Dalam program Zoominari yang diselenggarakan oleh Narasi Institute tanggal 6/10/2023 dengan topik “Pelemahan Ekonomi dan Penurunan Daya Beli”, M. Rizal Taufikurahman memberikan pandangannya mengenai isu-isu yang sedang hangat diperbincangkan terkait pangan dan ketahanan pangan di Indonesia.

M. Rizal Taufikurahman mengawali paparannya dengan menyatakan betapa menariknya situasi saat ini, di mana di tengah kondisi El Nino yang mempengaruhi pangan, terjadi perubahan kepemimpinan di sektor pertanian. Beliau mengutip, “ini menarik di tengah El nino pangan lagi butuh dirijennya menterinya tiba-tiba menterinya di ditersangkakan padahal beliau sedang konsern ke Eropa untuk mencari solusi terkait dengan pangan.” Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai siapa yang seharusnya memiliki otoritas dalam mengambil keputusan strategis di sektor pertanian.

Dalam konteks kepemimpinan, stabilitas dan konsistensi menjadi kunci dalam menghadapi isu-isu strategis seperti ketahanan pangan. Dengan adanya perubahan atau ketidakpastian dalam kepemimpinan, bisa jadi terjadi kevakuman dalam pengambilan keputusan yang strategis. Hal ini tentunya dapat berdampak pada efektivitas program dan kebijakan yang sedang berjalan, terutama di saat negara membutuhkan solusi cepat dan tepat untuk mengatasi krisis.

Selain itu, kepemimpinan yang kuat dan visioner di sektor pertanian sangat dibutuhkan untuk memastikan bahwa Indonesia mampu menghadapi tantangan-tantangan di masa depan, baik dari sisi produksi, distribusi, maupun konsumsi pangan. Dengan adanya perubahan kepemimpinan, harapannya adalah agar pemimpin baru dapat segera menyesuaikan diri dan melanjutkan program-program strategis dengan lebih baik, serta mampu memberikan solusi inovatif untuk meningkatkan ketahanan pangan di Indonesia.

Mencari Solusi untuk Krisis Pangan

Menurut Rizal, solusi yang paling mendesak saat ini adalah mencari cara untuk mengatasi krisis pangan. Beliau menekankan bahwa diversifikasi pangan mungkin sudah terlambat dilakukan mengingat harga sudah naik. Beliau menyatakan, “Jangan solusi ke mana-mana, jadi ada statement harus diversifikasi saat ini terlambatlah harga sudah naik diversifikasi percuma aja.” Rizal menyarankan agar pemerintah segera melakukan operasi pasar, terutama di wilayah-wilayah yang mengalami inflasi tinggi.

Diversifikasi pangan menjadi salah satu solusi yang sering diajukan. Namun, di tengah kenaikan harga yang signifikan, diversifikasi mungkin bukanlah jawaban yang paling efektif dalam jangka pendek. Diversifikasi memang penting, tetapi memerlukan waktu yang tidak sebentar untuk mengubah perilaku konsumsi masyarakat. Oleh karena itu, solusi jangka pendek yang efektif diperlukan untuk menstabilkan harga dan memastikan ketersediaan pangan.

Krisis pangan yang dihadapi saat ini memerlukan solusi yang komprehensif dan segera. M. Rizal Taufikurahman menekankan pentingnya mencari solusi yang tepat sasaran dan tidak bersifat sporadis. Beliau mengatakan, “yang paling penting adalah jadi berkaitan dengan pangan saat ini memang mestinya segera dicari solusi. Jangan solusi ke mana-mana.” Ini menunjukkan betapa pentingnya memiliki strategi yang jelas dan terarah dalam menangani krisis pangan.

Salah satu langkah strategis yang bisa diambil adalah melalui Operasi Pasar. Pemerintah dapat melakukan intervensi langsung di pasar untuk menstabilkan harga, terutama di wilayah-wilayah yang mengalami inflasi tinggi atau memiliki respon yang besar terhadap kenaikan harga beras.

Selain itu, pemerintah juga perlu memastikan bahwa para pemain besar di industri pangan tidak memanfaatkan situasi ini untuk keuntungan pribadi, mengingat dampak signifikan dari sektor pangan terhadap perekonomian nasional. Dengan pendekatan yang terstruktur dan terkoordinasi, diharapkan krisis pangan dapat segera teratasi dan ketahanan pangan nasional dapat ditingkatkan.

Ancaman “Rent seeker” dan Bisnis Pangan

Dalam dunia bisnis, terutama di sektor pangan, fenomena “Rent Seeker” atau yang dikenal dengan “Pemburu Rente” menjadi salah satu ancaman yang dapat mengganggu stabilitas harga dan pasokan. Rent seeker adalah individu atau kelompok yang mencari keuntungan ekonomi dengan memanfaatkan kontrol atas sumber daya yang ada, bukan melalui inovasi atau kontribusi produktif.

Rizal juga mengingatkan tentang potensi adanya “Rent seeker” atau pemburu rente di sektor pangan. Beliau berpendapat bahwa kondisi saat ini tidak seharusnya dijadikan peluang bisnis oleh sekelompok orang. Mengutip pernyataannya, “Jangan dijadikan kondisi ini sebagai “Rent seeker (Pemburu Rente)” untuk bisnis itu saya kira sangat berbahaya.” Rizal menekankan pentingnya pemerintah untuk antisipatif terhadap para pemain besar di sektor pangan.

Dalam konteks pangan, praktek rent seeking bisa berupa manipulasi harga, pemusatan pasokan, atau pengendalian distribusi, yang pada akhirnya dapat merugikan konsumen dan petani kecil. Di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu dan produksi pangan yang sedang turun, keberadaan “player” atau pelaku bisnis yang menerapkan praktek rent seeking bisa memperparah krisis pangan. Taufikurahman menegaskan, “uangnya juga cukup signifikan di pangan itu”, mengindikasikan betapa besarnya potensi keuntungan yang bisa diperoleh, sekaligus risiko yang bisa ditimbulkan oleh para rent seeker di sektor ini.

Untuk mengatasi ancaman ini, diperlukan pengawasan ketat dan regulasi yang jelas dari pemerintah. Transparansi dalam rantai pasokan pangan, pemberdayaan petani kecil, serta kerjasama antara pemerintah, pelaku bisnis, dan masyarakat menjadi kunci dalam menjaga stabilitas sektor pangan dan mencegah praktek rent seeking yang merugikan.

Kesejahteraan Petani

Sebagai penutup, Rizal menekankan pentingnya meningkatkan kesejahteraan petani, terutama di saat-saat seperti ini. Kesejahteraan petani merupakan salah satu aspek krusial dalam menjaga ketahanan pangan suatu negara. Rizal menekankan pentingnya memberikan perhatian khusus kepada petani, terutama di tengah fluktuasi harga dan tantangan lain yang dihadapi sektor pertanian.

Menurutnya, saat inilah waktu yang tepat bagi petani untuk mendapatkan harga terbaik dari hasil panennya. Beliau berpendapat, “kalau ingin kita menghadirkan petani ini jauh lebih baik kesejahteraannya saat inilah sebenarnya mestinya petani bisa menikmati harga terbaiknya.”

Namun, realitas yang terjadi seringkali jauh dari harapan, dengan banyaknya petani yang masih hidup di bawah garis kemiskinan.

Salah satu solusi yang diajukan oleh Taufikurahman adalah dengan memastikan transmisi harga yang efektif. Dalam konteks ini, transmisi harga merujuk pada mekanisme penyesuaian harga komoditas pertanian dari level petani hingga konsumen.

Dengan transmisi harga yang baik, petani dapat memperoleh porsi yang adil dari harga jual produknya di pasar. Misalnya, di saat panen raya, pemerintah dapat memberikan keleluasaan kepada petani untuk menjual beras atau gabah mereka dengan harga yang kompetitif, sehingga mereka dapat merasakan manfaat langsung dari hasil kerja keras mereka.

Selain itu, pemberdayaan petani melalui pendidikan, pelatihan, dan akses ke teknologi pertanian modern juga dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen.

Dengan demikian, petani tidak hanya dapat meningkatkan pendapatannya, tetapi juga memberikan kontribusi positif terhadap ketahanan pangan nasional. Sebagai penutup, Taufikurahman mengingatkan bahwa kesejahteraan petani adalah kunci untuk mengurangi kemiskinan di desa dan menciptakan masyarakat yang lebih sejahtera dan berkelanjutan.