Harga Emas Dunia Anjlok Tertekan Lonjakan Yield Obligasi AS

Smallest Font
Largest Font

Harga emas dunia mengalami penurunan tajam sebesar 1,86 persen menjadi US$ 4.334,57 per ons troi pada Selasa (18/8/2026), akibat tertekan oleh lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Serikat yang menyentuh tingkat tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir, seperti dilansir dari Investor Daily.

Kenaikan harga energi di tengah eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran turut memperkuat kekhawatiran inflasi global. Kondisi ini memberikan tekanan tambahan pada aset emas yang tidak memberikan imbal hasil. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember 2026 juga ditutup melemah 1,89 persen di posisi US$ 4.388,95 per ons troi.

Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals Peter Grant menjelaskan faktor utama yang membebani pergerakan harga komoditas tersebut.

"Peningkatan kemiringan kurva imbal hasil menjadi hambatan bagi emas, sementara penguatan harga minyak juga menjadi faktor yang menekan harga emas hari ini," ujar Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals.

Meskipun sedang mengalami koreksi harga, pihak Zaner Metals menilai bahwa tren jangka menengah hingga panjang untuk logam mulia ini masih berada dalam jalur positif. Fase penurunan saat ini diperkirakan hanya sebagai tahap konsolidasi pasar.

"Kami tetap bullish terhadap emas dan melihat masih ada potensi kenaikan lebih lanjut, meski pasar mungkin perlu melewati periode konsolidasi sebelum minat beli kembali muncul," kata Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals.

Lonjakan imbal hasil obligasi jangka panjang tidak hanya terjadi di Amerika Serikat, melainkan juga melanda Jepang dan Jerman hingga mencapai rekor tertinggi dalam beberapa dekade. Situasi tersebut meningkatkan biaya peluang dalam memegang emas karena sifatnya yang tidak menghasilkan bunga, di saat harga minyak mentah menguat selama tiga sesi berturut-turut.

Tingginya harga energi kembali memicu kekhawatiran inflasi yang berpotensi mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi. Di sisi lain, sejumlah data ekonomi AS terbaru justru menunjukkan pelemahan, seperti penurunan lapangan kerja yang tidak terduga, angka inflasi di bawah perkiraan, serta lesunya penjualan ritel pada Juli 2026.

Saat ini para pelaku pasar sedang menantikan rilis risalah pertemuan kebijakan moneter terbaru dari The Fed pada Rabu (19/8/2026) untuk mendapatkan petunjuk arah suku bunga acuan. Ekspektasi suku bunga menjadi sentimen krusial, di mana tingkat bunga yang tinggi cenderung menekan permintaan emas.

Sementara itu, konflik geopolitik AS-Iran masih membayangi pasar setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran kemungkinan tidak akan menerima syarat perdamaian. Pihak Iran menegaskan tetap mempertahankan posisi militer ofensif dan menutup Selat Hormuz hingga tuntutan mereka dipenuhi.

Dari analisis lembaga keuangan, Bank of America menilai tingkat permintaan investasi emas saat ini belum memadai untuk mendorong harganya menembus level US$ 5.000 per ons troi. Pola pembelian investor saat ini dinilai lebih mencerminkan harga emas di kisaran US$ 4.000 per ons troi, di mana dibutuhkan pertumbuhan permintaan investasi hingga 21 persen secara tahunan untuk mencapai target US$ 5.000.

Penurunan harga juga melanda komoditas logam mulia lainnya di pasar spot. Harga perak anjlok 3,72 persen menjadi US$ 63,33 per ons, platinum turun 3,19 persen ke level US$ 1.716,65 per ons, dan palladium melemah 2,96 persen menjadi US$ 1.289,45 per ons.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed