Grup Djarum Masuk Saham Bakrie Telecom dengan Kepemilikan 10,86 Persen
PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) yang merupakan bagian dari Grup Djarum resmi menjadi pemegang saham signifikan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) dengan kepemilikan 10,86 persen saham melalui konversi Obligasi Wajib Konversi (OWK) pada 20 Agustus 2026. Protelindo memperoleh sebanyak 4,85 miliar saham BTEL dengan harga pelaksanaan Rp 200 per saham, setelah sebelumnya belum tercatat memiliki saham di perusahaan tersebut, berdasarkan laporan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 24 Agustus 2026. Jumlah saham BTEL yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebelum konversi adalah 38,33 miliar saham, dan setelah konversi OWK dari enam perusahaan termasuk Protelindo, total saham BTEL bertambah menjadi 44,65 miliar saham per 20 Agustus 2026, meningkat sekitar 16,5 persen.
Selain Protelindo, lima perusahaan lain yang melakukan konversi OWK menjadi saham BTEL adalah PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (250,81 juta saham), PT Komet Infra Nusantara (47,36 juta saham), PT Solusi Tunas Pratama Tbk (888,12 juta saham), PT Sarana Inti Persada (35,51 juta saham), dan PT Reka Jasa Akses (247,50 juta saham).
Meski Protelindo memiliki lebih dari 10 persen hak suara, perusahaan menegaskan tidak menjadi pemegang saham pengendali BTEL, sebagaimana disampaikan dalam keterbukaan informasi BEI dan pernyataan resmi Protelindo. "Kepemilikan saham BTEL tersebut terjadi sebagai akibat dari pelaksanaan konversi Obligasi Wajib Konversi (OWK) berdasarkan Perjanjian Perdamaian tanggal 8 Desember 2014 antara BTEL dengan para kreditur terkait, termasuk Perseroan," ujar Protelindo dalam keterangan resmi.
Perjanjian tersebut merupakan tindak lanjut dari putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat terkait Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang Sementara (PKPU) BTEL pada 10 November 2014. Protelindo menegaskan bahwa kepemilikan saham tersebut tidak berdampak material pada kegiatan usaha dan kondisi keuangan perusahaan, yang tetap fokus mengembangkan bisnis inti dan mempertimbangkan peluang secara selektif demi kepentingan jangka panjang.
Dari struktur kepemilikan saham BTEL lainnya, PT Bakrie Global Ventura menguasai 6,89 persen, PT Bioful ICPD3103J7636021NDO Sumatra 8,21 persen, PT Mahindo Agung Sentosa 13,05 persen, dan PT Huawei Tech Investment 16,13 persen. Masyarakat umum memegang 49,65 persen saham BTEL, sementara pemegang saham lain termasuk Raiffeisen Bank International AG Singapore Branch S/A Best Quality Global Limited dengan 5,77 persen saham. Perusahaan telekomunikasi ini telah mengalami tekanan kinerja sejak bisnis CDMA menurun dan perdagangan sahamnya digembok BEI sejak 27 Mei 2019, tetapi manajemen terus berupaya memperbaiki kinerja keuangan dan operasional untuk bertahan di bursa, seperti dikatakan Corporate Secretary BTEL, Purwoko Suatmadji.
"Saat ini perseroan sedang melakukan proses audit laporan keuangan tahun buku 2025 yang diproyeksikan selesai pada bulan Juli 2026," kata Purwoko dilansir dari keterbukaan informasi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow