Pengelola Mal dan Polda Metro Jaya Tegaskan Pemagaran Demi Ketertiban
Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), pengelola mal Pakuwon Group, dan Polda Metro Jaya menegaskan bahwa pemasangan pagar besi tinggi di sejumlah pusat perbelanjaan di Jakarta dan Surabaya bertujuan untuk menertibkan arus pengunjung serta menjaga keamanan operasional pada Jumat (31/7/2026).
Langkah ini diambil guna mengantisipasi kesemrawutan lalu lintas dan bukan dipicu oleh isu kerusuhan atau perlambatan ekonomi seperti yang ramai dispekulasikan di media sosial belakangan ini.
Sejumlah pusat perbelanjaan yang memasang pagar di antaranya Mal Kota Kasablanka (Kokas) di Jakarta Selatan, serta Pakuwon Mall, Tunjungan Plaza, Royal Plaza, dan Pakuwon City Mall di Surabaya.
Ketua Umum APPBI Alphonzus Widjaja memberikan klarifikasi mengenai fungsi utama pembatas fisik tersebut bagi manajemen fasilitas.
"Sebetulnya kan tujuan utamanya adalah untuk supaya lebih menertibkan gitu loh, arus keluar masuk pengunjung. Kalau terbuka itu kan pengunjung bisa masuk dari mana saja, bisa keluar dari mana saja begitu. Sehingga itu kan membahayakan lalu lintas sekitar," ujar Alphonzus di kantor Kementerian Perdagangan, Kamis (30/7/2026).
Ia menambahkan bahwa kebijakan memagari area luar bukan hal baru dan kerap diterapkan di mal pusat kota yang dekat dengan jalur unjuk rasa.
"Jadi saya kira itu juga sekalian untuk bisa memberikan satu, apa ya, batas pengamanan lah begitu terhadap demonstrasi-demonstrasi yang suka berlangsung begitu ya," pungkas Alphonzus.
Dalam keterangan terpisah pada Jumat (31/7/2026), Alphonzus kembali memperjelas fungsi perimeter tersebut demi kepentingan publik.
"Jika sekarang ada beberapa pusat perbelanjaan yang baru mulai memasang pagar adalah lebih dikarenakan untuk kepentingan ketertiban saja," kata Alphonzus saat dihubungi di Jakarta.
Dirinya menerangkan pengelola membutuhkan batas wilayah yang jelas terutama saat terjadi penyampaian pendapat di ruang publik.
"Ada juga pusat perbelanjaan yang berlokasi di mana sering dilintasi ataupun berdekatan dengan lokasi demonstrasi yang mana juga pengelola memerlukan batas ataupun perimeter yang jelas untuk kepentingan ketertiban," ucap Alphonzus.
Pernyataan ini sekaligus membantah keterkaitan langkah pengamanan dengan kondisi finansial nasional.
"Tidak demikian," katanya menanggapi isu dampak perlambatan ekonomi.
Pihak asosiasi menilai alur pergerakan masyarakat yang terpusat akan meminimalkan risiko kecelakaan di sekitar area bisnis.
“Tujuan utamanya supaya lebih menertibkan arus keluar-masuk pengunjung. Kalau terbuka, pengunjung bisa masuk dan keluar dari mana saja sehingga membahayakan lalu lintas sekitar,” ujar Alphonzus dikutip harian.disway.id.
Penataan perimeter ini disebutnya sebagai perlindungan wajib bagi kenyamanan konsumen dan penyewa toko.
“Beberapa pusat perbelanjaan berada dekat pusat kegiatan demonstrasi. Jadi pagar itu sekaligus memberikan batas pengamanan terhadap demonstrasi yang berlangsung,” kata Alphonzus.
Sementara itu, Direktur Marketing Pakuwon Group dan Direktur PT Pakuwon Jati Tbk, Sutandi Purnomosidi, menyatakan kebijakan ini diambil menyusul luasnya akses luar pusat perbelanjaan mereka.
"Sebenarnya gini, awalnya kita berpikir itu (mal dipagari) karena apa? Itu kan Pakuwon Mall itu terbukanya kan lebar sekali. Satu setengah kilometer itu buka," ujar Sutandi dalam unggahan video di akun Instagram miliknya yang dikutip kompas.com.
Akses tanpa batas tersebut dinilai membahayakan bagi para pejalan kaki yang menyeberang sembarangan.
"Nah, sekarang kalau semua orang nyebrang, masuk sembarangan, ini kan bahaya buat mereka sendiri, penyebrang. Awalnya (ide mal dipagari) di sana," ungkap Sutandi.
Ia menepis anggapan netizen bahwa pemagaran merupakan bentuk kepanikan manajemen terhadap stabilitas keamanan masa depan.
"Terus sebetulnya ada beberapa hal yang saya mau highlight. Satu, yang jelas Pakuwon itu bukan peramal. Kita nggak tau mau terjadi apa.
Ekonomi baik-baik saja. Baik-baik saja. Kita mau takut apa?
Kita memang hidup di Indonesia," ujar Sutandi.
Lebih lanjut, ia memaparkan beberapa struktur pagar dipasang untuk meremajakan fasilitas lama yang telah rusak.
"Yang kedua ya, Mal Pakuwon yang dipagar itu sudah banyak. Contohnya Royal Plaza pagarnya itu dari 2006, sudah 20 tahun Royal Plaza berdiri," ucap Sutandi.
Kerusakan akibat cuaca menjadi alasan utama penggantian material besi pembatas di beberapa titik mal Surabaya.
"Nah pagarnya itu cuma pakai besi holo (besi hollow) hitam. Itu kalau 20 tahun karena hujan karena panas, karat dan kropos, (sudah) 20 tahun bisa nih (kita ganti pagarnya)," tambahnya.
Sutandi mencontohkan Blok M Plaza di Jakarta sebagai model awal dari penerapan arsitektur pengamanan perimeter ini.
"Nah terus sebelumnya kita juga blok M Plaza di Jakarta, itu sudah pageran keliling. Justru prototipnya pager Pakuwon Mall itu nyontoh Blok M Plaza. Nah ini yang menjadi identitas kita semua sekarang," ungkap Sutandi.
Variasi material seperti penggunaan kaca juga disesuaikan demi menjaga estetika luar gedung komersial tersebut.
"Contoh lagi TP (Tunjangan Plaza), TP4, TP5 itu sudah ada pagar. Pagar kaca. Lah bahaya loh, rawan pecah itu.
Ada keragaman kaca sekarang. PCM ini (jenis material kaca Phase Change Material)," ungkap Sutandi.
Respons mengenai situasi keamanan regional juga disampaikan oleh pihak kepolisian setempat.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Budi Hermanto menjelaskan situasi kamtibmas di Jakarta masih aman dan belum ada laporan rencana mobilisasi massa.
“Terkait tentang pagar, dalam situasi kamtibmas sampai saat ini Polda Metro Jaya masih belum menerima surat pemberitahuan terkait aksi yang ada,” kata Budi dilansir dari viva.co.id, Jumat (31/7/2026).
Penelusuran siber tetap berjalan guna memverifikasi kebenaran pamflet ajakan aksi unjuk rasa yang beredar di internet.
"Kami akan melihat flyer-flyer ataupun ajakan-ajakan, ini hanya sekadar lempar flyer atau memang akan ada gelombang aksi,” ujarnya.
Pihak kepolisian memastikan koordinasi antar-lembaga terus diperkuat demi mempertahankan stabilitas wilayah hukum ibu kota.
"Perlu kami sampaikan bahwa situasi sampai saat ini masih bisa dikendalikan. Ini berkat kerja sama Polda Metro Jaya dengan Kodam Jaya,” katanya.
Budi menambahkan bahwa penegakan hukum secara terukur akan diterapkan beriringan dengan peningkatan patroli rutin di wilayah-wilayah penyangga Jakarta.
“Apabila ada kelompok-kelompok yang mencoba membuat kerusuhan, membuat situasi tidak nyaman dan aman di wilayah hukum Polda Metro Jaya termasuk wilayah-wilayah penyangga, akan dilakukan tindakan tepat, tegas, dan terukur,” tuturnya.
Langkah preventif kepolisian diperkuat dengan pembentukan tim Preventive Strike oleh Kapolda Metro Jaya Komisaris Jenderal Polisi Asep Edi Suheri.
“Langkah-langkah mitigasi juga sudah dilakukan. Begitu juga upaya peningkatan patroli, baik skala kecil, sedang maupun besar di wilayah-wilayah penyangga,” katanya lagi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow