UPH Festival 2026 Ajak Mahasiswa Baru Pahami Panggilan Hidup
Universitas Pelita Harapan menggelar hari kedua UPH Festival 2026 pada 14 Agustus 2026 di Karawaci untuk mengajak mahasiswa baru memandang pendidikan dan profesi sebagai bagian dari panggilan hidup. Berdasarkan laporan Detikcom, kegiatan berorientasi pada integrasi iman, ilmu, dan pelayanan sesama ini mengusung tema Imago Dei: Created by God, Restored in Christ, Called to Transform.
Landasan perspektif tersebut dibuka oleh Pendeta Jimmy Pardede selaku Gembala Sidang Gereja Reformed Injili Indonesia Karawaci. Ia menekankan bahwa aktivitas pendidikan, pekerjaan, serta kehidupan sehari-hari merupakan bagian integral dari panggilan Tuhan yang perlu dijalankan menggunakan talenta setiap individu.
Penerapan nilai tersebut kemudian dibahas dalam konteks pelayanan kesehatan bersama Caroline Riady, CEO Siloam Hospitals Group. Melalui sesi bertajuk Medicine, Suffering & Human Dignity, ia memaparkan kerangka Wawasan Dunia Kristen Reformed yang memandang kesehatan melalui alur ciptaan, kejatuhan, penebusan, hingga pemulihan sempurna.
"Setiap manusia memiliki martabat yang berasal dari Allah. Sakit, disabilitas, maupun kelemahan tidak menghapus nilai seseorang. Karena itu, kita dipanggil untuk memperlakukan setiap pasien sebagai pribadi yang layak dikasihi, dihormati, dan dilayani dengan belas kasih serta kebenaran. Kesembuhan memang penting, tetapi harapan terbesar kita tetap ada di dalam Kristus yang memulihkan," ujar Caroline dalam keterangan tertulis, (18/8,2026).
Tantangan perkembangan teknologi turut diulas oleh Executive Dean College of Emerging Sciences UPH, Rizaldi Sistiabudi. Ia mengingatkan mahasiswa agar pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI tidak mengikis kemampuan berpikir kritis maupun persekutuan dengan Tuhan.
"AI adalah teknologi yang sangat canggih, tetapi jangan sampai kreasi dan critical thinking kita hilang. Jangan apa-apa bertanya kepada AI atau langsung copy-paste tanpa membaca dan memahaminya. Kita harus ingat kodrat kita sebagai Imago Dei dan jangan sampai teknologi justru menjadi berhala yang membuat kita bergantung dan lupa bagaimana cara berpikir dan belajar.
Kalian bisa saja minta script doa dari ChatGPT, tetapi itu bukan dari hati kalian yang berdoa. Jangan sampai karena teknologi, kita justru kehilangan hubungan dan persekutuan dengan Tuhan," tutur Rizaldi.
Aspek keadilan dan hukum dijelaskan oleh Executive Dean College of Arts and Social Sciences sekaligus Dekan Fakultas Hukum UPH, Velliana Tanaya. Ia menegaskan bahwa hak dan martabat manusia tidak didasarkan pada kekayaan atau status sosial, melainkan keberadaan manusia sebagai ciptaan Allah.
"Ketika Tuhan mempercayakan kuasa dan kebebasan kepada kita, bagaimana kita menggunakannya? Kuasa tanpa tanggung jawab akan melahirkan ketidakadilan. Karena itu, gunakan kuasa yang Tuhan percayakan bukan untuk mengeksploitasi, tetapi untuk melayani, melindungi, dan memuliakan Tuhan," jelas Velliana.
Velliana menambahkan bahwa tanggung jawab moral tersebut harus diwujudkan dalam tindakan nyata sehari-hari di lingkungan akademis maupun profesional.
"Hidup berintegritas sesederhana dengan tidak menyontek, menghindari plagiarisme, menepati janji, dan berkomitmen untuk selalu menyatakan kebenaran. Kelak ketika kalian memiliki gelar, pengetahuan, dan posisi yang memberikan kuasa untuk mengambil keputusan, mahasiswa diharapkan menggunakan semua itu untuk melayani, melindungi, dan membawa kebaikan bersama (common good), bukan mengeksploitasi," tambahnya.
Perspektif mengenai sains dipaparkan oleh Senior Pastor Christ Chapel Karawaci, Yohanes Halim. Ia mengajak mahasiswa bersikap rendah hati serta membedakan antara sains sebagai sarana memahami alam semesta dan scientism yang membatasi kebenaran hanya pada hal ilmiah.
"Science bisa melakukan banyak hal, tetapi science tidak bisa menyelamatkan kita," ujar Yohanes.
Sesi pengelolaan bisnis dipandu oleh Executive Dean College of Business and Technology UPH, Gracia Shinta S. Ugut. Ia mendorong mahasiswa menjadikan bisnis sebagai sarana menciptakan nilai tambah dan menyelesaikan permasalahan masyarakat.
"Uang itu bukan sesuatu yang jahat. Kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, sehingga ketika kita membangun bisnis, kita bisa menciptakan value, menyelesaikan masalah, menciptakan kesejahteraan, dan memperbaiki komunitas. Yang menjadi masalah adalah ketika uang menjadi idol, ketika keserakahan membuat uang menjadi hal yang paling utama dalam hidup kita," pungkas Gracia.
Rangkaian pembekalan dalam UPH Festival 2026 ini dirancang sebagai proses pembentukan calon pemimpin masa depan yang berintegritas, takut akan Tuhan, serta memberi dampak positif bagi masyarakat.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow