Eks Perwira Intel Israel Ungkap Saluran Rahasia dengan Hamas
Mantan perwira intelijen Israel (Shin Bet) Adi Rotem mengungkapkan bahwa dirinya pernah memimpin saluran komunikasi rahasia tingkat tinggi dengan pejabat senior Hamas Ghazi Hamad pada 2024 untuk memfasilitasi kesepakatan pembebasan sandera di Jalur Gaza.
Rotem membeberkan dalam wawancara dengan Channel 12 pada Sabtu (29/8/2026) bahwa pembicaraan langsung tersebut mendapatkan persetujuan dari eselon politik Israel saat gempuran militer sedang berlangsung di Gaza.
Inisiatif diplomasi rahasia ini membuahkan hasil pada Januari 2025 melalui kesepakatan bertahap yang membebaskan puluhan sandera Israel, baik dalam kondisi hidup maupun tewas, sebagai imbalan atas penambahan bantuan kemanusiaan serta pembebasan lebih dari 1.000 tahanan keamanan Palestina.
Kesepakatan awal tersebut sedianya dilanjutkan ke fase kedua dan ketiga untuk mengakhiri perang serta menarik seluruh pasukan Israel, namun gencatan senjata rontok di tahap awal akibat serangan balasan yang terus berlanjut hingga akhirnya disusul kesepakatan baru usulan Amerika Serikat pada Oktober lalu.
Langkah menghubungi Hamad diambil Rotem karena rekam jejak pejabat Hamas tersebut dalam Perjanjian Shalit 2011 yang membebaskan 1.027 tahanan Palestina, termasuk Yahya Sinwar, di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Keputusan membuka jalur diplomasi langsung dipicu oleh tewasnya enam sandera pada Agustus 2024, yakni Hersh Goldberg-Polin, Ori Danino, Eden Yerushalmi, Almog Sarusi, Alexander Lobanov, dan Carmel Gat, setelah proses negosiasi berjalan buntu sepanjang musim panas.
"Saya mengerti bahwa jika ada alamat, dialah alamat yang tepat. Ghazi Hamad adalah seseorang yang kami kenal dari masa lalu... Dia cukup senior, dan cerdik, memiliki akses ke seluruh pimpinan [Hamas]. Saya tentu tidak naif tentang dia, tetapi ada sesuatu tentang dirinya yang mengatakan bahwa mungkin saja kita dapat melakukan diskusi ini dengannya," kata Rotem.
Upaya negosiasi tersebut dilakukan menyusul keberhasilan tahap awal pembebasan tawanan di masa awal konflik.
"Itu setelah kami menyelesaikan kesepakatan untuk pembebasan sandera perempuan dan anak-anak pada akhir tahun 2023," ujar Rotem.
Rotem menambahkan bahwa ia menyampaikan penegasan posisi yang jelas kepada Hamad sejak awal komunikasi dibuka.
"Sebenarnya, kata-kata persis itu: Kita adalah musuh di masa perang. Kita akan terus berperang. Pada saat yang sama, kita memiliki peran fungsional.
Saat ini kita sedang menyelesaikan masalah negosiasi. Dan kita akan terus menjadi musuh bebuyutan sesaat sebelum dan sesaat setelahnya," tutur Rotem.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow