Pemerintah Lakukan Groundbreaking Proyek Gas Abadi Masela Nilai US$ 20,9 Miliar
Pemerintah resmi memulai peletakan batu pertama (groundbreaking) Proyek Gas Abadi Masela bernilai investasi US$ 20,9 miliar di Kabupaten Kepulauan Tanimbar pada Kamis (16/7/2026), setelah mengalami penundaan selama 28 tahun, sebagaimana dilansir dari Detik Finance.
Eksekusi proyek strategis nasional ini berhasil dilakukan pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Langkah awal pembangunan fisik ini berjalan usai perdebatan panjang mengenai lokasi proyek di darat atau di laut diselesaikan melalui instruksi presiden.
"Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, pada hari ini tepat 16 Juli 2026 kita menandai babak baru, proyek abadi Masela yang sudah dicanangkan 28 tahun lalu, enam presiden. Presiden Prabowo Subianto lah yang bisa eksekusi ini," ujar Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Menurut Bahlil, keputusan cepat diambil demi menguatkan ketahanan energi nasional serta mendorong pertumbuhan ekonomi domestik. Arahan kepala negara difokuskan pada percepatan asistensi dan penegasan terhadap seluruh konsesi perizinan minyak dan gas bumi yang mandek.
"Saya harus sampaikan kepada bapak presiden karena proyek ini sudah terkatung-katung di darat atau di laut. Dan ini perdebatan yang panjang tapi atas bimbingan dan arahan bapak Presiden untuk segera mengeksekusi, melakukan asistensi dan memberikan penegasan kepada seluruh konsesi-konsesi perizinan minyak dan gas yang telah diberikan yang sudah selesai POD tapi tidak bisa dilaksanakan, segera diberikan instruksi cepat," kata Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Kementerian ESDM sebelumnya sempat melayangkan surat peringatan pertama kepada pihak pengelola karena rencana pengembangan (POD) yang tidak kunjung berjalan. Tindakan tegas tersebut mendorong dimulainya konstruksi fasilitas gas raksasa ini.
"Maka atas dasar itu surat peringatan pertama kita layangkan dan Alhamdulillah hari ini sudah kita lakukan groundbreaking untuk pembangunan berikutnya," sambung Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Proyek yang berada sekitar 170-180 kilometer di sebelah barat daya Kabupaten Kepulauan Tanimbar ini dikelola lewat skema cost recovery PSC. INPEX Masela Ltd bertindak sebagai operator pemegang saham mayoritas sebesar 65 persen, disusul PT Pertamina (Persero) sebanyak 20 persen, dan Petronas memegang 15 persen saham.
Fasilitas ini ditargetkan mampu memproduksi LNG sebesar 9,5 juta ton per tahun (MTPA) serta mendistribusikan gas pipa domestik sebanyak 150 MMSCFD. Selain itu, lapangan gas ini diproyeksikan menghasilkan kondensat hingga 35.000 barel per hari.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow