggris.
Kini perhatian penuh tertuju pada laga perempat final mendatang, di mana kontribusi Bellingham diharapkan kembali krusial bagi skuad Inggris.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow