Bakti Indonesia 2026 Gelar Edukasi TBC dan Donor Darah di Semarang

Smallest Font
Largest Font

Gerakan Bakti Indonesia merespons persoalan kesehatan masyarakat melalui edukasi pengobatan tuberkulosis (TBC), donor darah, serta panduan pengukuran tekanan darah akurat pada 6–8 Agustus 2026 di Kelenteng Agung Sam Poo Kong, Semarang, Jawa Tengah, dilansir dari Investor Daily.

Penggagas Bakti Indonesia dari gerakan Bakti Nusantara, Mulia Jayaputri, MPA, Psikolog, menyampaikan misi sosial di balik penyelenggaraan kegiatan tahunan yang telah memasuki perhelatan tahun keempat tersebut.

"Indonesia dipersatukan oleh kesediaan untuk terus merawat perbedaan. Bakti Indonesia hadir bukan sekadar sebagai kegiatan sosial tahunan, tetapi ikhtiar menjaga janji kebangsaan bahwa penderitaan manusia selalu layak ditolong tanpa memandang latar belakang. Pada perhelatan tahun keempat, gerakan ini menggelar bakti sosial donor darah dan seminar edukasi penyakit menular TBC," kata Mulia Jayaputri, MPA, Psikolog.

Indonesia saat ini menempati urutan kedua di dunia untuk beban kasus TBC tertinggi. Diperkirakan ada 1.080.000 kasus baru dan 125.000 kematian setiap tahunnya, yang setara dengan 14 kematian per jam.

Dokter spesialis paru dari RS Telogorejo Semarang, dr Martha Ratnawati Bumiwana Sp.P, menekankan bahwa batuk lebih dari dua minggu yang tidak membaik dengan obat biasa perlu dicurigai sebagai TBC, terutama jika disertai demam, letih, serta penurunan nafsu makan dan berat badan.

"Batuk yang patut dicurigai sebagai TBC adalah batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu dan tidak kunjung membaik meski telah diobati dengan obat batuk atau antibiotik biasa, yang umumnya disertai demam, tubuh mudah lelah, penurunan nafsu makan, dan penurunan berat badan secara drastic," jelas dr Martha Ratnawati Bumiwana Sp.P.

Mekanisme penularan bakteri Mycobacterium tuberculosis terjadi melalui udara dari pasien TBC paru aktif, dengan masa inkubasi sekitar 1,5 hingga 2 bulan.

"Penularan TBC utama terjadi melalui udara dari pasien TB Paru aktif. Namun, kuman Mycobacterium tuberculosis memiliki karakteristik unik di mana kuman tidak langsung menimbulkan sakit dalam hitungan hari, melainkan membutuhkan jeda masa inkubasi sekitar 1,5 hingga 2 bulan," jelas dr Martha Ratnawati Bumiwana Sp.P.

Ia menuturkan hanya sebagian kecil orang yang terpapar kuman yang akan langsung mengalami sakit TBC aktif secara medis.

"Bahkan dari seluruh orang yang terpapar kuman TBC, hanya sekitar 5% yang berkembang menjadi sakit TBC aktif, sementara sisanya berada dalam kondisi dormant (tertidur) di dalam tubuh selama berpuluh-puluh tahun tanpa menunjukkan gejala," ujar dr Martha Ratnawati Bumiwana Sp.P.

Durasi pengobatan TBC Paru membutuhkan waktu minimal 6 bulan, sedangkan TBC Kelenjar memakan waktu 9 hingga 12 bulan. Kepatuhan pasien meminum obat hingga tuntas menjadi faktor penentu kesembuhan total dan pencegahan kekebalan obat.

"Pengobatan TB Paru memerlukan waktu minimal 6 bulan dengan evaluasi klinis dan rontgen yang berkala. Sementara untuk TB Kelenjar, masa pengobatannya jauh lebih lama, yaitu 9 hingga 12 bulan. Karena evaluasi fisik pada TB Kelenjar cukup sulit setelah benjolan dioperasi, kunci utama kesembuhan total dan pencegahan kekebalan obat adalah kepatuhan pasien dalam menyelesaikan seluruh paket pengobatan tanpa terputus," ungkap dr Martha Ratnawati Bumiwana Sp.P.

Penanganan medis lain yang disorot adalah pemenuhan stok darah bagi penderita kanker, thalasemia, hingga gagal ginjal. Dokter spesialis patologi klinik RSUP dr. Kariadi, dr Like Rahayu Nindhita, Sp.PK, menjelaskan kriteria pendonor meliputi usia 17–60 tahun, berat badan minimal 45 kg, kadar hemoglobin 12,5–17 g/dL, serta tekanan darah yang stabil.

Selain donor darah, dr Like turut membagikan panduan teknis mengukur tekanan darah untuk deteksi dini hipertensi. Pasien diminta istirahat duduk rileks selama 5 menit, mengosongkan kandung kemih, dan menghindari kopi, rokok, serta olahraga berat 30 menit sebelum tes.

"Lengan baju harus digulung agar manset tensimeter menempel langsung pada kulit, bukan di atas kain. Posisikan lengan sejajar dengan jantung, dan pastikan duduk bersandar dengan kaki menapak rata di lantai tanpa menyilangkannya. Untuk mendapatkan angka yang paling andal (reliable), terutama saat skrining awal, lakukan pengukuran sebanyak tiga kali dengan jeda 1–2 menit, lalu ambil nilai rata-ratanya," terang dr Like Rahayu Nindhita, Sp.PK.

Sebanyak 5.000 warga diperkirakan menerima manfaat langsung dari perhelatan ini. Ratusan tenaga medis diturunkan untuk memberikan pemeriksaan rekam jantung, darah, mata, gigi, tes laboratorium, hingga konsultasi psikologi dari Universitas Jayabaya dan Universitas Padjadjaran.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed