S&P Pertahankan Peringkat Utang Indonesia pada Level BBB

Smallest Font
Largest Font

Lembaga pemeringkat internasional Standard and Poor (S&P) Global Ratings resmi mempertahankan Sovereign Credit Rating Republik Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek dengan outlook stabil pada Senin (13/7/2026).

Dilansir dari Investor Daily, keputusan tersebut mendapat respons positif dari Pemerintah karena dipandang sebagai bukti ketahanan fundamental ekonomi nasional di tengah gejolak geopolitik serta ketatnya kondisi keuangan global. S&P memproyeksikan ekonomi Indonesia akan tumbuh riil sebesar 5,1% pada 2026 dan mencatat rata-rata 4,9% untuk periode 2026–2029.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa afirmasi ini menjadi penanda bahwa Indonesia tetap berada dalam kategori investment grade serta mencerminkan arah kebijakan pemerintah yang berjalan di jalur yang tepat.

"Afirmasi peringkat oleh S&P pada level BBB dengan outlook stabil merupakan pengakuan atas konsistensi dan kredibilitas kebijakan ekonomi pemerintah,” ungkap Airlangga di Jakarta, pada Senin (13/7/2026).

Pemerintah berkomitmen untuk menjaga batas defisit anggaran di bawah 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) demi mempertahankan kelayakan kredit Indonesia. Berdasarkan data lima bulan pertama tahun 2026, penerimaan negara juga tumbuh sebesar 19% karena perbaikan administrasi perpajakan dan peningkatan setoran sektor sumber daya alam.

"Di tengah ketidakpastian global yang meningkat, Indonesia mampu menjaga pertumbuhan di kisaran 5%, mempertahankan disiplin fiskal dengan defisit di bawah 3% PDB, serta memperkuat tata kelola sektor sumber daya alam. Ini menjadi sinyal positif bagi investor bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap solid," kata Airlangga.

Langkah strategis ke depan akan difokuskan pemerintah pada penguatan kualitas implementasi kebijakan, hilirisasi ekonomi, serta pengelolaan devisa hasil ekspor demi mendorong peningkatan peringkat investasi ke tahap yang lebih tinggi.

"Konsistensi dan prediktabilitas kebijakan akan menjadi kunci untuk mendorong peringkat Indonesia naik ke level yang lebih tinggi," katanya.

Di sisi lain, penilaian dari S&P ini dinilai memberikan sentimen positif bagi stabilitas instrumen keuangan dalam negeri, khususnya pasar surat utang.

“Positif untuk pasar obligasi, karena mempertahankan status investment grade mengurangi risiko perubahan persepsi investasi investor global. Dampaknya terhadap rupiah dan pasar saham diperkirakan terbatas, karena perhatian investor masih tertuju pada capital flow (arus modal), tekanan sektor eksternal, dan konsistensi implementasi kebijakan domestik,” tutur Andry Asmoro, Kepala Ekonom Bank Mandiri.

Ia menambahkan bahwa indikator pergerakan rating Indonesia ke depan akan sangat bergantung pada pergerakan jangka pendek nilai tukar rupiah, posisi Credit Default Swap (CDS), arus portofolio asing, dan neraca berjalan.

“Namun dalam jangka pendek, arah rupiah, CDS (Credit Default Swap) Indonesia, foreign portfolio flow, dan current account akan menjadi indikator yang dapat menentukan pergerakan rating ke depan,” kata Andry.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed