AstraPay Dorong Digitalisasi Finansial Masyarakat dan Pelaku UMKM
Layanan pembayaran digital kini semakin menyatu dengan aktivitas masyarakat sehari-hari. Dompet digital terus berkembang menjadi bagian dari ekosistem keuangan yang menawarkan kemudahan, efisiensi, serta pengalaman bertransaksi yang praktis.
Seperti dilansir dari Investor Daily, platform AstraPay hadir sebagai solusi transaksi digital terintegrasi. Pengguna dapat memanfaatkan platform ini untuk membayar tagihan rutin, asuransi, hingga cicilan kendaraan di dalam jaringan bisnis Astra.
"Sejak pertama kali AstraPay diluncurkan, saya sudah menjadi pengguna. Kebetulan saya juga sudah lama menggunakan berbagai produk Astra, mulai dari kendaraan hingga layanan asuransi kendaraan," ujar salah satu pengguna setia, Heru Baskoro (46).
Selain kemudahan transaksi, program promo dan potongan harga di merchant menjadi daya tarik tersendiri. Fitur tambahan seperti layanan investasi juga mulai dihadirkan untuk memperluas jangkauan layanan keuangan digital.
"Bagi saya, Astra adalah one stop financial solution. Kehadiran AstraPay semakin melengkapi ekosistem tersebut karena berbagai transaksi keuangan bisa dilakukan dalam satu aplikasi," kata Heru.
"Saya bisa membayar berbagai tagihan melalui AstraPay, mulai dari listrik, telepon, pembayaran asuransi, hingga cicilan kendaraan. Semua menjadi lebih mudah dan praktis," ujarnya.
"Saya paling suka fitur pembayarannya karena banyak diskon yang ditawarkan, terutama di merchant food and beverage di mal. Jadi selain praktis, ada nilai tambah yang saya dapatkan sebagai pengguna," katanya.
"Ada fitur investasi juga di aplikasi, tetapi saat ini saya belum menggunakannya. Mungkin ke depan saya akan mencoba fitur itu," tuturnya.
Transformasi ini sejalan dengan pesatnya pertumbuhan transaksi digital nasional. Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital pada triwulan I 2026 mencapai 14,82 miliar transaksi, tumbuh 37,69 persen secara tahunan.
Motor utama pertumbuhan tersebut adalah Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang melonjak 116,43 persen pada triwulan I 2026. Tren positif ini berlanjut hingga pertengahan tahun di berbagai sektor.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan bahwa pada Mei 2026, volume transaksi pembayaran digital mencapai 5,22 miliar transaksi, meningkat 28,14 persen dibandingkan Mei 2025. Transaksi mobile banking juga tumbuh 26,16 persen.
Infrastruktur sistem pembayaran nasional terus diperkuat melalui BI-FAST. Hingga Mei 2026, layanan real time ini telah memproses 518 juta transaksi dengan nilai mencapai Rp1.265 triliun, atau meningkat 31,63 persen.
AstraPay kini juga bergerak menjadi solusi keuangan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Integrasi sistem pembayaran digital ini bertujuan mempercepat inklusi keuangan dan daya saing usaha kecil.
Namun, tantangan besar masih dihadapi terkait pemahaman literasi keuangan. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, tingkat literasi keuangan Indonesia berada di angka 66,64 persen, sedangkan inklusi keuangan mencapai 92,74 persen.
Keterbatasan pemahaman fitur dompet digital diakui oleh salah satu pelaku usaha kuliner Yurimart, Sri Mujiyanti (30). Selama ini, platform digital yang digunakannya baru sebatas untuk menerima pembayaran konsumen.
"Saya periksa jumlah transaksi setiap hari. Namun sebatas memeriksa uang masuk dari pembayaran konsumen saja," ungkapnya.
"Untuk kebutuhan belanja bahan baku. Untuk fitur lain saya kurang paham," ungkapnya.
"Kalau pemilik platform atau aplikasi mengadakan pelatihan, saya mau ikut asal gratis," sebutnya.
Chief Executive Officer AstraPay, Rina Apriana mengatakan, Astrapay ingin terus berkontribusi terhadap percepatan digitalisasi keuangan, terutama bagi UMKM agar semakin mudah menjalankan usaha.
"Fokus kami salah satunya berpartner dengan UMKM, sehingga meningkatkan transaksi digital payment di UMKM. Karena itu kami mendorong digital payment ini kepada UMKM," tegas Rina.
Saat ini AstraPay tercatat memiliki 17,5 juta pengguna dengan lebih dari 300 juta transaksi yang nilainya mencapai sekitar Rp150 triliun. Catatan transaksi digital ini diharapkan membantu pelaku usaha mengevaluasi perkembangan bisnis mereka.
Managing Partner Inventure, Yuswohady, menilai Astra memiliki fondasi bisnis riil yang kuat untuk mengoptimalkan perputaran transaksi di dalam ekosistemnya sendiri melalui kehadiran platform digital ini.
"Kalau kita berbicara Astra, bisnisnya nyata dan basis konsumennya sudah sangat besar. Agar transaksi yang sudah berputar dari konsumen itu bisa terus dimanfaatkan, pembayaran dilakukan di dalam ekosistem sendiri. Kalau sebelumnya menggunakan layanan bank atau pihak lain, sekarang bisa dilakukan melalui ekosistem Astra," ujarnya.
"Kalau konsumen sudah berada di dalam ekosistem Astra, uangnya tidak lari ke mana-mana. Semua transaksi bisa dilakukan di dalam jaringan bisnis Astra sendiri," katanya.
"Bagi customer tentu lebih praktis. Cukup menggunakan satu aplikasi untuk berbagai kebutuhan. Semua layanan sudah tersedia sehingga memberikan kenyamanan," jelas Yuswohady.
"Ekosistem Astrapay tidak hanya mengumpulkan konsumen, tetapi juga UMKM. Jadi aplikasinya tidak hanya melayani customer, melainkan juga pelaku usaha," ujarnya.
"Grup-grup besar seperti Astra sekarang mulai merangkai seluruh basis konsumennya melalui satu ekosistem digital. Kalau semuanya sudah disatukan, maka peluang cross selling akan jauh lebih besar karena semua layanan saling terhubung," katanya.
"Ke depan tidak hanya ada konsumen, tetapi juga UMKM dan sektor komersial. Kalau semuanya tergabung dalam satu ekosistem, maka seluruh rantai transaksi akan saling tersambung. Di situlah nilai tambah terbesar dari sebuah platform digital," tutupnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow