DT Darwis Hadapi Penghinaan Setelah 34 Tahun Suaranya Menghidupkan Pacu Jalur
Selama 34 tahun sejak 1992, suara DT Darwis menjadi bagian tak terpisahkan dari Pacu Jalur di Tepian Narosa, Kuantan Singingi. Namun kini, ia menghadapi penghinaan yang melukai dirinya dan masyarakat setempat.
DT Darwis dikenal sebagai komentator yang penuh semangat, menghidupkan suasana dengan teriakkan nama-nama jalur. Suaranya menjadi pengobat rindu bagi perantau Kuansing, yang telah melewati beberapa generasi.
Ketua Tim Kuasa Hukum DT Darwis, Ikhsan, S.H., M.H., CLA., CPM, meminta masyarakat menahan diri dan tidak menggunakan cinta kepada DT Darwis sebagai alasan untuk membenci siapa pun.
"Kami memahami kekecewaan masyarakat. Namun kami meminta satu hal: jangan jadikan rasa cinta kepada DT Darwis sebagai alasan untuk membenci siapa pun," ujar Ikhsan.
Ikhsan juga mengingatkan agar persoalan ini tidak dijadikan sebagai konflik SARA atau perpecahan antar kelompok etnis dan agama.
"Jangan membawa persoalan ini menjadi Batak melawan Melayu. Jangan menyeret Sumatera Utara berhadapan dengan Kuantan Singingi. Jangan pula menjadikan agama, suku ataupun budaya sebagai bahan untuk saling menyerang. Persoalan ini adalah persoalan antarindividu yang sedang diuji melalui mekanisme hukum," tegasnya.
Ikhsan menegaskan bahwa DT Darwis memilih jalur hukum sebagai langkah bermartabat untuk menangani masalah ini, bukan sebagai ajakan balas dendam.
"Langkah hukum yang ditempuh DT Darwis bukanlah ajakan untuk pembalasan. Ketika seseorang merasa kehormatannya dilanggar, negara menyediakan jalan yang jauh lebih bermartabat daripada saling memaki di media sosial," kata Ikhsan.
"Kami tidak meminta masyarakat menghukum siapa pun melalui media sosial. Kami datang kepada kepolisian membawa bukti, bukan membawa kemarahan. Biarkan rekaman diperiksa, konteks diuji, saksi didengar, dan biarkan hukum menentukan hasil akhirnya."
Ikhsan juga mengimbau publik untuk tidak menghakimi sebelum proses hukum selesai, dengan menyatakan bahwa viralitas masalah ini akan berlalu, namun pengabdian DT Darwis selama 34 tahun tetap abadi.
"Jaga DT Darwis dengan doa. Jaga Pacu Jalur dengan marwah. Jaga Kuantan Singingi dengan persaudaraan," tutup Ikhsan.
Suara DT Darwis telah menjadi bagian dari sejarah dan identitas Pacu Jalur di Kuantan Singingi, yang tetap hidup selama tradisi ini berlangsung.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow