— PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) mencatat pergeseran struktur bisnis yang signifikan. Perusahaan tidak lagi bergantung semata pada pendapatan menara; segmen non-menara seperti konektivitas dan Fiber-to-the-Tower (FTTT) mulai menjadi penggerak utama pendapatan.

Transformasi ini sudah tercermin pada kinerja kuartal I-2026. Pertumbuhan di lini non-menara berhasil meredam penurunan pendapatan bisnis menara sehingga kinerja keseluruhan tetap positif.

Kinerja Kuartal I-2026

Pada Januari–Maret 2026, pendapatan dari sektor konektivitas tumbuh 44,4% year-on-year menjadi Rp502 miliar. Pendapatan FTTT naik 3,7% yoy menjadi Rp569 miliar, sementara pos lain-lain melonjak lebih dari 100% menjadi Rp269 miliar.

Sebaliknya, pendapatan bisnis menara terkoreksi 4,1% yoy menjadi Rp2,1 triliun akibat konsolidasi operator telekomunikasi. Meski demikian, EBITDA perusahaan tetap meningkat 3,8% yoy menjadi Rp2,7 triliun, dan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp941 miliar, naik 17,2% yoy.

Penurunan biaya keuangan sebesar 26,2% yoy turut menopang lonjakan laba. Return on Investment (ROI) dilaporkan stabil di 8,0% dan Return on Equity (ROE) berada pada 13,7% pasca rights issue.

Peran Infrastruktur Digital

TOWR melaporkan aset serat optik sepanjang 237.837 km dengan pendapatan yang tumbuh 8,7% yoy per Maret 2026 dan rasio utilisasi 1,89x. Ekspansi FTTH mencapai 1.828.600 home passes dengan 289.785 sambungan rumah, naik 58,6% yoy dan penetrasi 15,8%.

Aktivasi konektivitas tercatat 26.742, meningkat 51,5% yoy. Aset menara bertambah 1.066 unit yoy menjadi 36.572 menara, dan jumlah penyewa naik 2.698 yoy menjadi 60.743 dengan rasio penyewaan 1,66x, tersebar 53% di Jawa dan 47% di luar Jawa.

“Kinerja kuat dari segmen non-menara tersebut berhasil menutupi penurunan pendapatan bisnis menara,” kata Edo Ardiansyah, Equity Analyst, yang mencatat kontribusi segmen non-menara mencapai 42% dari total pendapatan kuartal I-2026, naik dari 33% pada kuartal I-2025.

Edo juga menyebut pertumbuhan pendapatan non-menara mencapai CAGR 35,5% selama lima tahun terakhir.

Penilaian dan Target Harga

Philip Sekuritas Indonesia merekomendasikan beli untuk saham TOWR dengan target harga Rp580 per saham. Dibandingkan harga penutupan Rp372 pada perdagangan Jumat, target ini menawarkan potensi kenaikan sekitar 56%.

Target harga tersebut mencerminkan perkiraan valuasi FY26F sebesar 7,1x P/E, 1,0x PBV, dan 6,2x EV/EBITDA. Estimasi ini mempertimbangkan kemungkinan re-rating seiring transisi perseroan menjadi platform infrastruktur digital terintegrasi.

Risiko yang Perlu Diwaspadai

Edo menyoroti beberapa risiko bagi prospek TOWR, antara lain porsi utang yang 64,3% menggunakan suku bunga mengambang, sehingga profitabilitas menjadi sensitif terhadap kenaikan suku bunga BI dan pelemahan rupiah yang dapat menaikkan biaya hedging.

Risiko lain mencakup persaingan yang ketat di antara tiga pemain utama yang menekan harga sewa menara, adopsi FTTH yang lebih lambat dari perkiraan, serta potensi penundaan pelaksanaan dan monetisasi proyek pusat data dan energi terbarukan.

Ekspansi Ke Energi Terbarukan dan Pusat Data

Pada RUPSLB 20 Mei 2026, pemegang saham menyetujui perluasan aktivitas anak usaha Protelindo dan iForte ke sektor energi terbarukan, pusat data, dan layanan nirkabel. iForte menargetkan kapasitas awal pusat data hingga 10 MW IT load, sementara Protelindo berencana memasang pembangkit listrik tenaga surya di situs menara.

Edo mengutip proyeksi program senilai Rp2,07 triliun yang memiliki NPV positif Rp1,33 triliun (WACC 9,0%, rata-rata ROI 8,6%). Program ini diproyeksikan berkontribusi hingga 26% dari pendapatan konsolidasi 2025 selama periode 2026–2035 dengan rata-rata margin bersih sebesar 37%.