Pendahuluan

Ekonom ramai membicarakan “Bank Indonesia telah kehilangan independensi”.
Bukan itu sebenarnya inti masalahnya, melainkan pertanyaan ini:
apakah jangkar kebijakan moneter kita sedang ditarik ke arah kepentingan jangka pendek,
ketika angin politik dan kebutuhan fiskal sedang kencang?

Masalahnya dapat diuraikan secara sederhana.
Pertama, pasar hanya percaya pada mata uang yang dikawal lembaga yang dipercaya.
Kedua, independensi bank sentral bukan hak istimewa teknokrat, melainkan prasyarat stabilitas.
Ketiga, ketika muncul sinyal intervensi atau tekanan politik, respons pasar biasanya lebih cepat daripada respons pemerintah.

Kita melihat contoh kecilnya minggu ini: rupiah sempat melemah tajam setelah munculnya nama
Thomas Djiwandono, figur yang dipersepsikan dekat lingkar kekuasaan, untuk posisi Deputi Gubernur BI.
Pasar membaca ini sebagai potensi pelemahan independensi, dan rupiah bergerak ke sekitar Rp16.945 per dolar AS.

Gagasan utama saya sederhana: independensi Bank Indonesia harus dipertahankan sebagai pagar kebakaran.
Ketika pagar itu dilubangi, yang masuk bukan hanya api inflasi, tetapi juga asap ketidakpastian
yang membuat nilai tukar batuk-batuk, biaya utang naik, dan investasi menepi.



Independensi sebagai Jangkar Kepercayaan

Independensi bank sentral itu seperti jangkar kapal di laut bergelombang.
Pemerintah adalah nakhoda yang menentukan tujuan—pertumbuhan, pemerataan, lapangan kerja.
Bank sentral adalah jangkar yang mencegah kapal terseret arus emosi pasar dan godaan populisme ekonomi.

Tanpa jangkar, kapal mungkin melaju kencang sebentar, tetapi justru rawan terombang-ambing saat badai.
Bukti global konsisten menunjukkan bahwa semakin independen bank sentral, semakin rendah inflasi jangka panjang,
terutama di negara berkembang yang institusinya mudah diganggu kepentingan harian.

Inflasi Indonesia Desember 2025 tercatat 2,92 persen secara tahunan.
Angka ini terkendali, dan justru itulah poinnya: stabilitas seperti ini bukan untuk dipertaruhkan
demi sensasi pertumbuhan cepat.



Jika Kemudi Ditahan Politik: Inflasi, Rupiah, dan Stabilitas Keuangan

Apa yang dipertaruhkan ketika bank sentral berada di bawah tekanan politik?
Bayangkan rem pada mobil. Rem bukan musuh kecepatan, melainkan syarat agar mobil melaju aman.

Tekanan politik biasanya datang dalam bentuk dorongan suku bunga rendah,
pembelian surat utang untuk menutup defisit, atau perluasan mandat nonmoneter.
Risikonya jelas: inflasi naik, rupiah tertekan, dan stabilitas keuangan terganggu.

Episode pelemahan rupiah menunjukkan bahwa pasar membaca sinyal kelembagaan,
bukan hanya angka fundamental.



Kredibilitas Kebijakan Moneter Itu Mata Uang

Investor tidak hanya membeli aset Indonesia, mereka membeli cerita tentang Indonesia.
Cerita itu harus konsisten.

Keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di 4,75 persen pada RDG Januari 2026
dibaca sebagai sinyal kehati-hatian.
Namun tanpa independensi, keputusan yang sama bisa ditafsirkan sebagai kompromi politik.



Sejauh Mana Benteng BI di Indonesia Hari Ini?

Secara desain, Indonesia telah belajar dari krisis.
Namun benteng institusi bukan hanya tembok hukum, melainkan juga kultur politik.

Sekali pasar mencium bahwa kursi dewan gubernur menjadi arena tarik-menarik kekuasaan,
premi risiko naik dan rupiah lebih mudah goyah.



Independen Tetapi Tetap Akuntabel

Independensi bukan berarti kebal kritik.
Independensi yang sehat justru menuntut akuntabilitas publik yang kuat,
melalui transparansi dan komunikasi kebijakan.

Koordinasi dengan pemerintah penting, tetapi koordinasi bukan subordinasi.
Meminta bank sentral menanggung beban politik fiskal hari ini
berarti membayar mahal lewat depresiasi besok.



Menutup Palagan: Menjaga Jangkar, Menjaga Republik

Kepercayaan adalah infrastruktur.
Ia dibangun puluhan tahun dan bisa runtuh dalam hitungan hari.

Menjaga independensi Bank Indonesia bukan agenda teknokrat,
melainkan agenda ketahanan ekonomi nasional.

Oleh:
Achmad Nur Hidayat
Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik
UPN Veteran Jakarta