Indeks Kospi Korea Selatan Anjlok Akibat Tekanan Saham Chip

Smallest Font
Largest Font

Indeks saham utama Korea Selatan, Kospi, anjlok hingga lebih dari 3 persen ke level 6.605 pada perdagangan Senin, 20 Juli 2026. Penurunan ini memperpanjang tren koreksi ke titik terendah sejak akhir April akibat melemahnya saham semikonduktor global dan ketegangan di Timur Tengah.

Aksi jual besar-besaran pada saham teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) menekan pergerakan bursa global. Selain itu, peningkatkan konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran turut memperburuk sentimen pasar lantaran memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi serta kenaikan harga minyak.

Sebelumnya pada perdagangan Kamis, 16 Juli 2026, Kospi juga tercatat merosot tajam 6,31 persen atau 468,81 poin ke posisi 6.820. Penurunan tersebut terjadi setelah indeks sempat menyentuh level terendah intraday di posisi 6.731.

Merosotnya pasar saham Seoul dipengaruhi oleh keputusan Bank of Korea yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 2,75 persen. Langkah naik suku bunga pertama sejak Januari 2023 ini diambil untuk menekan inflasi di level 3,2 persen akibat konflik Timur Tengah serta mengendalikan utang rumah tangga.

Sektor teknologi mengalami koreksi signifikan, di mana saham SK Hynix sempat merosot hingga 12 persen dan Samsung Electronics turun sekitar 9 persen pada perdagangan Kamis. Dalam kurun satu bulan terakhir, saham Samsung terkoreksi 26 persen sementara SK Hynix menyusut hampir 23 persen.

Ketegangan pasar diperberat oleh rencana pengawasan ketat terhadap produk exchange-traded fund (ETF) leverage berbasis saham tunggal oleh Financial Services Commission (FSC).

"Ini pada dasarnya adalah produk berisiko tinggi," kata Lee Eog-weon, Ketua Financial Services Commission (FSC).

Ia menambahkan bahwa pihak regulator telah memberikan edukasi mengenai potensi bahaya instrumen tersebut.

"Kami telah menjelaskan risikonya kepada investor," kata Lee Eog-weon.

Di tingkat internasional, ekspektasi laba yang sangat tinggi terhadap sektor AI membuat pasar modal memicu koreksi ketika hasil kinerja tak memenuhi harapan sempurna.

"When you've a lot of optimism in the market you need everything to go right. Any piece of negative news can throw the market off," kata Tony Welch, Chief Investment Officer di SignatureFD.

Ia mengidentifikasi bahwa kondisi kepercayaan pasar yang tinggi saat ini menjadi tantangan besar bagi kenaikan harga saham.

"There's a lot of confidence built in right now. It's not a bad thing in itself but it does create a high hurdle for market prices to keep going higher," kata Tony Welch.

Analisis lain menilai penilaian pasar terhadap perdagangan AI tidak lagi didasarkan pada pertumbuhan semata.

"That tells you the AI trade isn't being priced on growth anymore. It's being priced on perfection. Any earnings report that's merely great, instead of flawless, gets sold," kata Gene Goldman, Chief Investment Officer di Cetera.

Kondisi ini menempatkan bursa Korea Selatan dalam jaringan volatilitas global bersanding dengan pasar modal Amerika Serikat.

"South Korea is now part of the same volatility ecosystem as the Nasdaq and the Philadelphia Semiconductor Index, or SOX," kata Ivan Feinseth, Chief Investment Officer di Tigress Financial Partners.

Ia menjelaskan bahwa pergerakan saham teknologi Korea Selatan kini berfungsi sebagai petunjuk awal bagi pasar AS.

"Samsung Electronics, SK Hynix and the Kospi are acting as premarket signals for risk sentiment in U.S. AI and semiconductor stocks," kata Ivan Feinseth.

Di tengah tekanan pasar, Samsung Biologics menyepakati akuisisi perusahaan asal Swiss, PolyPeptide Group, senilai 1,8 miliar dolar AS secara tunai untuk memperluas kapabilitas manufaktur CDMO dan peptida global.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed