BEI Rebalancing Indeks Kompas100 Mulai 3 Agustus 2026

Smallest Font
Largest Font

Bursa Efek Indonesia merombak keanggotaan Indeks Kompas100 yang mulai berlaku pada 3 Agustus 2026 dengan memasukkan sembilan emiten baru dan mengeluarkan sembilan saham lainnya berdasarkan evaluasi likuiditas serta kapitalisasi pasar.

Sembilan emiten yang resmi menjadi konstituen baru mencakup BFIN, BIPI, BNBR, COIN, EMAS, GGRM, LSIP, MINA, dan RMKE. Sementara itu, sembilan saham yang tersingkir dari indeks ini adalah BREN, BTPS, DSSA, FILM, HMSP, INTP, MTEL, SIDO, dan TCPI.

PJS Kepala Divisi Riset Bursa Efek Indonesia Heidy Ruswita Sari menjelaskan bahwa mekanisme rebalancing untuk indeks utama seperti Kompas100, LQ45, IDX80, hingga IDX30 tidak hanya melihat dari aspek kinerja fundamental semata. Penilaian juga melibatkan indikator likuiditas, kapitalisasi pasar berbasis free float, frekuensi transaksi, serta jumlah hari perdagangan selama periode evaluasi satu tahun.

Metodologi seleksi indeks tersebut telah diperbarui oleh pihak otoritas bursa pada April 2026, termasuk dengan menerapkan kriteria High Shareholding Concentration sebagai bentuk syarat pengecualian. BEI mengedepankan transparansi publikasi berkala dan mendorong para emiten menjaga kepatuhan agar tetap memenuhi kriteria indeks acuan.

Merujuk pada hasil evaluasi tersebut,Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi memberikan analisisnya terkait prospek deretan saham yang baru masuk dalam indeks acuan hasil kerja sama dengan Kompas Gramedia Group tersebut.

"Bukan cuma fundamental," kata Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas.

Wafi menilai saham EMAS menjadi yang paling menonjol dari segi kualitas lantaran sudah mencatatkan pencatatan ganda di Hong Kong Exchange and Clearing Limited, didukung peningkatan produksi Tambang Pani serta diversifikasi nikel sebagai lindung nilai alami.

"Genuine quality addition ke indeks," ungkap Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas.

Untuk sektor komoditas dan industri pendukung, Wafi melihat saham LSIP diuntungkan oleh kebijakan mandatory biodiesel B50 dengan dukungan tata kelola dari Grup Wilmar. Di sisi lain, saham BFIN dinilai relevan sebagai aset defensif sektor keuangan meski investor diingatkan untuk mencermati proses konsolidasi dengan ARTO.

"Lebih cyclical daripada structural, durability keanggotaan bergantung sustainabilitas harga komoditas," ungkap Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas.

Pernyataan tersebut merujuk pada saham BIPI dan RMKE yang pergerakan likuiditasnya terdorong kenaikan harga minyak dan batubara. Sementara itu, saham GGRM masuk saat valuasi terkompresi meski menghadapi tantangan penurunan volume penjualan rokok secara struktural.

Wafi menambahkan bahwa saham BNBR cenderung lebih spekulatif karena didominasi pergerakan investor ritel. Adapun untuk saham MINA dan COIN, masuknya kedua emiten tersebut lebih dipicu oleh faktor ceruk pasar yang spesifik dengan peningkatkan likuiditas transaksi.

"Terakhir, belum cukup track record fundamental untuk mengambil posisi (conviction position)," ucap Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed