Fenomena Ngetag Parkir Berujung Cekcok Viral di Media Sosial

Smallest Font
Largest Font

Aksi berdiri di tempat kosong demi memesan area parkir untuk kendaraan lain kembali memicu perselisihan di ruang publik. Persitiwa yang terekam kamera ini mendadak tular di platform media sosial Threads usai diunggah oleh akun @radityarusydi. Insiden tersebut bermula ketika petugas area parkir memberitahukan ketersediaan tempat kosong kepada pengemudi.

Namun, saat kendaraan hendak meluncur ke titik yang dimaksud, seorang perempuan tampak sudah berdiri di tengah slot kosong tersebut untuk menahannya bagi mobil lain yang belum tiba. Perdebatan sempat terjadi hingga pengunggah video memilih mengalah. Meski demikian, friksi tak berhenti di situ karena pasangan suami istri yang melakukan penahanan tempat parkir tersebut kembali menunggu pengunggah di dalam gedung hingga terjadi perselisihan berlanjut, seperti dilansir dari Detik Oto.

Menanggapi fenomena menahan slot parkir atau tagging ini, Ketua Umum Indonesia Parking Association (IPA) Rio Octaviano menegaskan bahwa tindakan tersebut menyalahi norma kesopanan. Meski belum ada regulasi tertulis yang melarangnya, tindakan ini dinilai tidak patut secara etika.

"Tidak dibenarkan secara etika. Karena balik lagi, saya bicara di sini belum ada aturan yang telah disepakati," kata Rio. Ia mencontohkan praktik penahanan tempat yang keliru, misalnya seseorang yang mengamankan tempat lebih dari satu menit untuk rekan yang masih berada di lokasi lain. Menunggu di lokasi sambil menghubungi kerabat agar datang ke lantai parkir tertentu dinilai kurang bijak jika memakan waktu lama.

"Yang kurang baik adalah, misalnya (mobil) dia belum masuk lot parkir, tapi sudah ada satu orang yang, misalnya dia nelpon temannya di dalam infoin ada parkiran di lantai B2, terus dia standby di situ, nah itu membutuhkan waktu, lebih dari 1 menit atau 2 menit. Nah itu saya rasa itu kurang baik," jelas Rio. Guna mencegah timbulnya keributan di fasilitas umum, pengendara diimbau untuk menyikapi situasi dengan kepala dingin. Penanganan potensi konflik secara bijak jauh lebih diutamakan mengingat standar etika setiap individu dapat berbeda-beda.

"Karena balik lagi di sini tidak ada aturan yang berlaku, jadi bagaimana kita menyikapinya tanpa emosi. Kalau misalnya memang ada kejadian yang memang berpotensi menunjukkan friksi lebih baik dihindari. Itu kalau saya pribadi ya.

Karena balik lagi di sini bukan tidak tahu mana yang benar. Kalau kita bicara hanya adab dan etika, setiap orang itu memiliki standarnya masing-masing," ujar Rio.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed