Bisnis Sewa Wajah Berbasis AI di China Picu Masalah Kasus Pencurian Biometric

Smallest Font
Largest Font

Maraknya industri drama pendek atau microdrama berbasis kecerdasan buatan (AI) di China kini melahirkan tren ekonomi baru berupa lisensi wajah. Seperti dilaporkan Detik iNET dari Rest of World, masyarakat awam saat ini dapat menyewakan foto wajah mereka kepada perusahaan AI untuk dijadikan karakter digital tanpa perlu datang ke lokasi syuting.

Sistem ini mengubah identitas visual manusia menjadi aset digital yang dapat diperjualbelikan. Sejumlah platform seperti ActID di Shenzhen dan New Claw di Chengdu memfasilitasi pengguna untuk mengunggah foto serta memberikan izin penggunaan kemiripan wajah mereka.

Produser konten dapat memilih karakter berdasarkan kriteria tertentu seperti usia, jenis kelamin, dan bentuk wajah. AI kemudian menganimasikan foto tersebut hingga mampu bergerak, berbicara, serta memerankan berbagai karakter dalam video.

Skema tarif lisensi wajah ini berkisar antara 99 hingga 500 yuan, atau sekitar Rp260 ribu hingga Rp1,3 juta, bergantung pada kesepakatan penggunaan.

"Baik aktor maupun model memilih melisensikan wajah mereka di platform kami atau tidak, AI sudah mengganggu industri ini," kata Long Lyu, kepala operasional New Claw.

Menurut Lyu, sistem tersebut memberikan peluang bagi masyarakat awam untuk memperoleh pendapatan tambahan dari identitas digital tanpa harus meninggalkan profesi utama mereka.

Penggunaan AI memangkas berbagai proses produksi konvensional seperti casting, syuting, hingga pengambilan gambar ulang. Hal ini sangat menguntungkan industri microdrama China yang membutuhkan pasokan konten secara masif.

Data China Netcasting Services Association mencatat sebanyak 128 ribu microdrama dirilis pada periode Januari hingga Maret 2026. Lebih dari 95 persen di antaranya memanfaatkan teknologi AI dalam proses pembuatannya.

Di balik peluang ekonominya, tren ini menyimpan ancaman serius terkait perlindungan data pribadi. Sejumlah warga China menemukan wajah mereka digunakan dalam tayangan drama AI tanpa pernah memberikan persetujuan.

Guangzhou Internet Court bahkan telah menangani sekitar 700 kasus pencurian wajah berbasis AI dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Para ahli mengingatkan bahwa wajah merupakan bagian dari data biometrik yang memiliki risiko keamanan tinggi jika tersebar luas.

Berbeda dengan kata sandi akun yang dapat diperbarui saat diretas, data biometrik wajah manusia tidak dapat diubah. Pemanfaatan AI generatif juga memungkinkan satu foto diolah menjadi puluhan hingga ratusan variasi karakter digital, sehingga pemilik asli makin sulit mengawasi penggunaan identitas mereka.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed