Gelombang Panas Tekan Produksi PLTN dan Pertumbuhan Ekonomi Eropa
Gelombang panas dan kekeringan ekstrem di Eropa mulai menekan sektor energi dengan sejumlah pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) mengurangi produksi hingga menghentikan operasi karena pasokan air untuk pendingin reaktor terbatas, dilansir dari Investor Daily.
Di Rumania, Nuclearelectrica memutus satu-satunya reaktor yang masih beroperasi akibat rendahnya permukaan air Sungai Danube, meski pemerintah sudah melakukan berbagai upaya menjaga aliran air, termasuk pengerukan dan peledakan bawah air.
PLTN Cernavoda yang memiliki dua reaktor biasanya memasok sekitar 20% kebutuhan listrik Rumania.
Di Hungaria, curah hujan yang meningkat memungkinkan PLTN Paks mengoperasikan satu turbin tambahan. Perdana Menteri Péter Magyar mengatakan dua dari delapan turbin sudah kembali beroperasi, dengan PLTN ini menyumbang hampir separuh kebutuhan listrik nasional.
Prancis, yang mengandalkan sekitar 70% listrik dari tenaga nuklir, juga mengurangi produksi sejumlah reaktor karena suhu panas dan kekeringan. EDF menutup tiga reaktor di PLTN Gravelines setelah ubur-ubur dalam jumlah besar mengaktifkan sistem pencegahan otomatis.
Fenomena serupa sudah terjadi tahun lalu, dengan penutupan pembangkit nuklir dalam jumlah tinggi selama musim panas ini akibat gelombang panas, kebakaran hutan, dan kekeringan.
PLTN biasanya dibangun dekat sungai atau pesisir untuk kebutuhan air pendinginan yang besar. Pemerintah Eropa kini mempertimbangkan memperkuat ketahanan fasilitas nuklir terhadap perubahan iklim dengan meningkatkan sistem pendinginan dan menyesuaikan jadwal pemeliharaan.
Di Inggris, Perdana Menteri Andy Burnham menggelar rapat komite darurat Cobra untuk membahas dampak panas ekstrem, kebakaran hutan, dan kekeringan saat suhu berpotensi mencapai 38 derajat Celsius.
Kepala Program Internasional Energy and Climate Intelligence Unit Gareth Remond-King mengatakan penanganan kondisi ini harus dilakukan lebih awal karena panas ekstrem dan dampaknya menunjukkan tekanan meningkat pada sistem iklim.
"Ini bukan sesuatu yang akan berlalu begitu saja," ujar Gareth Remond-King.
Remond-King juga memperingatkan kondisi dapat memburuk jika penggunaan bahan bakar fosil dan emisi gas rumah kaca terus meningkat.
Dampak cuaca ekstrem tidak hanya pada energi, tetapi juga ekonomi Eropa. Bank Belanda Triodos memperkirakan kerugian ekonomi akibat gelombang panas musim panas ini bisa mencapai 180 miliar euro atau sekitar US$207,7 miliar, setara 1% produk domestik bruto Uni Eropa, hampir sama dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi blok 27 negara itu sepanjang 2026.
Triodos menyebutkan penurunan produksi pertanian, kenaikan harga pangan, terbatasnya produksi energi, kenaikan harga listrik, gangguan transportasi, dan penurunan produktivitas tenaga kerja sebagai jalur utama tekanan ekonomi.
"Dampak utama panas terhadap PDB Uni Eropa adalah penurunan produksi pertanian dan kenaikan harga pangan, terbatasnya produksi energi dan kenaikan harga listrik, gangguan transportasi dan peningkatan biaya transportasi, serta penurunan produktivitas tenaga kerja," kata Triodos.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow