Danantara Berpotensi Kuasai Saham VKTR, Bakrie Borong Saham Diskon

Smallest Font
Largest Font

PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) menjalin kesepakatan indikatif non-binding term sheet dengan PT Danantara Investment Management (DIM) yang membuka peluang pendanaan hingga Rp 2 triliun dan potensi Danantara menjadi pemegang saham VKTR, sebagaimana dilansir dari Investor Daily.

Sebelumnya, pada 21 Agustus 2026, PT Bakrie Metal Industries (BMI), anak usaha PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), memborong 3 miliar saham VKTR dengan harga Rp 100 per saham, jauh di bawah harga pasar yang saat itu mencapai Rp 915 per saham.

"Harga pasar saat itu ditutup di Rp 915, artinya BMI membeli dengan diskon hampir 90%," ujar Jason Gozali, Head of Research Pluang Maju Sekuritas, di Jakarta.

Transaksi ini meningkatkan porsi kepemilikan BMI di VKTR dari 14,2% menjadi 21,06%. Jika digabung dengan kepemilikan langsung BNBR sebesar 24,41%, Grup Bakrie kini menguasai mayoritas saham VKTR melewati porsi publik yang tersisa 61,23%.

Jason menilai pola pembelian saham oleh grup pengendali sebelum negosiasi pendanaan besar menunjukkan keyakinan internal terhadap valuasi masa depan perusahaan.

"Ketika kelompok pengendali menambah kepemilikan tepat sebelum negosiasi pendanaan besar dengan entitas pemerintah, itu biasanya mengindikasikan keyakinan internal terhadap valuasi masa depan perusahaan," kata Jason.

Rencana dana dari term sheet tersebut akan digunakan untuk memperkuat ekspansi bisnis mobility as a service (MaaS), khususnya pengadaan bus dan truk listrik. BNBR bertindak sebagai penanggung dalam skema pendanaan ini.

VKTR juga menyiapkan rights issue untuk mendanai bisnis baru e-mobility as a service (e-MaaS) melalui anak usaha PT Sarana Ekomobilitas Indonesia (SEI), yang memungkinkan penyewaan bus dan truk listrik dengan biaya operasional berkala bagi pelanggan.

Jason menyebut model sewa ini dapat mempercepat adopsi kendaraan listrik dan membentuk sumber pendapatan berulang yang lebih stabil dibandingkan penjualan kendaraan langsung.

"Model sewa berpotensi mempercepat adopsi kendaraan listrik sekaligus membentuk sumber pendapatan berulang yang lebih stabil dibandingkan hanya mengandalkan penjualan kendaraan secara langsung," ujar Jason.

VKTR sebelumnya bernama PT Bakrie Steel Industries dan bertransformasi ke bisnis mobilitas listrik sejak Maret 2022. Perusahaan memiliki pengalaman manufaktur lebih dari 50 tahun dan memasok komponen otomotif ke sejumlah merek kendaraan komersial.

VKTR mengembangkan lini bus dan truk listrik dengan kemitraan bersama produsen dari China dan telah mengoperasikan armada bus listrik yang menempuh total jarak 17 juta kilometer dengan lebih dari 10 juta penumpang, sekaligus menghemat emisi karbon sekitar 15 ribu ton.

Perusahaan juga membangun fasilitas perakitan completely knocked down (CKD) bus listrik di Magelang, yang diklaim sebagai pabrik perakitan bus listrik CKD pertama di Indonesia.

Transisi armada TransJakarta ke bus listrik menjadi sumber permintaan utama. Pemerintah menargetkan 50% armada terelektrifikasi pada 2027 dan seluruh armada pada 2030, dengan tender bus listrik tahun ini diproyeksikan mencapai 300 unit.

VKTR berpotensi mendapatkan 90-100 unit bus dari tender dengan pangsa pasar sekitar 25-30% karena memenuhi tingkat komponen dalam negeri minimum 40%.

Meski memiliki katalis pertumbuhan, VKTR menghadapi tantangan profitabilitas. Perusahaan mencatat rugi bersih karena beban pembiayaan tinggi dan margin operasional turun drastis.

"Margin operasional juga turun dari level di atas 5% beberapa tahun lalu menjadi di bawah 1%. Kondisi tersebut mencerminkan pertumbuhan biaya operasional yang lebih cepat dibandingkan skala pendapatan," ujar Jason.

Permintaan truk listrik juga menurun akibat perlambatan industri dan hambatan infrastruktur pengisian daya serta kekhawatiran jangkauan baterai.

VKTR masih mengandalkan pinjaman jangka panjang dari pihak terkait Grup Bakrie untuk ekspansi, sehingga keberhasilan pendanaan Danantara dan rights issue sangat penting untuk fleksibilitas keuangan perusahaan.

Katalis utama VKTR meliputi penandatanganan dokumen definitif dengan Danantara, hasil tender bus listrik TransJakarta 2026, realisasi rights issue e-MaaS, serta perbaikan margin operasional. Risiko utamanya adalah kegagalan negosiasi, tekanan margin dari pembiayaan tinggi, pelemahan permintaan truk listrik, dan ketergantungan pendanaan afiliasi Grup Bakrie.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed