DSSA Pacu Diversifikasi Bisnis Nonbatu Bara
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) terus mempercepat langkah diversifikasi bisnis ke sektor nonbatu bara guna mengurangi ketergantungan pada komoditas fosil, seperti dilansir dari Investor Daily pada Senin (10/8/2026). Analis KB Valbury Sekuritas, Adolf RB Setiadi, mencatat bahwa perseroan yang terafiliasi dengan Grup Sinar Mas tersebut saat ini mengelola empat lini usaha utama demi mengamankan kinerjanya. "DSSA kini memiliki empat lini usaha utama, yakni batu bara, infrastruktur digital dan teknologi, bahan kimia, serta energi baru dan terbarukan," tulis Adolf dalam risetnya.
Lini batu bara melalui PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) masih memegang porsi dominan dengan menyumbang 89,1 persen dari total pendapatan konsolidasian DSSA sebesar US$ 2,79 miliar pada 2025. Perusahaan memproduksi 57,2 juta ton batu bara pada tahun tersebut dan menduduki posisi keempat produsen terbesar di Indonesia.
"Volume produksi batu bara mencapai 57,2 juta ton, yang menempatkan perseroan sebagai produsen batu bara dengan volume produksi terbesar keempat di Indonesia," ungkap Adolf. Sektor infrastruktur digital menyumbang 7,6 persen pendapatan, disusul bahan kimia sebesar 3,3 persen, dan energi baru terbarukan sebesar 0,01 persen. Namun, pelemahan produksi serta normalisasi harga komoditas pada kuartal I-2026 menekan profitabilitas. Margin laba kotor tergerus menjadi 35,6 persen dibanding 39 persen pada periode sama tahun sebelumnya, sementara margin EBIT turun dari 20,3 persen menjadi 16,9 persen.
Manajemen DSSA kini membidik kenaikan kontribusi segmen digital dan teknologi hingga 19 persen pada 2026 melalui MoraRepublic dan pengoperasian 25 fasilitas pusat data SM+. "Keberhasilan dalam lelang spektrum juga memberikan ruang tambahan untuk pengembangan bisnis tersebut," jelas Adolf.
DSSA juga merambah sektor energi terbarukan melalui kemitraan dengan FirstGen Geothermal Indonesia untuk mengembangkan pembangkit panas bumi 440 MW, serta membangun pabrik panel surya kapasitas 1 GW per tahun di Kendal. "Transformasi tersebut diperkirakan membutuhkan waktu sebelum memberikan kontribusi yang berarti terhadap kinerja keuangan," sebut dia. Meski pergerakan harga saham DSSA masih dibayangi tekanan pascamasuk klasifikasi high shareholding concentration (HSC) dan aksi pemecahan saham (stock split) 1:25 pada April 2026, fundamental perusahaan dinilai tetap kokoh.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow