IBM Rilis Peta Jalan Transformasi Perusahaan AI 2030
Perusahaan teknologi IBM merilis peta jalan transformasi untuk mendukung berbagai organisasi menjadi perusahaan berbasis kecerdasan buatan (AI) pada 2030 dalam acara IBM THINK on Tour di Singapura, Selasa (21/7/2026), dilansir dari Investor Daily.
Langkah ini diambil untuk menjawab pergeseran pasar dari eksperimen AI yang terpisah menuju tata kelola yang terkoordinasi dan berbasis orkestrasi. Dalam ajang tersebut, IBM memperkenalkan lini solusi AI dan cloud hybrid terbaru, seperti IBM watsonx Orchestrate, IBM Confluent, platform IBM Concert, IBM Sovereign Core, IBM Bob, serta perkembangan teknologi komputasi kuantum yang ditargetkan meluncur pada 2029.
General Manager IBM APAC, Hans Dekkers menilai wilayah Asia Pasifik memiliki potensi besar untuk memimpin persaingan teknologi ini karena terbiasa menghadapi tantangan regulasi, kedaulatan data, dan sistem hybrid yang kompleks.
"Asia Pasifik memiliki posisi yang unik untuk menjadi pemimpin dalam kompetisi menuju perusahaan berbasis AI," ujar General Manager IBM APAC, Hans Dekkers.
Ia menambahkan bahwa fleksibilitas dan adaptasi terhadap kompleksitas kawasan akan menjadi kunci utama dalam merancang AI tepercaya yang sesuai dengan kebutuhan kedaulatan data.
"Kawasan ini telah menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perbedaan regulasi, persyaratan kedaulatan data, hingga sistem hybrid yang kompleks dalam skala besar. Dengan menjadikan kompleksitas tersebut sebagai keunggulan strategis dan membangun AI yang sejak awal dirancang sesuai kebutuhan kedaulatan, berbagai organisasi di kawasan ini menjadi tolok ukur global dalam tata kelola dan penerapan AI tepercaya secara luas," tuturnya.
Menurutnya, keberhasilan transformasi bisnis menuju tahun 2030 akan sangat bergantung pada kesiapan fondasi digital serta tata kelola data perusahaan.
"Keberhasilan akan bergantung pada tiga hal utama, yaitu AI yang tepercaya, data yang siap digunakan untuk AI, serta fondasi digital yang terbuka, hybrid, berdaulat, dan mampu mendukung penerapan dalam skala besar. Organisasi yang mampu membangun fondasi ini dengan baik akan melampaui tahap eksperimen dan menerapkan AI dengan lebih percaya diri, sehingga dapat meningkatkan kecepatan, kelincahan, dan ketahanan yang dibutuhkan untuk memimpin dalam ekonomi berbasis AI," katanya.
Sementara itu, sektor pertahanan Singapura juga mulai memanfaatkan perkembangan komputasi kuantum untuk perencanaan operasional masa depan melalui kerja sama dengan IBM.
"Melalui kolaborasi dengan IBM, DIS dan DSTA membangun keahlian di bidang kuantum, memperkuat kemitraan dengan industri, serta mengeksplorasi penerapan teknologi baru untuk menjawab tantangan operasional di masa depan. Dengan berinvestasi pada sumber daya manusia dan kapabilitas sejak sekarang, kami akan lebih siap memanfaatkan teknologi kuantum ketika teknologi tersebut semakin matang," kata Commander SAF C4 and Digitalisation Command sekaligus Military Expert 7, Guo Jinghua.
Di bidang infrastruktur AI kawasan, IBM bermitra dengan Visionbay.ai yang didukung Hon Hai Technology Group (Foxconn) untuk memperkuat kedaulatan teknologi lokal.
"IBM dan Visionbay.ai, yang didukung oleh Hon Hai Technology Group (Foxconn), akan membantu berbagai negara menjadikan AI sebagai industri digital baru. Hal ini mencakup penguatan kepemilikan lokal atas infrastruktur penting, percepatan adopsi AI oleh perusahaan, pengembangan talenta AI, serta penciptaan peluang ekonomi di seluruh ekosistem. Model Build-Operate-Localize kami merupakan tahap berikutnya dalam pengembangan infrastruktur AI. Bersama IBM, kami membangun fondasi bagi adopsi AI yang tepercaya di seluruh Asia," ujar CEO Visionbay.ai, Neo Yao.
Selain sektor pertahanan dan infrastruktur, IBM juga berkolaborasi dengan Changi General Hospital dalam menerapkan teknologi AI dan watsonx Orchestrate untuk mentransformasi pelatihan simulasi penanganan medis darurat anak.
"Changi General Hospital memadukan AI, mixed reality, dan keahlian klinis untuk menghadirkan pelatihan generasi baru dalam kesiapsiagaan menghadapi Pediatric Mass Casualty Incident (MCI). Pelatihan ini memberikan evaluasi kinerja yang objektif, meningkatkan pengambilan keputusan, dan memperluas penerapan praktik terbaik di seluruh tim layanan kesehatan. Hal ini membantu tenaga klinis menjadi lebih siap, memberikan penanganan yang lebih cepat dan terkoordinasi, serta pada akhirnya menghadirkan layanan yang lebih aman, cerdas, dan personal bagi pasien—terutama ketika setiap detik sangat berarti," terang Senior Consultant Department of Emergency Medicine Changi General Hospital, Adjunct Assistant Professor Jimmy Goh.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow