JAKARTA, investor.id – Pengamat Ekonomi dari UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat kepada Investor Daily, Rabu (01/05/2024). mengatakan, tantangan utama dalam sektor perdagangan meliputi isu global seperti perang, lingkungan, dan krisis energi. Kestabilan ekonomi global yang fluktuatif serta peningkatan persaingan pasar internasional juga harus menjadi perhatian.
Untuk meningkatkan kinerja perdagangan, Achmad menyarankan agar pemerintah memfokuskan pada UMKM dan pasar rakyat sebagai tulang punggung ekonomi, serta melanjutkan inisiatif pengendalian inflasi dan stabilisasi harga komoditas pokok untuk menjaga daya beli masyarakat.
Diketahui, pemerintah berkomitmen untuk terus menjaga momentum pemulihan sektor industri nasional dengan mengarahkan pembangunan sektor industri ke pada 3 prinsip, yaitu industri yang mandiri dan berdaulat, industri yang maju dan berdaya saing, serta industri yang berkeadilan dan inklusif
Lebih lanjut Achmad mengatakan, terjadi peningkatan signifikan dalam nilai perdagangan yang mencapai US$ 439 miliar pada periode Januari-November 2023. Hal ini menandai kenaikan 24% dibandingkan tahun 2014.
“Peningkatan ini tercermin dari berbagai kebijakan dan strategi yang diterapkan untuk mendorong perdagangan,termasuk fokus pada stabilitas harga komoditas, namun inflasi dalam 2 tahun terakhir menunjukan tren yang tidak stabil dan cenderung naik,” kata CEO Narasi Institute itu.
Berdasarkan data BPS terakhir neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2024 mencatatkan surplus sebesar US$4,47 miliar, melonjak dari surplus pada bulan sebelumnya yang sebesar US$0,87 miliar.
“Namun ke depan, tren ini tidak sustain bahkan secara nominal neraca perdagangan dihantui tren menurun. Hal ini harus disikapi dengan waspada, karena berdampak luas terhadap nilai tukar dan cadangan devisa,” katanya.
Komoditas yang menonjol di era Jokowi mencakup produk non migas seperti bahan mineral seperti nikel, Batu bara, di mana keduanya sempat menjadi komoditas andalan Indonesia, namun akhir-akhir ini bahan mineral mengalami situasi merosot 24,35%
“Hal ini perlu menjadi pemikiran serius soal keberlanjutan ekspor Indonesia. Sebab ekspor andalan yang lain mengalami penurunan akibat ketegangan geopolitik,” tegasnya.
Komoditas dengan penurunan terdalam dibanding Januari 2024 terjadi pada besi dan baja yang sebesar US$622,5 juta (27,08%). Sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada bijih logam, terak, dan abu US$223,5 juta (34,0%).
Sumber: investor.id


