Bursa Saham Wall Street Melemah Akibat Lonjakan Imbal Hasil Obligasi

Smallest Font
Largest Font

Tiga indeks utama bursa saham Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Selasa (18/8/2026). Penurunan ini dipicu oleh lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah global hingga menyentuh level tertinggi dalam beberapa dekade serta penguatan harga minyak mentah, sebagaimana dilansir dari Investor Daily.

Indeks S&P 500 mencatatkan penurunan selama tiga hari berturut-turut setelah terkoreksi 0,69% ke level 7.691,76. Sementara itu, indeks Nasdaq Composite anjlok 1,33% ke posisi 26.289,71 dan Dow Jones Industrial Average merosot 0,22% menjadi 53.343,40.

Tekanan terbesar pada Nasdaq berasal dari aksi jual saham sektor semikonduktor. Saham Seagate Technology memimpin penurunan sebesar 9%, diikuti Sandisk yang merosot 9%, Marvell Technology terkoreksi hampir 8%, dan Western Digital anjlok 7%.

Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat bertenor 30 tahun yang mencapai level tertinggi dalam 19 tahun menjadi penekan utama pasar. Tren serupa terjadi secara global, di mana yield obligasi Jerman bertenor 30 tahun menyentuh level tertinggi sejak 2011, Prancis sejak 2008, dan yield obligasi Jepang 10 tahun mencatat rekor tertinggi tiga dekade.

Pasar khawatir lonjakan imbal hasil dan penguatan harga minyak mentah West Texas Intermediate sebesar 0,5% menjadi US$ 84,94 per barel akan memicu inflasi yang bertahan lebih lama. Penguatan harga minyak dipengaruhi oleh meredupnya prospek negosiasi antara AS dan Iran.

Manajer Portofolio Logan Capital Management, Bill Fitzpatrick, memberikan tanggapan terkait kecenderungan pelaku pasar dalam merespons tekanan tersebut.

"Pasar mengabaikan tantangan dari sisi imbal hasil obligasi dan lebih memilih fokus pada kinerja laba yang solid serta perkembangan kecerdasan buatan (AI)," ujar Bill Fitzpatrick, Manajer Portofolio Logan Capital Management.

Ia mengingatkan bahwa ketahanan ini bisa memicu koreksi susulan apabila tekanan imbal hasil obligasi tidak kunjung mereda.

"Pada titik tertentu, kami kemungkinan akan rentan terhadap aksi jual," kata Fitzpatrick.

Sentimen geopolitik turut memburuk setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan di Truth Social bahwa pemerintah AS tidak sedang menggelar pembicaraan dengan Iran. Trump juga mengonfirmasi bahwa blokade laut terhadap Iran masih berlangsung sepenuhnya.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed