Bank Permata Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5,26 Persen Tahun 2026
Bank Permata memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 5,26 persen pada 2026 setelah mengalami perlambatan pada triwulan II-2026. Perlambatan ini disebabkan oleh normalisasi konsumsi rumah tangga setelah lonjakan belanja selama Ramadan dan Idulfitri pada triwulan sebelumnya, dilansir dari Investor Daily.
Secara tahunan, pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2026 tercatat sebesar 5,29 persen, menurun dari 5,61 persen pada triwulan I-2026. Konsumsi rumah tangga juga melambat menjadi 5,06 persen, turun dari 5,52 persen pada kuartal sebelumnya.
Kepala Departemen Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan Bank Permata, Faisal Rachman, mengatakan, "Akibatnya, pertumbuhan konsumsi rumah tangga melambat menjadi 5,06% yoy dari 5,52% yoy pada kuartal sebelumnya." Meski demikian, konsumsi rumah tangga masih didukung oleh musim libur sekolah, program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta ekspansi ekonomi digital.
Faisal juga menjelaskan bahwa ekspor neto menjadi faktor yang menahan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) karena ketidakpastian global dan lemahnya permintaan eksternal. Sementara itu, impor tetap tinggi karena permintaan domestik kuat dan stimulus pemerintah yang berlanjut.
Konsumsi pemerintah tumbuh dua digit sebesar 15,97 persen pada triwulan II-2026, didukung oleh penyaluran gaji ke-13 bagi aparatur sipil negara (ASN) serta keberlanjutan program MBG.
"Belanja pemerintah tetap berperan penting dalam menjaga momentum pertumbuhan di tengah tekanan dari sektor eksternal," ujar Faisal.
Investasi yang tercermin dari pembentukan modal tetap bruto (PMTB) meningkat menjadi 6,87 persen, lebih tinggi dibandingkan 5,96 persen pada kuartal I-2026. Penguatan investasi didorong oleh peningkatan investasi kendaraan terkait program MBG dan inisiatif Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Sektor pengadaan listrik dan gas mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 10,81 persen, didukung penjualan listrik kepada rumah tangga dan pelaku usaha. Sektor penyediaan akomodasi serta makanan dan minuman tumbuh 10,60 persen, sementara sektor informasi dan komunikasi meningkat 6,97 persen seiring perkembangan ekonomi digital.
Industri pengolahan melambat menjadi 4,52 persen, namun manufaktur tetap menjadi kontributor utama dengan sumbangan 0,90 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi.
Secara kumulatif pada semester I-2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,45 persen, lebih tinggi dari 4,99 persen pada periode sama tahun sebelumnya. Bank Permata memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan melambat secara bertahap pada kuartal III dan IV-2026 karena ketidakpastian global dan potensi melemahnya kontribusi sektor eksternal.
Meski begitu, permintaan domestik diprediksi tetap menjadi motor utama pertumbuhan dengan dukungan kebijakan fiskal dan program pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi.
"Pertumbuhan dapat mendekati batas atas kisaran proyeksi apabila tekanan eksternal mereda dan reformasi struktural menunjukkan kemajuan yang lebih kuat sehingga pertumbuhan yang didorong kebijakan fiskal mampu menarik investasi swasta," tutup Faisal.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow